Kisah Sumpah Umar Tidak Makan Daging atau Samin, Kulitnya Berubah Hitam
Minggu, 17 Desember 2023 - 08:30 WIB
loading...
A
A
A
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Al-Faruq Umar" yang diterjemahkan Ali Audah menjadi "Umar bin Khattab, Sebuah teladan mendalam tentang pertumbuhan Islam dan Kedaulatannya masa itu" (Pustaka Litera AntarNusa, 1987) mengatakan alangkah agung dan mulianya kebijakan itu!
Lebih agung lagi, ujar Haekal, jika datangnya dari orang yang ketika itu segala harta milik Kisra dan Kaisar sudah ada di tangannya, dan yang dengan itu pula Muslimin dapat menyaingi Persia, Romawi dan dunia seluruhnya.
Begitu juga harta kekayaan Irak dan Syam. Ketika itu Umar mampu menggunakan sekehendaknya segala kemewahan dan kenikmatan harta Persia dan Romawi itu. Tetapi ia melihat semua kenikmatan itu menyangkut kehidupan dunia, dan kemewahan dapat membuat orang sesat.
"Dia lebih agung dari semua itu demi mengharapkan akhirat dan keridaan Allah," ujar Haekal.
Ia melihat - sebagai Amirulmukminin - bahwa tidak mungkin ia dapat memperhatikan kehidupan rakyatnya jika dia sendiri tidak merasakan apa yang dirasakan oleh mereka yang hidup lebih miskin dan lebih sengsara.
Dia harus bertindak cepat untuk mengatasi kemiskinan dan kesengsaraan yang melanda negerinya.
Baca juga: Saat Paceklik dan Kekeringan, Umar bin Khattab Bertawasul kepada Paman Nabi SAW
Umar yang warna kulitnya putih kemerahan, pada masa paceklik atau Tahun Abu itu orang melihatnya sudah berubah menjadi hitam. Dulu ia menyantap samin, susu dan daging. Setelah bencana kekeringan menimpa wilayahnya, ia mengharamkan semua makanan itu untuk dirinya.
Ia hanya menyantap minyak zaitun, dan lebih sering mengalami kelaparan, sehingga banyak orang yang mengatakan setelah melihat apa yang menimpanya itu: Jika Allah tidak menolong kami dari Tahun Abu ini kami kira Umar akan mati dalam kesedihan memikirkan nasib Muslimin.
Haekal mengatakan dalam kenyataannya Umar memang sangat prihatin, dan demi kepentingan mereka ia sudah berusaha sekuat tenaga.
Lebih agung lagi, ujar Haekal, jika datangnya dari orang yang ketika itu segala harta milik Kisra dan Kaisar sudah ada di tangannya, dan yang dengan itu pula Muslimin dapat menyaingi Persia, Romawi dan dunia seluruhnya.
Begitu juga harta kekayaan Irak dan Syam. Ketika itu Umar mampu menggunakan sekehendaknya segala kemewahan dan kenikmatan harta Persia dan Romawi itu. Tetapi ia melihat semua kenikmatan itu menyangkut kehidupan dunia, dan kemewahan dapat membuat orang sesat.
"Dia lebih agung dari semua itu demi mengharapkan akhirat dan keridaan Allah," ujar Haekal.
Ia melihat - sebagai Amirulmukminin - bahwa tidak mungkin ia dapat memperhatikan kehidupan rakyatnya jika dia sendiri tidak merasakan apa yang dirasakan oleh mereka yang hidup lebih miskin dan lebih sengsara.
Dia harus bertindak cepat untuk mengatasi kemiskinan dan kesengsaraan yang melanda negerinya.
Baca juga: Saat Paceklik dan Kekeringan, Umar bin Khattab Bertawasul kepada Paman Nabi SAW
Umar yang warna kulitnya putih kemerahan, pada masa paceklik atau Tahun Abu itu orang melihatnya sudah berubah menjadi hitam. Dulu ia menyantap samin, susu dan daging. Setelah bencana kekeringan menimpa wilayahnya, ia mengharamkan semua makanan itu untuk dirinya.
Ia hanya menyantap minyak zaitun, dan lebih sering mengalami kelaparan, sehingga banyak orang yang mengatakan setelah melihat apa yang menimpanya itu: Jika Allah tidak menolong kami dari Tahun Abu ini kami kira Umar akan mati dalam kesedihan memikirkan nasib Muslimin.
Haekal mengatakan dalam kenyataannya Umar memang sangat prihatin, dan demi kepentingan mereka ia sudah berusaha sekuat tenaga.
Lihat Juga :