Hindari Memajang Gambar dan Patung Jasad Utuh, Ini Dalilnya

Senin, 24 Oktober 2022 - 10:13 WIB
(QS. Ghafir : 64)

Demikian juga patung. Para ulama sepakat bahwa hukum membuat patung, baik berbentuk manusia maupun hewan, adalah haram. Ulama juga sepakat tentang keharaman memperoleh (memiliki) dan memajangnya. Selain itu haram juga mejualbelikan dan memakan hasil penjualannya.

Ada keterangan yang menjelaskan tentang pelarangan, pengambilan gambar, dan ancaman kepada orang yang menggambar dan membuat patung.

Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallalahu 'Alaihi wa Sallam bersabda : "Orang yang menciptakan gambar-gambar ini, pada hari kiamat nanti pasti disiksa dan dimintai pertanggungjawaban, 'Hidupkanlah apa yang kalian ciptakan.'" (HR. Bukhari, Muslim, dan Nasa'i).

Jelas bahwa gambar atau lukisan serta patung yang memiliki ruh seperti manusia dan hewan haram dipajang maupun diperdagangkan. Lantas, bagaimana jika gambar atau lukisan tersebut terpotong tidak terlihat bernyawa atau gambar pemandangan?

Menurut para ulama, keharaman ini memang tidak bersifat mutlak. Para ulama berpendapat bahwa gambar atau patung dengan tidak utuh atau gambar benda dan pemandangan, maka diperbolehkan. Artinya, gambar selain itu yang tidak memiliki ruh, masih dibolehkan seperti gambar pohon, gunung, pemandangan, bebatuan, dan pantai.

Jika gambar atau patung diyakini tidak hidup jika sebagian badannya dihilangkan maka boleh. Tapi jika kaki atau tangan dihilangkan, kemungkinan masih hidup maka tetap dilarang. Ibnu Qudamah berkata, “Jika bagian kepala itu dipotong, maka hilanglah larangan."

Ibnu ‘Abbas berkata,

الصُّورَةُ الرَّأْسُ ، فَإِذَا قُطِعَ الرَّأْسُ فَلَيْسَ بِصُوْرَةٍ


“Disebut gambar (yang terlarang) adalah jika ada kepalanya. Namun jika kepalanya itu terpotong, maka itu bukanlah gambar (yang terlarang).”
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!