Begini Jawaban Muhammadiyah Tanggapi Kritik Konsep Kalender Hijriah Global Tunggal
Kamis, 11 Juli 2024 - 11:04 WIB
loading...
Transfer imkan rukyat tidak menimbulkan masalah, justru menjadi solusi yang sudah terbukti efektif dalam menjaga keseragaman penentuan awal bulan Hijriah. Ilustrasi: Ist/mhy
A
A
A
Konsep Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) telah memicu berbagai kritikan. Para kritikus menilai bahwa pemaksaan kalender Hijriah yang seragam secara global bertentangan dengan prinsip ilmiah dan praktik rukyat.
Menurut mereka, penerapan KHGT bisa menyebabkan beberapa wilayah harus memasuki bulan baru meskipun hilal belum terlihat, sementara wilayah lain harus menunggu hari berikutnya meskipun hilal sudah terlihat sehari sebelumnya.
Salah satu kekhawatiran utama para pengkritik adalah potensi terjadinya bulan baru di suatu kawasan padahal hilal masih di bawah ufuk.
Nabi Muhammad SAW mengajarkan agar “liru’yatihi atau melihat hilal” sebagai tanda masuknya bulan baru. Jika hilal masih di bawah ufuk, maka mustahil hilal dapat dilihat, sehingga memaksakan penerapan bulan baru dalam kondisi tersebut dianggap tidak sesuai dengan sunnah.
Baca juga: Kalender Hijriah Global: Lompatan Ijtihad Muhammadiyah
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah , Syamsul Anwar, menanggapi kritik tersebut menjelaskan bahwa KHGT harus memenuhi dua syarat fundamental. Pertama, tidak boleh menunda suatu wilayah memasuki bulan baru jika sudah memenuhi syarat imkanu rukyat (5-8) di mana pun di permukaan bumi. Kedua, tidak boleh memaksa suatu wilayah memasuki bulan baru jika belum terjadi konjungsi.
Dengan demikian, kalender harus memastikan bahwa wilayah di ujung barat tidak dipaksa menunda masuk bulan baru hanya untuk menunggu wilayah di ujung timur, sementara hilal sudah terlihat di ufuk mereka.
Sebaliknya, kalender juga tidak boleh memaksa wilayah di ujung timur memasuki bulan baru jika konjungsi belum terjadi. “Dua syarat ini begitu fundamental, apabila syarat-syaratnya tidak terpenuhi, maka KHGT tidak bisa diterapkan,” ucap Syamsul sebagaimana dilansir laman resmi PP Muhammadiyah pada Kamis 10 Juli 2024,
Terkait hilal yang masih di bawah ufuk, Syamsul menjelaskan prinsip “transfer imkan rukyat” dalam KHGT. Orang yang berada di sebelah barat, seperti Amerika Serikat, memiliki peluang lebih besar untuk melihat hilal pada hari pertama kemunculannya. Sebaliknya, orang di wilayah ujung timur, seperti Selandia Baru, kurang beruntung dalam hal ini. Kondisi ini membutuhkan “transfer imkan rukyat”.
Baca juga: Muhammadiyah Gunakan Kalender Hijriah Global Mulai Tahun 1446 H
Menurut mereka, penerapan KHGT bisa menyebabkan beberapa wilayah harus memasuki bulan baru meskipun hilal belum terlihat, sementara wilayah lain harus menunggu hari berikutnya meskipun hilal sudah terlihat sehari sebelumnya.
Salah satu kekhawatiran utama para pengkritik adalah potensi terjadinya bulan baru di suatu kawasan padahal hilal masih di bawah ufuk.
Nabi Muhammad SAW mengajarkan agar “liru’yatihi atau melihat hilal” sebagai tanda masuknya bulan baru. Jika hilal masih di bawah ufuk, maka mustahil hilal dapat dilihat, sehingga memaksakan penerapan bulan baru dalam kondisi tersebut dianggap tidak sesuai dengan sunnah.
Baca juga: Kalender Hijriah Global: Lompatan Ijtihad Muhammadiyah
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah , Syamsul Anwar, menanggapi kritik tersebut menjelaskan bahwa KHGT harus memenuhi dua syarat fundamental. Pertama, tidak boleh menunda suatu wilayah memasuki bulan baru jika sudah memenuhi syarat imkanu rukyat (5-8) di mana pun di permukaan bumi. Kedua, tidak boleh memaksa suatu wilayah memasuki bulan baru jika belum terjadi konjungsi.
Dengan demikian, kalender harus memastikan bahwa wilayah di ujung barat tidak dipaksa menunda masuk bulan baru hanya untuk menunggu wilayah di ujung timur, sementara hilal sudah terlihat di ufuk mereka.
Sebaliknya, kalender juga tidak boleh memaksa wilayah di ujung timur memasuki bulan baru jika konjungsi belum terjadi. “Dua syarat ini begitu fundamental, apabila syarat-syaratnya tidak terpenuhi, maka KHGT tidak bisa diterapkan,” ucap Syamsul sebagaimana dilansir laman resmi PP Muhammadiyah pada Kamis 10 Juli 2024,
Terkait hilal yang masih di bawah ufuk, Syamsul menjelaskan prinsip “transfer imkan rukyat” dalam KHGT. Orang yang berada di sebelah barat, seperti Amerika Serikat, memiliki peluang lebih besar untuk melihat hilal pada hari pertama kemunculannya. Sebaliknya, orang di wilayah ujung timur, seperti Selandia Baru, kurang beruntung dalam hal ini. Kondisi ini membutuhkan “transfer imkan rukyat”.
Baca juga: Muhammadiyah Gunakan Kalender Hijriah Global Mulai Tahun 1446 H
Lihat Juga :