Kisah Imam Abu Yazid Al-Busthami dan WC Umum
Selasa, 09 Juni 2020 - 20:15 WIB
Namun, untuk memasukinya saja orang harus membayarnya. Jika tidak memiliki uang, maka dia akan terusir dari penjaganya dan harus terhina seperti diriku ini. (Baca Juga: Cara Belajar Khusuk Abu Yazid Al-Busthami)
Bagaimana dengan surga -Mu yang sangat agung. Bagaimana mungkin kami bisa memasukinya secara cuma-cuma. Bagaimana mungkin kami bisa membayarnya tanpa memiliki ketaatan ibadah kepada-Mu?
Di tempat terhina di dunia sekalipun, bila kami tidak mampu membayarnya, maka kami akan terusir, bagaimana dengan tempat termulia yang Engkau janjikan bagi orang beriman, bila kami ingin memasukinya jika hanya dengan angan-angan?
Ya Allah, kami menginginkan surga-Mu, tapi kami lalai memperbanyak beribadah padamu. Kami menginginkan surga-Mu, tapi hati kami memalingkan pada kenikmatan duniawi semata. Kami menginginkan akhirat, sedangkan hati kami dipenuhi rasa cinta pada dunia."
Begitulah pembelajaran dari orang-orang sufi yang hatinya dipenuhi cinta pada akhirat. Mereka memandang kemewahan dunia ini tak berarti apa-apa dibandingkan kenikmatan di akhirat. Semewah-mewahnya dunia, dia tetaplah menjadi tempat yang menampung banyak kotoran di dalamnya.
Semoga hari-hari kita menjadi ladang amal untuk lebih mendekatkan diri kita kepada Allah Ta'ala. Jangan sampai kita dibuat lelah oleh dunia. Dunia sementara, akhirat kekal selamanya.(Baca Juga: Abu Yazid dan Seorang Muridnya )
Bagaimana dengan surga -Mu yang sangat agung. Bagaimana mungkin kami bisa memasukinya secara cuma-cuma. Bagaimana mungkin kami bisa membayarnya tanpa memiliki ketaatan ibadah kepada-Mu?
Di tempat terhina di dunia sekalipun, bila kami tidak mampu membayarnya, maka kami akan terusir, bagaimana dengan tempat termulia yang Engkau janjikan bagi orang beriman, bila kami ingin memasukinya jika hanya dengan angan-angan?
Ya Allah, kami menginginkan surga-Mu, tapi kami lalai memperbanyak beribadah padamu. Kami menginginkan surga-Mu, tapi hati kami memalingkan pada kenikmatan duniawi semata. Kami menginginkan akhirat, sedangkan hati kami dipenuhi rasa cinta pada dunia."
Begitulah pembelajaran dari orang-orang sufi yang hatinya dipenuhi cinta pada akhirat. Mereka memandang kemewahan dunia ini tak berarti apa-apa dibandingkan kenikmatan di akhirat. Semewah-mewahnya dunia, dia tetaplah menjadi tempat yang menampung banyak kotoran di dalamnya.
Semoga hari-hari kita menjadi ladang amal untuk lebih mendekatkan diri kita kepada Allah Ta'ala. Jangan sampai kita dibuat lelah oleh dunia. Dunia sementara, akhirat kekal selamanya.(Baca Juga: Abu Yazid dan Seorang Muridnya )
(rhs)
Lihat Juga :