Kisah Nabi Yusuf Jelaskan Ciri Agama yang Lurus

Selasa, 15 Maret 2022 - 15:59 WIB
Wajar jika Allah mengatur hidup kita karena Dialah yang memiliki kita dan semua kehidupan ini. Kepemilikan dan kemampuan manusia terbatas sehingga dia tidak berhak mengatur dan memerintah yang berlebihan. Namun jika ada manusia atau pemerintah yang ingin mengatur kehidupan masyarakat tanpa mengakui diri mereka sebagai tuhan atau pemilik kehidupan ini maka itu boleh-boleh saja apalagi semua itu demi pertimbangan kemashatan. "Taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya juga ulul amri kalian (pemimpin)."

3. Jangan mencampur adukkan iman kepada Allah dengan tuhan atau sejenisnya yang lain, yang berarti menyekutukan Allah. Yakin dengan Allah namun meyakini pula kekuatan yang ada pada tuhan yang diasumsinya. Dalam keyakinan Islam jelas, tidak ada tuhan lain yang bersama Allah apapun namanya.

4. Inilah ciri agama yang lurus. Tidak ada penyekutuan terhadap Allah. Tunduk dan patuh pada keputusan-Nya.

5. "Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." Seringkali Al-Qur'an mengategorikan "mayoritas manusia" berada dalam hal yang negatif. Seperti dalam ayat ini menjelaskan bahwa mayoritas itu tidak menunjukkan berada pada kebenaran, terkadang justru menujukkan pada kebatilan. Karenanya jangan terjebak pada kwantitasnya, tapi lihat hakikat dan kwalitasnya. Berbeda jika mayoritas ulama (jumhur ulama), seperti dijelaskan Rasululah: "Umatku tidak akan sepakat dalam kebohongan atau kebatilan". Maksudnya adalah para ulama. Maka jangan tinggalkan pendapat mayoritas ulama yang dikenal dengan Ahli Sunah wal Jama'ah.

6. Nabi Yusuf mengajarkan kepada kita bagaimana dakwah itu harus disampaikan dengan lembut, jelas, menenangkan serta meyakinkan. Bukan dengan menghujat, kasar dan subjektif.

Renungkan ayat dakwah ini yang artinya: "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya." (QS Ali Imraan [3]: 159).

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS An-Nahl [16]: 125)

Baca Juga: Begini Cara Nabi Yusuf Mengenalkan Allah kepada Penghuni Penjara

(rhs)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!