alexametrics

Ramadhan, Bulan Memperbanyak Silaturahim

loading...
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Silaturahim
Dalam bulan Ramadhan, ruang-ruang silaturahim terbuka lebar. Foto Ilustrasi/hidayatullah.com
Moh Nur Huda
Ketua Umum Forum Komunikasi Dai Muda Indonesia (FKDMI),
Ketua Umum Ikatan Keluarga Besar Alumni Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah Lamongan


Bisa dikatakan dan patut disyukuri, kita termasuk orang yang beruntung hingga detik ini. Atas izin-Nya, kita semua masih bisa menikmati dan menyambut datangnya bulan Ramadhan. Bagi umat muslim, Ramadhan menjadi bulan melipatgandakan kebaikan, baik secara horizontal maupun vertikal.

Salah satu kebaikan dalam Islam itu adalah silaturrahim. Sebagaimana firman Allah dalam Alqur'an, "Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri".



Qur’an surat An-Nisa ayat 36 di atas juga menganjurkan manusia untuk menjalin ikatan silaturahim antarsesama. Bahkan Allah tidak menyukai mereka yang sombong dan membanggakan dirinya sendiri. Jadi, sudah seharusnyalah kita banyak-banyak menggelar silaturahim, sebagai amalan melaksanakan kebaikan.

Dalam bulan Ramadhan, ruang-ruang silaturahim terbuka lebar. Kita dengan beberapa teman sekolah yang lampau, bisa melakukan silaturrahim dengan tradisi-tadisi semacam buka bersama. Melalui salat tarawih, kita diberi kesempatan, tidak hanya menjalankan ibadah sunnah-Nya, tetapi juga bisa bertatap muka dan berjabat tangan dengan para tetangga dan kerabat.

Selain pintu-pintu di atas, bagi masyarakat muslim yang merantau, diberikan ruang untuk pulang ke kampung halaman. Dengan pintu tradisi bernama mudik, silaturrahim dengan sanak keluarga di kampung halaman, menjadi terjalin terlaksana.

Dengan demikian, bulan Ramadhan sangat disayangkan apabila tidak dilalui dengan memperbanyak silaturahim. Sebab selain terjadi satu kali dalam hitungan tahun, dengan silaturahim kita sedang melaksanakan kebaikan, yang juga dilipatgandakan amal kebaikannya.

Nilai-nilai silaturrahim dalam lanskap sejarah kita, juga pernah dilakukan oleh para pendahulu. KH Wahab Chasbullah menggagas halalbihalal yang kemudian diajukan pada Presiden Soekarno. Ikhwal dari gagasan ini, untuk membuka ruang harmonis di tengah situasi saling menyalahkan di antara para elit.

Kendati halalbihalal kerap dilakukan setelah Idul Fitri, subtansi dari tradisi ini adalah ruang silaturrahim itu terjadi antar para elit. Bahkan pengertian dalam silaturahim ini, adalah untuk mempertemukan pihak-pihak yang mempunyai perbedaan. Artinya bahwa, silaturrahim berfungsi untuk memperbaiki suasana yang sebelumnya terdapat perbedaan pendapat dan lain sebagainya.


Saya mengajak kepada diri sendiri, dan kita semua, untuk memanfaatkan momentum bulan Ramadhan sebagai bulan memperbanyak silaturrahim. Sebab sudah dianjurkan oleh Allah, silaturrahim juga mempunyai fungsi mempererat tali persaudaran dan memperbaiki perbedaan-perbedaan.
(rhs)
cover top ayah
وَمِنۡهُمۡ مَّنۡ يَّقُوۡلُ رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنۡيَا حَسَنَةً وَّفِى الۡاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّ قِنَا عَذَابَ النَّارِ
Dan di antara mereka ada yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”

(QS. Al-Baqarah:201)
cover bottom ayah
preload video
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak