Seberat Apakah Puasa Ramadhan di Tengah Pandemik Ini?
Sabtu, 18 April 2020 - 17:05 WIB
3. Kewajiban Berperang Jihad di Medan Pertempuran.
Perintah berperang di medan pertempuran merupakan perintah yang baru disyariatkan setelah Rasulullah dan para sahabat berhijrah ke Madinah dalam rangka mempertahankan Islam dari serangan kafir Quraisy yang ingin menghancurkan Islam.
Ini tentu persoalannya adalah soal hidup dan mati. Artinya, jika mereka menang mereka akan hidup, meski terkadang dengan segala risiko yang boleh jadi berakibat kecacatan fisik akibat peperangan tersebut. Jika mati sekalipun insya Allah dinilai sebagai seorang pejuang Syuhada, namun meninggalkan anak dan istrinya terpisah selama-lamanya. Perang pertama kali dalam Islam adalah perang Badar yang terjadi bertepatan dengan perintah syariat puasa, tepatnya pada tanggal 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijriyah.
Coba perhatikan ketiga aspek di atas. Para sahabat Nabi diperintahkan berpuasa di bulan yang biasa terjadinya puncak musim panas di tengah gurun yang sangat terik membakar. Ditambah ada sebagian iman mereka yang masih lemah dan harus melatih diri dalam aturan syariat Islam yang mengikat.
Pada saat yang sama juga mereka diwajibkan berperang mengangkat senjata ke medan pertempuran dengan jumlah pasukan serta persenjataan yang minim. Mereka harus berhadapan dengan musuh yang memiliki kekuatan dua kali lipat jumlah pasukan serta persenjataan yang jauh lebih lengkap.
Coba bayangkan, bagaimana beratnya berperang mengangkat senjata dalam keadaan lapar dan haus dahaga. Jika bersahur sekali pun pastilah seadanya, sebab mereka tengah di medan pertempuran dengan pasokan makanan yang serba terbatas. Berperang dalam keadaan lapar dan haus di tengah gumpalan debu gurun pasir bukanlah hal yang mudah, melainkan hanya atas dasar kekuatan iman saja.
Ya, hanya satu kekuatan keimanan saja, bukan yang lain. Mengapa saya tekankan pada persoalan tiga hal ini? Pesannya adalah bahwa Ramadhan yang kita hadapi saat pandemi ini bukanlah Ramadhan yang berat jika dibandingkan Ramadhan yang dialami para sahabat di masa Rasulullah SAW.
Mengapa kita membanding-bandingkankan puasa Ramadhan kali ini dengan masa Ramadhan di masa Rasulullah dan sahabatnya? Sebab, ada banyak orang yang berkeluh kesah dan menganggap Ramadhan kali ini di tengah pandemik wabah Covid-19 merupakan Ramadhan yang sulit.
Tidak! Ramadhan kita tidak akan pernah sesulit yang pernah dialami para generasi kita sebelumnya. Selanjutnya, dalam sejarah Islam, ada banyak peperangan yang dimenangkan pihak kaum muslimin dari setiap kekhalifahan Islam, dari setiap generasi terbaik Islam, pada setiap bulan Ramadhan dalam kurun peradaban sejarah Islam itu sendiri.
Jika pada masa sahabat, peperangan mereka adalah selain melawan hawa nafsu di tengah terik panas gurun pasir, mereka juga harus berperang mempertaruhkan hidup dan mati membela agama Allah. Mereka berjuang menegakkan kemuliaan kalimat Allah dan mereka juga berjuang dalam keadaan lapar dan haus.
Perintah berperang di medan pertempuran merupakan perintah yang baru disyariatkan setelah Rasulullah dan para sahabat berhijrah ke Madinah dalam rangka mempertahankan Islam dari serangan kafir Quraisy yang ingin menghancurkan Islam.
Ini tentu persoalannya adalah soal hidup dan mati. Artinya, jika mereka menang mereka akan hidup, meski terkadang dengan segala risiko yang boleh jadi berakibat kecacatan fisik akibat peperangan tersebut. Jika mati sekalipun insya Allah dinilai sebagai seorang pejuang Syuhada, namun meninggalkan anak dan istrinya terpisah selama-lamanya. Perang pertama kali dalam Islam adalah perang Badar yang terjadi bertepatan dengan perintah syariat puasa, tepatnya pada tanggal 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijriyah.
Coba perhatikan ketiga aspek di atas. Para sahabat Nabi diperintahkan berpuasa di bulan yang biasa terjadinya puncak musim panas di tengah gurun yang sangat terik membakar. Ditambah ada sebagian iman mereka yang masih lemah dan harus melatih diri dalam aturan syariat Islam yang mengikat.
Pada saat yang sama juga mereka diwajibkan berperang mengangkat senjata ke medan pertempuran dengan jumlah pasukan serta persenjataan yang minim. Mereka harus berhadapan dengan musuh yang memiliki kekuatan dua kali lipat jumlah pasukan serta persenjataan yang jauh lebih lengkap.
Coba bayangkan, bagaimana beratnya berperang mengangkat senjata dalam keadaan lapar dan haus dahaga. Jika bersahur sekali pun pastilah seadanya, sebab mereka tengah di medan pertempuran dengan pasokan makanan yang serba terbatas. Berperang dalam keadaan lapar dan haus di tengah gumpalan debu gurun pasir bukanlah hal yang mudah, melainkan hanya atas dasar kekuatan iman saja.
Ya, hanya satu kekuatan keimanan saja, bukan yang lain. Mengapa saya tekankan pada persoalan tiga hal ini? Pesannya adalah bahwa Ramadhan yang kita hadapi saat pandemi ini bukanlah Ramadhan yang berat jika dibandingkan Ramadhan yang dialami para sahabat di masa Rasulullah SAW.
Mengapa kita membanding-bandingkankan puasa Ramadhan kali ini dengan masa Ramadhan di masa Rasulullah dan sahabatnya? Sebab, ada banyak orang yang berkeluh kesah dan menganggap Ramadhan kali ini di tengah pandemik wabah Covid-19 merupakan Ramadhan yang sulit.
Tidak! Ramadhan kita tidak akan pernah sesulit yang pernah dialami para generasi kita sebelumnya. Selanjutnya, dalam sejarah Islam, ada banyak peperangan yang dimenangkan pihak kaum muslimin dari setiap kekhalifahan Islam, dari setiap generasi terbaik Islam, pada setiap bulan Ramadhan dalam kurun peradaban sejarah Islam itu sendiri.
Jika pada masa sahabat, peperangan mereka adalah selain melawan hawa nafsu di tengah terik panas gurun pasir, mereka juga harus berperang mempertaruhkan hidup dan mati membela agama Allah. Mereka berjuang menegakkan kemuliaan kalimat Allah dan mereka juga berjuang dalam keadaan lapar dan haus.
Lihat Juga :