alexametrics

Tanya Jawab Seputar Salat

Bagaimana Posisi Jari Ketika Tasyahud? Berikut Pendapat 4 Mazhab

loading...
Bagaimana Posisi Jari Ketika Tasyahud? Berikut Pendapat 4 Mazhab
Ustaz Abdul Somad menjelaskan posisi jari telunjuk ketika tasyahhud. Foto/dok Al Qalam Channel
Ustaz Abdul Somad (UAS), dai lulusan S2 Darul-Hadits Maroko memberi penjelasan secara rinci mengenai posisi jari jemari ketika tasyahhud. UAS menerangkan pendapat empat mazhab dikutip dari bukunya '7 Tanya-Jawab Seputar Shalat' yang dipersembahkan oleh Tafaqquh Study Club. (Baca Juga: Bagaimana Cara Bersujud yang Benar? Ini Kata Ustaz Abdul Somad?)

Jawaban:
1. Mazhab Maliki:
Dianjurkan ketika duduk tasyahud agar menekuk jari jemari kecuali telunjuk dan jempol tangan sebelah kanan, meluruskan telunjuk dan jempol, telunjuk ke arah bawah jempol, menggerakkan jari telunjuk secara terus menerus ke kanan dan kiri dengan gerakan sedang.

2. Mazhab Hanafi:
Menunjuk dengan jari telunjuk sebelah kanan saja, andai terputus atau cacat tidak dapat digantikan jari yang lain dari jari jemari tangan kanan dan kiri ketika berakhir tasyahud. Jari telunjuk diangkat ketika menafikan Tuhan selain Allah pada ucapan: [Laa IlaHa], dan menurunkannya kembali ketika menetapkan ketuhanan Allah pada lafaz: [Illallah]. Dengan demikian maka mengangkat telunjuk sebagai tanda menafikan (Tuhan selain Allah) dan menurunkan telunjuk sebagai tanda menetapkan (Allah sebagai Rabb yang disembah).



3. Mazhab Hanbali:
Menekuk jari kelingking dan jari manis, melingkarkan jempol dan jari tengah, menunjuk dengan jari telunjuk pada tasyahud dan doa ketika menyebut lafaz Allah tanpa menggerakkannya.

4. Mazhab Syafi'i:
Menggenggam semua jari jemari tangan kanan, kecuali telunjuk, menunjuk dengan telunjuk pada lafaz: [Illallah], terus mengangkat telunjuk tanpa menggerakkannya hingga hingga salam pada tasyahud akhir, sembari memandang ke arah jari telunjuk selama waktu tersebut. Afdhal menggenggam jempol di samping telunjuk dan posisi jempol di tepi telapak tangan.
(rhs)
cover top ayah
اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوۡرِ عِنۡدَ اللّٰهِ اثۡنَا عَشَرَ شَهۡرًا فِىۡ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوۡمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضَ مِنۡهَاۤ اَرۡبَعَةٌ حُرُمٌ‌ ؕ ذٰ لِكَ الدِّيۡنُ الۡقَيِّمُ ۙ فَلَا تَظۡلِمُوۡا فِيۡهِنَّ اَنۡفُسَكُمۡ‌ ؕ وَقَاتِلُوا الۡمُشۡرِكِيۡنَ كَآفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوۡنَكُمۡ كَآفَّةً‌  ؕ وَاعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الۡمُتَّقِيۡنَ
Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzhalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa.

(QS. At-Taubah:36)
cover bottom ayah
preload video
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak