Intelektualitas Al-Ghazali Berada di Tingkatan yang Sulit Dilampaui
Selasa, 04 Agustus 2020 - 16:49 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Allah Ta'ala Maha Indah: Lalu, Bagaimana Seni Menurut Al-Quran?
Ia telah mengembara di sepanjang wilayah Timur, untuk berziarah ke tempat-tempat suci dan mencari pencerahan serta kejelasan makna di dalam cara kaum sufi (kaum darwis), setiap kali ia memasuki sebuah masjid. Pada khotbahnya, sang Imam selalu mengakhiri ceramahnya dengan kata-kata, "Demikian Imam kita al-Ghazali mengatakan."
Sufi yang mengembara itu berkata kepada dirinya sendiri, "Duhai penguasaan diri, betapa nikmat kau dengar kata-kata itu. Sebelum kuceritakan kenikmatan ini berulangkali, aku telah meninggalkan tempat ini dengan segera, untuk pergi ke tempat yang tak ada seorang pun bicara tentang al-Ghazali."
Baca juga: Hati Adalah Raja, Amalan Hati Lebih Penting Ketimbang Amal Badan
Ahli teologi, yang telah menerima master di luar bidang-bidang keagamaan, tahu bahwa kesadaran tentang hal yang boleh jadi telah menjadi maksud dari istilah "Tuhan" adalah sesuatu yang hanya dapat diapresiasikan dengan makna-makna batin, bukan didapat melalui kerangka aneka keagamaan formal.
"Aku telah berkunjung ke Syria," katanya, "dan berdiam di sana selama dua tahun. Tak ada obyek lain kecuali mencari kesunyian, mengalahkan kepentingan diri, berjuang melawan nafsu, mencoba menjernihkan jiwa untuk menyempumakan watakku."
Idries Shah menjelaskan ia melakukan itu karena sufi tidak bisa masuk ke pemahaman kecuali hatinya telah siap "bermeditasi dengan Tuhan," sebagaimana dikatakannya.
Baca juga: Ini Salah Satu Kemaksiatan Hati yang Sangat Berbahaya
Periode saat itu hanya cukup memberikan kepadanya pancaran-pancaran sporadis pemenuhan spiritual (rasa awal) -- tingkatan yang dipertimbangkan oleh sebagian besar ajaran-ajaran mistik non-sufi untuk menjadi puncak, tetapi kenyataannya itu hanya merupakan langkah awal.
Hal itu menjelaskan kepadanya bahwa, "Para sufi itu bukan orang-orang yang hanya berbicara, melainkan berpersepsi batin."
"Aku telah mempelajari bahwa semua itu dapat dipelajari dengan membaca. Tetapi kelanjutannya tidak bisa diperoleh dengan studi atau bicara," ujarnya.
Walaupun telah dibingungkan oleh percobaan-percobaan ekstatiknya dalam memikirkan semuanya itu dan akhir dari semua penjelajahan mistik, al-Ghazali sadar bahwa "penyerapan Tuhan, sebagaimana disebut, yang telah dianggap menjadi tujuan sufi, kenyataannya hanyalah merupakan permulaan."
Ia telah mengembara di sepanjang wilayah Timur, untuk berziarah ke tempat-tempat suci dan mencari pencerahan serta kejelasan makna di dalam cara kaum sufi (kaum darwis), setiap kali ia memasuki sebuah masjid. Pada khotbahnya, sang Imam selalu mengakhiri ceramahnya dengan kata-kata, "Demikian Imam kita al-Ghazali mengatakan."
Sufi yang mengembara itu berkata kepada dirinya sendiri, "Duhai penguasaan diri, betapa nikmat kau dengar kata-kata itu. Sebelum kuceritakan kenikmatan ini berulangkali, aku telah meninggalkan tempat ini dengan segera, untuk pergi ke tempat yang tak ada seorang pun bicara tentang al-Ghazali."
Baca juga: Hati Adalah Raja, Amalan Hati Lebih Penting Ketimbang Amal Badan
Ahli teologi, yang telah menerima master di luar bidang-bidang keagamaan, tahu bahwa kesadaran tentang hal yang boleh jadi telah menjadi maksud dari istilah "Tuhan" adalah sesuatu yang hanya dapat diapresiasikan dengan makna-makna batin, bukan didapat melalui kerangka aneka keagamaan formal.
"Aku telah berkunjung ke Syria," katanya, "dan berdiam di sana selama dua tahun. Tak ada obyek lain kecuali mencari kesunyian, mengalahkan kepentingan diri, berjuang melawan nafsu, mencoba menjernihkan jiwa untuk menyempumakan watakku."
Idries Shah menjelaskan ia melakukan itu karena sufi tidak bisa masuk ke pemahaman kecuali hatinya telah siap "bermeditasi dengan Tuhan," sebagaimana dikatakannya.
Baca juga: Ini Salah Satu Kemaksiatan Hati yang Sangat Berbahaya
Periode saat itu hanya cukup memberikan kepadanya pancaran-pancaran sporadis pemenuhan spiritual (rasa awal) -- tingkatan yang dipertimbangkan oleh sebagian besar ajaran-ajaran mistik non-sufi untuk menjadi puncak, tetapi kenyataannya itu hanya merupakan langkah awal.
Hal itu menjelaskan kepadanya bahwa, "Para sufi itu bukan orang-orang yang hanya berbicara, melainkan berpersepsi batin."
"Aku telah mempelajari bahwa semua itu dapat dipelajari dengan membaca. Tetapi kelanjutannya tidak bisa diperoleh dengan studi atau bicara," ujarnya.
Walaupun telah dibingungkan oleh percobaan-percobaan ekstatiknya dalam memikirkan semuanya itu dan akhir dari semua penjelajahan mistik, al-Ghazali sadar bahwa "penyerapan Tuhan, sebagaimana disebut, yang telah dianggap menjadi tujuan sufi, kenyataannya hanyalah merupakan permulaan."
Lihat Juga :