Idulfitri: Proses Penyucian Diri dalam Bentuk Kejernihan Berpikir
Jum'at, 21 April 2023 - 13:31 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Bacaan Takbiran Idulfitri Arab, Latin dan Terjemahan
Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin Caringin, Bogor ini menyatakan, puasa telah menepiskan kebinatangan, kesetanan, jubah-jubah yang membawa seseorang merasa menjadi wakil Tuhan, dan syahwat-syahwat yang jadi hambatan serta menghijab atau menghalangi fitrah dari hakikatnya.
“Makna sejati bagai bayi suci (thiflul ma'ani) segera lahir kembali dari kandungan Cahaya Muhammad, akal sejati, ruh, dan alqolam,” ucap Direktur Sufi Center Jakarta ini.
Menurut Kiai Luqman, mereka yang tak kembali ke fitri hanya meraih hebatnya kegelapan yang diyakini kebajikan. Mereka deklarasikan kemaslahatan yang sebenarnya justru khancuran.
Mereka seperti mayat hidup tanpa ruh yang mengerikan. Mereka mengaku penegak agama tapi tak lebih seperti dajjal kecil penjual agama. “Takbiri nafsumu, takbiri duniawimu, takbiri setanmu dan iblismu, takbir akhiratmu, takbiri segala hal selain Allah. Engkau sudah di hadapan-Nya,” tuturnya.
Penulis buku Jalan Ma’rifat ini mengatakan, kemana pun seseorang menghadap, di sanalah Wajah Allah. Sampai manusia tak memandang sebesar dzarrah pun kecuali ada Allah, di balik, sebelum, sesudah, di atasnya, maupun di bawahnya. “Maka siapa pun yang di dunia matahatinya buta, di akhirat lebih buta lagi,” jelasnya.
Baca juga: Idulfitri adalah Hari Perjamuan, Berpuasa Hukumnya Haram
Pesta fitrah berarti kemenangan melawan diri sendiri, setelah setahun akunya Iblis dan akunya Fir'aun menguasai ego manusia, dalam pengembangan SDM khayal imajiner: Aku bisa, aku kuat, aku hebat, aku berdaya, aku kuasa, aku lebih baik, dan berujung akulah Tuhanmu.
Seseorang yang kembali ke fitri ialah: bagai bayi di pangkuan ibunda tak bertanya, bagai bidadari suci dan perawan dari nafsani, bagai kertas putih biarkan Pena-Nya menulis, bagai kanvas biarkan Kuas-Nya melukis, bagai sunyi biarkan Kalam-Nya berbunyi, tak ada khayal dan imaji, tak ada hasrat dan cita. “Hanya Allah semata,” tandasnya.
Kembali Makan
Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin Caringin, Bogor ini menyatakan, puasa telah menepiskan kebinatangan, kesetanan, jubah-jubah yang membawa seseorang merasa menjadi wakil Tuhan, dan syahwat-syahwat yang jadi hambatan serta menghijab atau menghalangi fitrah dari hakikatnya.
“Makna sejati bagai bayi suci (thiflul ma'ani) segera lahir kembali dari kandungan Cahaya Muhammad, akal sejati, ruh, dan alqolam,” ucap Direktur Sufi Center Jakarta ini.
Menurut Kiai Luqman, mereka yang tak kembali ke fitri hanya meraih hebatnya kegelapan yang diyakini kebajikan. Mereka deklarasikan kemaslahatan yang sebenarnya justru khancuran.
Mereka seperti mayat hidup tanpa ruh yang mengerikan. Mereka mengaku penegak agama tapi tak lebih seperti dajjal kecil penjual agama. “Takbiri nafsumu, takbiri duniawimu, takbiri setanmu dan iblismu, takbir akhiratmu, takbiri segala hal selain Allah. Engkau sudah di hadapan-Nya,” tuturnya.
Penulis buku Jalan Ma’rifat ini mengatakan, kemana pun seseorang menghadap, di sanalah Wajah Allah. Sampai manusia tak memandang sebesar dzarrah pun kecuali ada Allah, di balik, sebelum, sesudah, di atasnya, maupun di bawahnya. “Maka siapa pun yang di dunia matahatinya buta, di akhirat lebih buta lagi,” jelasnya.
Baca juga: Idulfitri adalah Hari Perjamuan, Berpuasa Hukumnya Haram
Pesta fitrah berarti kemenangan melawan diri sendiri, setelah setahun akunya Iblis dan akunya Fir'aun menguasai ego manusia, dalam pengembangan SDM khayal imajiner: Aku bisa, aku kuat, aku hebat, aku berdaya, aku kuasa, aku lebih baik, dan berujung akulah Tuhanmu.
Seseorang yang kembali ke fitri ialah: bagai bayi di pangkuan ibunda tak bertanya, bagai bidadari suci dan perawan dari nafsani, bagai kertas putih biarkan Pena-Nya menulis, bagai kanvas biarkan Kuas-Nya melukis, bagai sunyi biarkan Kalam-Nya berbunyi, tak ada khayal dan imaji, tak ada hasrat dan cita. “Hanya Allah semata,” tandasnya.
Kembali Makan
Lihat Juga :