Selain Menimba Ilmu Agama, Santri Belajar Makna Hidup, dan Nilai-Nilai Kemanusiaan
Sabtu, 02 Mei 2020 - 10:35 WIB
loading...
A
A
A
Apa pun paham dan warna yang masuk ke pesantren, layaknya masuk ke dalam lautan luas, semuanya menjadi netral karena nilai-nilai air yang netral.
Pesantren memiliki dasar nilai-nilai kebaikan yang kuat, sehingga ketika ada nilai-nilai baru yang masuk ke pesantren menjadi netral dan tidak menggoyahkan nilai-nilai kebaikan yang sudah tertanam di dalam pesantren.
Samudra juga memiliki kekayaan luar biasa untuk kehidupan. Demikian juga dengan pesantren yang memiliki banyak kekayaan ilmu kehidupan, tentunya bisa menjadi sumber kehidupan bagi manusia.
Layaknya samudra, KH Achmad Qusyairi Anwar yang sejak beberapa tahun terakhir harus terbaring karena sakit stroke, disebut Gus Umar memang memiliki cara berbeda dalam menjalankan kepemimpinan di pesantren tersebut. Dia tanpa canggung berteman dengan semua kalangan, tanpa memandang status sosial dan perilakunya.
"Ayah saya temannya sangat banyak dan bermacam-macam orangnya. Beliau tidak pernah memilih ataupun memberikan penilaian terhadap temannya. Meskipun temannya ini ada yang buruk perilakunya, ayah saya tetap diam dan menjadikannya sebagai sahabat," ungkap Gus Umar.
Gus Umar sempat mengungkap, sang ayah selalu berpikir positif tentang teman-temannya tersebut. Menurut ayahnya, tidak masalah teman-temannya itu berperilaku buruk, namun masih mau datang ke pesantren. Artinya, mereka juga baik karena sudah datang ke pesantren.
Sifat sang kiai dalam membangun pertemanan ini memengaruhi kehidupan di dalam pesantren. Pesantren dinilai seperti samudra yang mampu menampung segala rupa manusia, dan belajar tentang kehidupan yang bergerak seperti gelombang.
Pesantren yang awalnya khusus mengasuh santri putri itu, akhirnya berkembang untuk mendidik anak-anak duafa. Seiring perkembangan zaman, pesantren yang kini dihuni sekitar 1.000 santri itu, sejak 2011 juga mengasuh santri putra. Santrinya datang dari berbagai wilayah di Indonesia, termasuk dari Malaysia.
Para santri ini tidak hanya belajar tentang keislaman melalui madrasah diniah, tetapi juga menempuh pendidikan formal mulai madrasah ibtidaiah, SD, madrasah sanawiah, SMP, hingga madrasah aliah, SMA, SMK, dan ada juga Sekolah Tinggi Ilmu Kitab Kuning (STIKK) yang jenjang pendidikannya diploma satu dan diploma dua.
"Pendidikan di STIKK ditempuh oleh para santri yang sudah lulus madrasah diniah selama enam tahun. Selama belajar di madrasah diniah, para santri diajarkan tentang Kitab Kuning. Sementara di STIKK, mereka diajak menjabarkan Kitab Kuning dalam kehidupan sehari-hari," ujar Gus Umar.
Dicontohkannya, seperti saat menyikapi wabah korona. Para santri yang sudah menempuh pendidikan di STIKK bisa melakukan perumusan dan kajian masalah melalui musyawarah bersama dengan referensi kajian Kitab Kuning, sehingga bisa mengambil sikap yang tidak gegabah. Sikap yang diambil memiliki dasar kuat, dan bisa menjadi acuan bagi masyarakat luas dalam menghadapi bencana ini tanpa kepanikan berlebihan.
Dasar pendidikan di pesantren ini menurutnya memakai sistem pesantren salafiah. Semua pelajaran keislaman dijalankan dengan tradisi yang terus dijaga. "Santri bukan hanya bisa menulis huruf dengan baik, atau mengaji dengan baik saja. Tetapi juga diajari tentang pemaknaannya, sehingga pelajaran yang diterima para santri tidak kehilangan jiwa kemanusiaannya," ungkapnya.
Pesantren memiliki dasar nilai-nilai kebaikan yang kuat, sehingga ketika ada nilai-nilai baru yang masuk ke pesantren menjadi netral dan tidak menggoyahkan nilai-nilai kebaikan yang sudah tertanam di dalam pesantren.
Samudra juga memiliki kekayaan luar biasa untuk kehidupan. Demikian juga dengan pesantren yang memiliki banyak kekayaan ilmu kehidupan, tentunya bisa menjadi sumber kehidupan bagi manusia.
Layaknya samudra, KH Achmad Qusyairi Anwar yang sejak beberapa tahun terakhir harus terbaring karena sakit stroke, disebut Gus Umar memang memiliki cara berbeda dalam menjalankan kepemimpinan di pesantren tersebut. Dia tanpa canggung berteman dengan semua kalangan, tanpa memandang status sosial dan perilakunya.
"Ayah saya temannya sangat banyak dan bermacam-macam orangnya. Beliau tidak pernah memilih ataupun memberikan penilaian terhadap temannya. Meskipun temannya ini ada yang buruk perilakunya, ayah saya tetap diam dan menjadikannya sebagai sahabat," ungkap Gus Umar.
Gus Umar sempat mengungkap, sang ayah selalu berpikir positif tentang teman-temannya tersebut. Menurut ayahnya, tidak masalah teman-temannya itu berperilaku buruk, namun masih mau datang ke pesantren. Artinya, mereka juga baik karena sudah datang ke pesantren.
Sifat sang kiai dalam membangun pertemanan ini memengaruhi kehidupan di dalam pesantren. Pesantren dinilai seperti samudra yang mampu menampung segala rupa manusia, dan belajar tentang kehidupan yang bergerak seperti gelombang.
Pesantren yang awalnya khusus mengasuh santri putri itu, akhirnya berkembang untuk mendidik anak-anak duafa. Seiring perkembangan zaman, pesantren yang kini dihuni sekitar 1.000 santri itu, sejak 2011 juga mengasuh santri putra. Santrinya datang dari berbagai wilayah di Indonesia, termasuk dari Malaysia.
Para santri ini tidak hanya belajar tentang keislaman melalui madrasah diniah, tetapi juga menempuh pendidikan formal mulai madrasah ibtidaiah, SD, madrasah sanawiah, SMP, hingga madrasah aliah, SMA, SMK, dan ada juga Sekolah Tinggi Ilmu Kitab Kuning (STIKK) yang jenjang pendidikannya diploma satu dan diploma dua.
"Pendidikan di STIKK ditempuh oleh para santri yang sudah lulus madrasah diniah selama enam tahun. Selama belajar di madrasah diniah, para santri diajarkan tentang Kitab Kuning. Sementara di STIKK, mereka diajak menjabarkan Kitab Kuning dalam kehidupan sehari-hari," ujar Gus Umar.
Dicontohkannya, seperti saat menyikapi wabah korona. Para santri yang sudah menempuh pendidikan di STIKK bisa melakukan perumusan dan kajian masalah melalui musyawarah bersama dengan referensi kajian Kitab Kuning, sehingga bisa mengambil sikap yang tidak gegabah. Sikap yang diambil memiliki dasar kuat, dan bisa menjadi acuan bagi masyarakat luas dalam menghadapi bencana ini tanpa kepanikan berlebihan.
Dasar pendidikan di pesantren ini menurutnya memakai sistem pesantren salafiah. Semua pelajaran keislaman dijalankan dengan tradisi yang terus dijaga. "Santri bukan hanya bisa menulis huruf dengan baik, atau mengaji dengan baik saja. Tetapi juga diajari tentang pemaknaannya, sehingga pelajaran yang diterima para santri tidak kehilangan jiwa kemanusiaannya," ungkapnya.
Lihat Juga :