alexametrics

Apakah Hukum Membaca Doa Iftitah?

loading...
Apakah Hukum Membaca Doa Iftitah?
Ilustrasi salat berjamah. Foto/Dok SINDOnews
Dai lulusan S2 Darul-Hadits Maroko, Ustaz Abdul Somad (UAS) memberi penjelasan terkait hukum membaca doa iftitah. Tanya jawab seputar fiqih salat ini tertuang dalam bukunya “77 Tanya-Jawab Seputar Shalat” yang dipersembahkan oleh Tafaqquh Study Club. Berikut penjelasannya:

Jawaban:
Mazhab Maliki: Makruh hukumnya membaca doa iftitah. Orang yang melaksanakan salat langsung bertakbir dan membaca al-Fatihah, berdasarkan riwayat Anas bin Malik, ia berkata: “Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar mengawali salat dengan Alhamdulillahi Rabbil’alamin”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim). (Baca Juga: Hukum Melafazkan Niat? Ini Penjelasan Ustaz Abdul Somad)

Jumhur Ulama: Sunnah hukumnya membaca doa iftitah setelah Takbiratul-Ihram pada rakaat pertama. Ini pendapat yang Rajih (kuat) menurut saya (Syekh Wahbah az-Zuhaili. Bentuk doa Iftitah ini banyak.



Doa pilihan menurut Mazhab Hanafi dan Hanbali adalah (yang artinya):
“Maha Suci Engkau ya Allah dan dengan pujian-Mu, Maha Suci nama-Mu dan Maha Tinggi keagungan-Mu, tiada tuhan selain Engkau”.

Berdasarkan riwayat Aisyah, ia berkata: “Rasulullah SAW ketika mengawali salat, beliau membaca (yang artinya): “Maha Suci Engkau ya Allah dan dengan pujian-Mu, Maha Suci nama-Mu dan Maha Tinggi keagungan-Mu, tiada tuhan selain Engkau”. (HR. Abu Daud dan ad-Daraquthni dari riwayat Anas. Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasa’I, Ibnu Majah dan Ahmad dari Abu Sa’id. Muslim dalam Shahih-nya: Umar membaca doa ini dengan cara jahar [Nail al-Authar: 2/195])

Pendapat pilihan dalam Mazhab Syafi’i adalah bentuk doa (yang artinya):
“Aku hadapkan wajahku kepada Dia yang telah menciptakan langit dan bumi, aku condong kepada kebenaran, berserah diri kepada-Nya, aku tidak termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, matiku hanya untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya, dengan itulah aku diperintahkan, aku termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim)”.

Berdasarkan riwayat dari Ahmad, Muslim dan at-Tirmidzi, dinyatakan shahih oleh at-Tirmidzi, diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib.
(rhs)
cover top ayah
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغۡفِرُ اَنۡ يُّشۡرَكَ بِهٖ وَيَغۡفِرُ مَا دُوۡنَ ذٰ لِكَ لِمَنۡ يَّشَآءُ‌ ۚ وَمَنۡ يُّشۡرِكۡ بِاللّٰهِ فَقَدِ افۡتَـرٰۤى اِثۡمًا عَظِيۡمًا‏
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.

(QS. An-Nisa:48)
cover bottom ayah
preload video
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak