alexametrics

Hakikat Doa dan Rahasia Pengabulannya

loading...
Hakikat Doa dan Rahasia Pengabulannya
Tanda seorang mukmin sejati adalah yakin dengan apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang diusahakan tangannya sendiri. Foto Ilustrasi/Istimewa
Doa adalah intisari dari ibadah. Dalam Alqur'an, Allah memerintahkan kita untuk berdoa kepada-Nya dan Dia pasti mengabulkannya.

"Dan Tuhanmu berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina." (QS Al-Ghafir: 60)

Dalam Kitab Al-Hikam karya Syeikh Ibnu 'Athoillah As-Sakandariy (wafat 1309) dijelaskan bagaimana hakikat doa dan pengabulannya. Tanda seorang mukmin sejati adalah yakin dengan apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang dapat diusahakan tangannya sendiri.



Ketika doa dipanjatkan seolah tidak mendapat pengabulan dari Allah Ta'ala, di situ terdapat ruang pengetahuan yang kosong yang harus dicari dan isi. Doa di sini bukan hanya terkait masalah duniawi. Tetapi juga termasuk hal spiritual. Misalkan, kita berdoa agar diterima taubatnya dan dibersihkan dari segala dosa.

Hakikatnya, setiap doa yang kita panjatkan adalah sebuah refleksi dari objek yang telah Allah siapkan. Tidak serta merta kita menginginkan sesuatu di dalam hati, kecuali telah ada objeknya. Seperti ketika menginginkan sebuah makanan, karena baunya sudah tercium dari jauh.

Hanya saja manusia kerap terjebak oleh ketidaksabaran dan belum memahami dirinya sendiri. Seperti ketika seorang sahabat meminta Rasulullah SAW agar berjodoh dengan seorang perempuan; maka jawaban Rasulullah adalah sekalipun dirinya dan seluruh Malaikat memanjatkan doa maka bila itu bukan haknya dan tidak tertulis di Lauh Mahfudz pasti tidak akan terlaksana.Keinginannya untuk memiliki jodoh adalah sebuah isyarat akan objek yang telah Allah sediakan. Tetapi keinginannya akan perempuan tertentu adalah karena syahwat yang masih belum surut.

Doa membutuhkan pengenalan (ma'rifah) akan Allah dan akan diri sendiri. Allah yang lebih tahu apa yang terbaik bagi makhluk-Nya, lebih dari seorang ibu mengetahui kebutuhan bayinya.

Allah telah berjanji akan mengabulkan doa sesuai dengan firman-Nya, "Mintalah kamu semua kepada-Ku, Aku akan mengijabah do'amu semua". Dan Allah berfirman, "Tuhanmulah yang menjadikan segala yang dikehendaki-Nya dan memilihnya sendiri, tidak ada hak bagi mereka untuk memilih."

Sebaiknya seorang hamba yang tidak mengetahui apa yang akan terjadi mengakui kebodohan dirinya, sehingga tidak memilih sesuatu yang tampak baginya sepintas baik, padahal ia tidak mengetahui akibatnya.

Allah Ta'ala berfirman: "Dan mungkin jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan mungkin jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Al-Baqarah: 216).

Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzili RA ketika mengartikan ayat ini: ''Sungguh telah diterima do'amu berdua (Musa dan Harun alaihissalam) yaitu tentang kebinasaan Fir'aun dan tentaranya, maka hendaklah kamu berdua tetap istiqamah (sabar dalam melanjutkan perjuangan dan terus berdoa), dan jangan mengikuti jejak orang-orang yang tidak mengerti (kekuasaan dan kebijaksanaan Allah)." (QS. Yunus: 89).

Maka terlaksananya kebinasaan Fir'aun yang berarti setelah diterimanya doa Nabi Musa dan Harun alaihissalam selama/sesudah 40 tahun lamanya.

Rasulullah SAW bersabda: "Pasti akan dikabulkan doamu selama tidak terburu-buru serta mengatakan, aku telah berdo'a dan tidak diterima."

Syekih Abu Abbas Al-Mursi ketika sakit, datang seseorang membesuknya dan berkata: Semoga Allah menyembuhkanmu. Abu Abbas terdiam dan tidak menjawab. Kemudian orang itu berkata lagi: Allah Yu'aafika. Maka Abu Abbas menjawab: Apakah kamu mengira aku tidak memohon kesehatan kepada Allah? Sungguh aku telah memohon kesehatan dan penderitaanku ini termasuk kesehatan, ketahuilah Rasululloh SAW memohon kesehatan dan ia berkata: "Selalu bekas makanan khaibar itu terasa olehku, dan kini masa putusnya urat jantungku.''

Sahabat Abu Bakar Siddiq memohon kesehatan dan wafat terkena racun. Umar bin Khatthab memohon kesehatan dan wafat dalam keadaan terbunuh. Utsman bin Affan memohon kesehatan dan juga wafat dalam keadaan terbunuh. Ali bin Abi Thalib memohon kesehatan dan juga wafat dalam keadaan terbunuh.

Maka bila engkau memohon kesehatan kepada Allah, mohonlah menurut apa yang telah ditentukan oleh Allah untukmu, maka sebaik-baik seorang hamba ialah yang menyerahkan segala sesuatunya menurut kehendak Tuhannya. Kemudian meyakini bahwa apa yang diberikan Allah kepadanya, itulah yang terbaik walaupun tidak sejalan dengan nafsu syahwatnya.

Adapun syarat utamaditerimanya doa ialah keadaan terpaksa/kesulitan. Allah Taa'la berfirman: "Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya..." (QS An-Naml: 62).

Keadaan terpaksa artinya, apabila merasa tidak ada sesuatu yang diharapkan selain karunia Allah semata. Tidak ada yang dapat membantu lagi baik dari luar berupa orang dan benda atau dari dalam diri sendiri. Wallahu A'lam
(rhs)
cover top ayah
وَمَا كَانَ قَوۡلَهُمۡ اِلَّاۤ اَنۡ قَالُوۡا رَبَّنَا اغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَاِسۡرَافَنَا فِىۡۤ اَمۡرِنَا وَ ثَبِّتۡ اَقۡدَامَنَا وَانۡصُرۡنَا عَلَى الۡقَوۡمِ الۡكٰفِرِيۡنَ
Dan tidak lain ucapan mereka hanyalah doa, “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan (dalam) urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.”

(QS. Ali 'Imran:147)
cover bottom ayah
preload video
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak