Pembebasan Irak: Kisah Orang-Orang Arab Nasrani yang Memilih Perang
Kamis, 18 Januari 2024 - 14:28 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Al-Musanna Pahlawan Asal Bahrain Pelopor Pembebasan Irak
Perkiraan Azadabeh tidak meleset. Khalid dan pasukannya memang menggunakan kapal-kapal Amgasyia dan terus bertolak ke utara ke jurusan Hirah.
Sementara mereka dalam pelayaran itu, tiba-tiba kapal oleng lalu kandas. Dengan oleng dan kandasnya kapal tersebut pasukan Muslimin terkejut sekali, dan Khalid pun marah. Ditanyakannya sebab-sebab kejadian itu kepada awak kapal. Mereka mengatakan bahwa atas perintah penguasa Hirah jembatan-jembatan itu dibendung dan aliran air dialihkan. Dengan demikian kapal-kapal itu tak akan dapat berlayar.
Khalid keluar dengan satu batalion pasukan berkudanya dan menuju ke tempat anak Azadabeh di mulut tebing. Ia dan anak buahnya disergap di tempat berlindungnya itu, dan air di sungai kembali mengalir.
Khalid dan pasukan berkudanya tetap mengawasi. Kapal-kapal itu kembali berlayar membawa semua pasukannya ke Khawarnaq. Di tempat ini mereka diturunkan untuk mengadakan persiapan memasuki Hirah.
Khalid di Istana Khawarnaq
Khalid pun menguasai Istana Khawarnaq dan Istana Najaf, keduanya adalah tempat musim panas para pembesar Hirah, sementara pasukannya sudah berkemah di depan tembok kota itu.
Baca juga: Pembebasan Irak: Kisah Strategi Khalid dalam Pertempuran di Walaja
Adapun Azadabeh sendiri sudah lari lebih dulu sebelum bertempur. Ia merasa sangat terpukul dengan apa yang telah menimpa anaknya dan dengan kematian Ardasyir.
Larinya Azadabeh itu tidak mengurangi pihak Hirah sendiri untuk mempertahankan keempat benteng kota dan tembok-temboknya dan mengadakan persiapan untuk mempertahankannya sedapat mungkin.
"Tetapi persiapan mereka sedikit pun tak ada artinya," ujar Haekal berkisah.
Istana Khawarnaq dan kota Hirah telah membangkitkan semangat pasukan berkuda Muslimin serta kenangan kepada Nu'man Agung putra Munzir dan Sinimmar dan apa yang telah terjadi dengan pembangunan istana yang menjulang tinggi serta puisi-puisi mengenai itu.
Semua ini menambah kekuatan dan semangat mereka. Betapapun besarnya kekuatan musuh dan segala persiapannya, bagi Jenderal jenius ini, Khalid Saifullah, Khalid Saiful Islam ternyata tak ada artinya.
Dengan kepiawaian dan keperkasaannya semua itu dapat diterobosnya. Tetapi pihak Hirah tetap tak mau menyerah. Khalid menugaskan para perwiranya menghubungi mereka supaya menyerah. Kalau mereka setuju, terimalah, sebaliknya kalau mereka tetap menolak berilah waktu satu hari kemudian barulah perangi mereka.
Baca juga: Pembebasan Irak: Kisah Benteng Perempuan dan Seorang Putri Bangsawan Persia
Para perwira Muslimin itu mengajak penguasa-penguasa Hirah untuk menerima satu dari tiga pilihan ini: Islam, jizyah atau pengumuman perang. Tetapi penguasa-penguasa itu memilih perang.
Perkiraan Azadabeh tidak meleset. Khalid dan pasukannya memang menggunakan kapal-kapal Amgasyia dan terus bertolak ke utara ke jurusan Hirah.
Sementara mereka dalam pelayaran itu, tiba-tiba kapal oleng lalu kandas. Dengan oleng dan kandasnya kapal tersebut pasukan Muslimin terkejut sekali, dan Khalid pun marah. Ditanyakannya sebab-sebab kejadian itu kepada awak kapal. Mereka mengatakan bahwa atas perintah penguasa Hirah jembatan-jembatan itu dibendung dan aliran air dialihkan. Dengan demikian kapal-kapal itu tak akan dapat berlayar.
Khalid keluar dengan satu batalion pasukan berkudanya dan menuju ke tempat anak Azadabeh di mulut tebing. Ia dan anak buahnya disergap di tempat berlindungnya itu, dan air di sungai kembali mengalir.
Khalid dan pasukan berkudanya tetap mengawasi. Kapal-kapal itu kembali berlayar membawa semua pasukannya ke Khawarnaq. Di tempat ini mereka diturunkan untuk mengadakan persiapan memasuki Hirah.
Khalid di Istana Khawarnaq
Khalid pun menguasai Istana Khawarnaq dan Istana Najaf, keduanya adalah tempat musim panas para pembesar Hirah, sementara pasukannya sudah berkemah di depan tembok kota itu.
Baca juga: Pembebasan Irak: Kisah Strategi Khalid dalam Pertempuran di Walaja
Adapun Azadabeh sendiri sudah lari lebih dulu sebelum bertempur. Ia merasa sangat terpukul dengan apa yang telah menimpa anaknya dan dengan kematian Ardasyir.
Larinya Azadabeh itu tidak mengurangi pihak Hirah sendiri untuk mempertahankan keempat benteng kota dan tembok-temboknya dan mengadakan persiapan untuk mempertahankannya sedapat mungkin.
"Tetapi persiapan mereka sedikit pun tak ada artinya," ujar Haekal berkisah.
Istana Khawarnaq dan kota Hirah telah membangkitkan semangat pasukan berkuda Muslimin serta kenangan kepada Nu'man Agung putra Munzir dan Sinimmar dan apa yang telah terjadi dengan pembangunan istana yang menjulang tinggi serta puisi-puisi mengenai itu.
Semua ini menambah kekuatan dan semangat mereka. Betapapun besarnya kekuatan musuh dan segala persiapannya, bagi Jenderal jenius ini, Khalid Saifullah, Khalid Saiful Islam ternyata tak ada artinya.
Dengan kepiawaian dan keperkasaannya semua itu dapat diterobosnya. Tetapi pihak Hirah tetap tak mau menyerah. Khalid menugaskan para perwiranya menghubungi mereka supaya menyerah. Kalau mereka setuju, terimalah, sebaliknya kalau mereka tetap menolak berilah waktu satu hari kemudian barulah perangi mereka.
Baca juga: Pembebasan Irak: Kisah Benteng Perempuan dan Seorang Putri Bangsawan Persia
Para perwira Muslimin itu mengajak penguasa-penguasa Hirah untuk menerima satu dari tiga pilihan ini: Islam, jizyah atau pengumuman perang. Tetapi penguasa-penguasa itu memilih perang.
Lihat Juga :