alexametrics

Bahaya Sifat Munafik dan Penyebabnya

loading...
Bahaya Sifat Munafik dan Penyebabnya
Allah dan Rasul-Nya telah mengingatkan kita akan bahaya sifat munafik. Foto Ilustrasi/ist
Allah dan Rasul-Nya telah mengingatkan kita akan bahaya sifat munafik. Penyakit ini selain mencelakai diri sendiri juga membawa keburukan bagi orang lain.

Allah mengabadikannya dalam satu surah di Alqur'an bernama Al Munafiqun (kaum munafik), surah ke-63 terdiri dari 11 ayat. Dalam ayat pembuka surah ini, Allah berfirman: "Apabila orang-orang munafik datang kepadamu (Muhammad), mereka berkata, 'Kami mengakui, bahwa engkau adalah Rasul Allah.' Dan Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar Rasul-Nya; dan Allah menyaksikan bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta. (Al-Munafiqun: 1)

Salah satu tandanya bisa dilihat dari hadits Nabi SAW yang cukup populer ini. Beliau bersabda, "Tanda orang munafik itu tiga apabila ia berucap berdusta, jika membuat janji berdusta, dan jika dipercayai mengkhianati". (HR Al-Bukhari-Muslim)



Ulama besar Yaman, Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad (1634-1720), dalam kitabnya An-Nashoihud Diniyah menyebut bahwa sifat munafik itu bisa bertambah apabila seseorang mengerjakan amal-amal buruk. Yaitu meninggalkan kewajiban dan melakukan hal-hal yang diharamkan. (Baca Juga: Islam Mengajarkan untuk Tidak Mencari-cari Kesalahan Orang Lain)

Nabi SAW bersabda: "Barangsiapa melakukan suatu dosa, timbullah di hatinya noda hitam. Jika ia bertobat hatinya menjadi besar. Jika ia tidak bertobat, noda itu bertambah hingga hatinya menjadi hitam. Itulah noda yang dimaksud dalam firman Allah ta'ala: "Sekali-kali tidak (demikian) sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan menutup hati mereka." (Al-Muthaffifin)

Kata Habib Abdullah bin Alwi, tiada yang lebih buruk dan lebih berbahaya atas manusia di dunia dan akhirat daripada dosa-dosa. Tidaklah ia ditimpa bahaya dan gangguan, kecuali dari sebab dosa. Allah ta'ala berfirman: "Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri." (QS Asy-Syuuraa: 30)

Hindari Perbuatan Dosa
Habib Abdullah bin Alwi memberikan nasihat agar setiap mukmin berusaha sekuat tenaga untuk menghindari dan menjauhi dosa. Jika ia melakukan sesuatu dosa, maka ia harus segera bertobat epada Allah, karena Allah ta'ala menerima taubat dari hamba-hambaNya dan memaafkan dosa-dosa serta mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Dan siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Mereka menganiaya diri mereka hingga menyebabkan diri mereka ditimpa murka Allah dengan mendurhakaiNya, kemudian terus melakukannya dan tidak bertobat. Padahal Allah ta'ala menyuruh merekan bertobat dan berjanji menerimanya serta mensifatkan diriNya dengan itu. (Baca Juga: Inilah 'Penyakit' yang Menimpa Umat Nabi Muhammad dan Obatnya)

Maka Allah ta'ala berfirman: "Yang mengampuni dosa dan menerima tobat lagi keras hukumanNya, yang mempunyai karunia.Tiada Tuhan Selain Dia. Hanya kepadaNya kembali (semua makhluk)." (QS. Al-Mu'min: 33)

Sayyidina Ali karomallahu wajhahu berkata: "Sesungguhnya Allah mempunyai wadah di bumi, yaitu hati manusia. Yang terbaik darinya adalah yang paling jernih, paling keras dan paling lembut. Kemudian ia menafsirkan hal itu. Maka ia berkata, yang paling jernih dalam keyakinan, paling keras dalam agama dan paling lembut terhadap orang-orang mukmin.

Keyakinan artinya bercokolnya ilmu di dalam hati dan penguasaan iman atasnya, yaitu ketenangan yang dimohonkan Ibrahim kepada Tuhannya. Allah ta'ala berfirman: "Belum yakinkan kamu?" Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakininnya akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)." (Al-Baqarah: 260)

"Dari keterangan ini menjadi jelas bahwa keyakinan adalah puncak iman. Dalam hadits disebutkan: keyakinan adalah seluruhnya dan tiada sesuatu yang turun dari langit-langit mulia daripada keyakinan dan cukuplah keyakinan itu sebagai kekayaan," kata Habib Abdullah.

Habib Abdullah mengutip salah satu hadits Nabi SAW (yang artinya): "Mohonlah kepada Allah keyakinan dan kesehatan, karena tiada seseorang diberi sesuatu yang lebih utama (berharga) daripada kesehatan".
(rhs)
cover top ayah
وَاَيُّوۡبَ اِذۡ نَادٰى رَبَّهٗۤ اَنِّىۡ مَسَّنِىَ الضُّرُّ وَاَنۡتَ اَرۡحَمُ الرّٰحِمِيۡنَ‌
Dan ingatlah kisah Ayub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, "Ya Tuhanku, sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang."

(QS. Al-Anbiya:83)
cover bottom ayah
preload video
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak