Apakah Azar Ayah Nabi Ibrahim? Begini Penjelasannya
Kamis, 10 Agustus 2023 - 09:41 WIB
loading...
A
A
A
Walaupun demikian, lanjutnya, putra-putra Ya'qub memanggilnya "ayah Ya'qub" yakni ab Ya'qub. Karena kata ini mengandung dua makna, maka pada ayat-ayat yang berhubungan dengan diajaknya Azar ke jalan yang benar oleh Ibrahim, boleh jadi yang dimaksud dengannya adalah "paman." Dan boleh jadi pula Ibrahim memanggilnya "ayah," karena ia telah bertindak sebagai wali baginya dalam waktu yang panjang, dan Ibrahim memandangnya sebagai ayahnya.
Baca juga: Kisah Nabi Ibrahim Mengajarkan Agama Tauhid
Selanjutnya Ja'far Subhani, menyodorkan dua ayat dalam Al-Qur'an untuk mendapatkan keputusan tentang hubungan Ibrahim dengan Azar.
1. Sebagai akibat usaha keras Nabi, Arabia disinari cahaya Islam. Kebanyakan rakyat memeluk agama ini dengan sepenuh hati, dan menyadari bahwa syirik dan pemujaan berhala akan berakhir di neraka. Walaupun mereka bahagia karena telah memasuki agama yang benar, mereka merasa sedih mengingat nenek moyang mereka yang penyembah berhala.
Mendengar ayat-ayat yang menggambarkan nasib kaum musyrik di Hari Pengadilan, terasa berat bagi mereka. Untuk menjauhkan siksaan mental ini, mereka memohon kepada Nabi untuk berdoa kepada Allah bagi keampunan nenek moyang mereka yang telah mati sebagai orang kafir, sama sebagaimana Ibrahim berdoa bagi Azar. Namun, ayat berikut diwahyukan sebagai jawaban atas permohonan mereka:
"Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang beriman memintakan ampun kepada Allah bagi orang musyrik, walaupun orang musyrik itu adalah kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.
Baca juga: Beda Ajaran Tauhid Nabi Ibrahim dan Nabi Sebelumnya
Ja'far Subhani menjelaskan permintaan ampun dari Ibrahim kepada Allah untuk ayahnya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada ayahnya itu. Tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa ayahnya itu adalah musuh Allah, Ibrahim pun berlepas diri darinya. "Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya bagi penyantun." ( QS at-Taubah , 9:113-114)
Akan tampak lebih masuk akal apabila percakapan Ibrahim dengan Azar, dan janjinya kepada Azar untuk mendoakan bagi keampunannya, yang berakhir dengan putusnya hubungan serta perpisahan mereka, terjadi ketika Ibrahim masih muda, yakni ketika ia masih tinggal di Babilon dan belum berniat ke Palestina, Mesir, dan Hijaz.
Setelah mengkaji ayat ini, Ja'far Subhani menyimpulkan bahwa Azar bersikeras pada kekafiran dan penyembahan berhalanya, dan Ibrahim, yang masih muda, memutuskan hubungannya dengan Azar dan tak pernah memikirkannya lagi sesudah itu.
Baca juga: Kisah Nabi Ibrahim Mengajarkan Agama Tauhid
Selanjutnya Ja'far Subhani, menyodorkan dua ayat dalam Al-Qur'an untuk mendapatkan keputusan tentang hubungan Ibrahim dengan Azar.
1. Sebagai akibat usaha keras Nabi, Arabia disinari cahaya Islam. Kebanyakan rakyat memeluk agama ini dengan sepenuh hati, dan menyadari bahwa syirik dan pemujaan berhala akan berakhir di neraka. Walaupun mereka bahagia karena telah memasuki agama yang benar, mereka merasa sedih mengingat nenek moyang mereka yang penyembah berhala.
Mendengar ayat-ayat yang menggambarkan nasib kaum musyrik di Hari Pengadilan, terasa berat bagi mereka. Untuk menjauhkan siksaan mental ini, mereka memohon kepada Nabi untuk berdoa kepada Allah bagi keampunan nenek moyang mereka yang telah mati sebagai orang kafir, sama sebagaimana Ibrahim berdoa bagi Azar. Namun, ayat berikut diwahyukan sebagai jawaban atas permohonan mereka:
"Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang beriman memintakan ampun kepada Allah bagi orang musyrik, walaupun orang musyrik itu adalah kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.
Baca juga: Beda Ajaran Tauhid Nabi Ibrahim dan Nabi Sebelumnya
Ja'far Subhani menjelaskan permintaan ampun dari Ibrahim kepada Allah untuk ayahnya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada ayahnya itu. Tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa ayahnya itu adalah musuh Allah, Ibrahim pun berlepas diri darinya. "Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya bagi penyantun." ( QS at-Taubah , 9:113-114)
Akan tampak lebih masuk akal apabila percakapan Ibrahim dengan Azar, dan janjinya kepada Azar untuk mendoakan bagi keampunannya, yang berakhir dengan putusnya hubungan serta perpisahan mereka, terjadi ketika Ibrahim masih muda, yakni ketika ia masih tinggal di Babilon dan belum berniat ke Palestina, Mesir, dan Hijaz.
Setelah mengkaji ayat ini, Ja'far Subhani menyimpulkan bahwa Azar bersikeras pada kekafiran dan penyembahan berhalanya, dan Ibrahim, yang masih muda, memutuskan hubungannya dengan Azar dan tak pernah memikirkannya lagi sesudah itu.
Lihat Juga :