Ijab dan Kabul Pernikahan Menggunakan Kalimat Allah, Begini Penjelasannya
Jum'at, 05 Juli 2024 - 14:54 WIB
loading...
A
A
A
"Salah seorang di antara kamu tidak beriman, sehingga dia mencintai aku lebih dari cintanya terhadap orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim melalui Anas bin Malik).
Makna ini sejalan dengan firman Allah: Nabi (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang Mukmin dari pada diri mereka sendiri." ( QS Al-Ahzab [33] : 6).
Itulah Kalimat Allah dalam hal sahnya perkawinan; kalimat itu sendiri menurut Al-Quran:
"Te1ah sempurna sebagai kalimat yang benar dan adil, dan tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya" ( QS Al-An'am [6] : 115).
"Dia penuh kebajikan" ( QS Al-A'raf [7] : 137), lagi "Dan kalimat Allah itulah yang Mahatinggi" ( QS Al-Tawbah [9) : 40). Dengan kalimat itulah Allah menganugerahkan kepada Nabi Zakaria yang telah berusia lanjut, lagi istrinya mandul, "seorang anak bernama Yahya yang menjadi panutan, pandai menjaga diri, serta menjadi Nabi" ( QS Ali 'Imran [3] : 39). Dengan kalimat itu Allah menciptakan Isa a.s. tanpa ayah, dan diakuinya sebagai "seorang terkemuka di dunia dan di akherat, serta termasuk orang-orang yang didekatkan kepada Allah" (QS Ali 'Imran [3]: 45).
Baca juga: Pernikahan Beda Agama, Partai Perindo Paparkan Hukum Menurut Islam
Serah terima perkawinan dilakukan dengan kalimat Allah yang sifatnya demikian, agar calon suami dan istri menyadari betapa suci peristiwa yang sedang mereka alami.
Dan dalam saat yang sama mereka berupaya untuk menjadikan kehidupan rumah tangga mereka dinaungi oleh makna-makna kalimat itu: kebenaran, keadilan, langgeng tidak berubah, luhur penuh kebajikan, dan dikaruniai anak yang saleh, yang menjadi panutan, pandai menahan diri, serta menjadi orang terkemuka di dunia dan di akhirat lagi dekat kepada Allah.
Makna ini sejalan dengan firman Allah: Nabi (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang Mukmin dari pada diri mereka sendiri." ( QS Al-Ahzab [33] : 6).
Itulah Kalimat Allah dalam hal sahnya perkawinan; kalimat itu sendiri menurut Al-Quran:
"Te1ah sempurna sebagai kalimat yang benar dan adil, dan tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya" ( QS Al-An'am [6] : 115).
"Dia penuh kebajikan" ( QS Al-A'raf [7] : 137), lagi "Dan kalimat Allah itulah yang Mahatinggi" ( QS Al-Tawbah [9) : 40). Dengan kalimat itulah Allah menganugerahkan kepada Nabi Zakaria yang telah berusia lanjut, lagi istrinya mandul, "seorang anak bernama Yahya yang menjadi panutan, pandai menjaga diri, serta menjadi Nabi" ( QS Ali 'Imran [3] : 39). Dengan kalimat itu Allah menciptakan Isa a.s. tanpa ayah, dan diakuinya sebagai "seorang terkemuka di dunia dan di akherat, serta termasuk orang-orang yang didekatkan kepada Allah" (QS Ali 'Imran [3]: 45).
Baca juga: Pernikahan Beda Agama, Partai Perindo Paparkan Hukum Menurut Islam
Serah terima perkawinan dilakukan dengan kalimat Allah yang sifatnya demikian, agar calon suami dan istri menyadari betapa suci peristiwa yang sedang mereka alami.
Dan dalam saat yang sama mereka berupaya untuk menjadikan kehidupan rumah tangga mereka dinaungi oleh makna-makna kalimat itu: kebenaran, keadilan, langgeng tidak berubah, luhur penuh kebajikan, dan dikaruniai anak yang saleh, yang menjadi panutan, pandai menahan diri, serta menjadi orang terkemuka di dunia dan di akhirat lagi dekat kepada Allah.
(mhy)
Lihat Juga :