Perang di Luar Benteng Babilon: Kisah Panglima Perang Romawi Muqauqis Menyerah
Rabu, 03 Juli 2024 - 15:50 WIB
loading...
A
A
A
Pasukan Romawi sendiri waktu itu memang bertempur mati-matian. Tetapi pihak Arab juga begitu ada pemberitahuan mereka segera datang berduyun-duyun sehingga mencapai jumlah yang cukup besar. Pihak Romawi tak dapat berbuat lain kecuali kembali ke benteng setelah banyak sekali di pihaknya korban yang mati."
Haekal menjelaskan kedua sumber itu kita lihat tidak berbeda. Keduanya sependapat bahwa pasukan Arab memperoleh kemenangan hanya dalam beberapa hari setelah terjadi perundingan antara Ubadah bin as-Samit dengan Muqauqis.
Tidak ingin kehilangan kesempatan, maka Muqauqis kembali lagi membicarakan dengan stafnya tentang perlunya tunduk pada tuntutan Arab dengan membayar jizyah. Mereka kemudian terpaksa menyetujui.
Ia segera mengirim utusan kepada Amr dengan mengatakan bahwa dia masih dengan pendapatnya semula untuk berdamai.
"Berikanlah jaminan kepada kami untuk bertemu, saya dengan Anda, saya dengan beberapa orang staf saya, dan Anda dengan beberapa orang staf Anda. Kalau tercapai persetujuan antara kita, selesailah sudah semua. Kalau tidak kami akan kembali seperti dalam keadaan semula."
Akan tetapi sahabat-sahabat Amr menolak tawaran Muqauqis itu. Mereka memilih perang sehingga apa yang ada dalam negeri itu menjadi pampasan perang bagi mereka.
Baca juga: Kisah Amr bin Ash Berusaha Menguasai Benteng Umm Dunain dan Babilon
Sungguhpun begitu Amr berkata kepada mereka: "Kalian sudah tahu apa yang dipesankan Amirulmukminin kepada saya: Kalau mereka setuju dengan salah satu dari tiga tawaran yang diamanatkan kepada saya itu, terimalah, di samping air (SUngai Nil) itu memang masih menjadi rintangan buat kita untuk memerangi mereka."
Pandangan Amr ini memang pandangan seorang politikus yang matang dan pandangan seorang panglima yang piawai. Air memang mengepung pasukan Muslimin dari segenap penjuru, sehingga mereka tak dapat melangkah maju ke Mesir Hulu serta kota-kota dan desa-desa lain.
Jadi bukan mereka memilih perang, perhitungan itu adalah suatu langkah yang salah. Menunggu sampai air surut berarti memberikan kesempatan ada musuh sementara Iskandariah sudah bersiap-siap mengirimkan bala bantuan.
Haekal menjelaskan kedua sumber itu kita lihat tidak berbeda. Keduanya sependapat bahwa pasukan Arab memperoleh kemenangan hanya dalam beberapa hari setelah terjadi perundingan antara Ubadah bin as-Samit dengan Muqauqis.
Tidak ingin kehilangan kesempatan, maka Muqauqis kembali lagi membicarakan dengan stafnya tentang perlunya tunduk pada tuntutan Arab dengan membayar jizyah. Mereka kemudian terpaksa menyetujui.
Ia segera mengirim utusan kepada Amr dengan mengatakan bahwa dia masih dengan pendapatnya semula untuk berdamai.
"Berikanlah jaminan kepada kami untuk bertemu, saya dengan Anda, saya dengan beberapa orang staf saya, dan Anda dengan beberapa orang staf Anda. Kalau tercapai persetujuan antara kita, selesailah sudah semua. Kalau tidak kami akan kembali seperti dalam keadaan semula."
Akan tetapi sahabat-sahabat Amr menolak tawaran Muqauqis itu. Mereka memilih perang sehingga apa yang ada dalam negeri itu menjadi pampasan perang bagi mereka.
Baca juga: Kisah Amr bin Ash Berusaha Menguasai Benteng Umm Dunain dan Babilon
Sungguhpun begitu Amr berkata kepada mereka: "Kalian sudah tahu apa yang dipesankan Amirulmukminin kepada saya: Kalau mereka setuju dengan salah satu dari tiga tawaran yang diamanatkan kepada saya itu, terimalah, di samping air (SUngai Nil) itu memang masih menjadi rintangan buat kita untuk memerangi mereka."
Pandangan Amr ini memang pandangan seorang politikus yang matang dan pandangan seorang panglima yang piawai. Air memang mengepung pasukan Muslimin dari segenap penjuru, sehingga mereka tak dapat melangkah maju ke Mesir Hulu serta kota-kota dan desa-desa lain.
Jadi bukan mereka memilih perang, perhitungan itu adalah suatu langkah yang salah. Menunggu sampai air surut berarti memberikan kesempatan ada musuh sementara Iskandariah sudah bersiap-siap mengirimkan bala bantuan.
Lihat Juga :