alexametrics

Kekeliruan Menafsirkan 'Ramad' dengan Kata 'Rembes'

loading...
Kekeliruan Menafsirkan Ramad dengan Kata Rembes
KH Miftah el-Banjary, pakar Ilmu Linguistik Arab dan Tafsir Alqur'an. Foto Istimewa/Dok miftahelbanjary
Ustaz Miftah el-Banjary
Pakar Ilmu Linguistik Arab dan Tafsir Alqur'an

Di dalam kitab 'Nurul Abshar fi Manaqib an-Nabi al-Mukhtar' karya Abi Hafiz Syeikh Muhammad Asy-Syablanji memang diterangkan Nabi Muhammad SAW pada usia 7 tahun pernah terkena sakit mata (رمد شديد). Tetapi, sakit itu hal wajar dan biasa terjadi menimpa anak-anak yang hidup di gurun akibat perubahan cuaca.

Ramad Syadid (رمد شديد) itu sakit mata biasa, namun tidak etis diterjemahkan dengan kata 'Rembes'. Sama halnya gatal akibat gigitan nyamuk tidak bisa dibilang penyakit kolera atau kudisan. Atau tidur disebut ngorok. Atau makan banyak disebut rakus.



Misalnya, "Kamu kudisan ya habis digigit nyamuk?" atau seorang resepsionis hotel bilang begini ke pengunjungnya, "Selamat Ngorok" di hotel kami Bapak" atau "Bagaimana Ngorok Bapak semalam?" atau "Silakan makan yang rakus ya?" Kan tidak etis?!!

Di sinilah kekeliruan mereka dalam memilih bahasa, meskipun kata pembelanya itu "bahasa yang membumi" dengan para pendengar ceramahnya.

Ya boleh saja menggunakan bahasa yang "membumi", tapi bukan berati harus berbahasa yang terkesan mengada-ada. Bahkan terkesan merendahkan dan melecehkan kemuliaan Nabi Muhammad SAW. Na'udzubillahi min dzalik!

Entah cara berbahasa retorikanya yang buruk atau ada kebencian yang terselubung pada pribadi mulia Rasulullah SAW. Wallahu a'lam.

Bagi seorang kiyai yang benar-benar dai ilallah, seharusnya tahu menempatkan dan mengukur bahasanya sesuai dengan kadarnya. Bukan menghina dan mem-bully itu standar warning larangan kerasnya bagi seorang dai ilallah. Apalagi Rasulullah SAW dihinakan sedemikian rupa dalam hampir sepanjang ceramahnya.

Para ulama sepakat bahwa tidak ada penyakit parah yang pernah menimpa pribadi Rasulullah SAW. Ini tentu keluar dari koridor akidah Ahlu Sunnah wal Jama'ah dan tradisi ulama sepuh NU.

Terbukti, di dalam Kitab Nurul Abshar, maupun Uyunul Atsar karya Syekh Muhammad al-Ya'mary bahwa sakit mata Nabi Muhammad itu justru pada akhirnya cara Allah menunjukkan Irhashat, pertanda kenabian Nabi Muhammad.

Sakit mata itu sembuh dengan berkah air liur Nabi Muhammad SAW sendiri atas saran rahib Yahudi kepada kakeknya Abdul Muthalib.

Lantas, apakah maksud dari kata "Rembes" yang terkesan ingin merendahkan dan menghinakan Nabi Muhammad SAW itu dengan ucapan waktu kecilnya dekil, kotor, penyakitan, belekan, nyolong jambu dan kata-kata hinaan lainnya?

Apakah Nabi Muhammad Pernah Sakit Mata?
Nabi Muhammad semasa kecilnya (usia 7 tahun) memang pernah sakit mata parah (رمد شديد). Tapi itu hal manusiawi terjadi pada diri seorang Nabi, namun tidak mengurangi nilai ke-makshuman dan derajat beliau sebagai seorang Nabi.

Justru, hal itu kemudian peristiwa menunjukkan Irhash, peristiwa luar biasa yang terjadi pada diri seorang yang sebelum diangkat menjadi seorang nabi dan rasul.

Manakala kakek Beliau Abdul Muthalib berusaha mengobatinya dengan mencari seorang tabib/dokter, dalam perjalanan ia berjumpa dengan seorang pendeta.

Pendeta itu mengatakan kepada Abdul Muthalib: "Bukankah cucumu itu seorang calon nabi akhir zaman. Obatnya pastilah ada dalam dirinya sendiri. Sapukan ludahnya pada matanya sendiri!"

Saran itu langsung dilakukan oleh kakeknya dan ternyata memang benar sembuh. Jadi, penyebab sakit mata Nabi SAW pada masa kecilnya itu bukan disebabkan oleh kurangnya perhatian dan kasih sayang sang kakek pasca-Muhammad SAW menjadi yatim piatu. Bukan begitu memahami sejarah!

Semua keterangan dan fakta sejarah tersebut terdapat pada kitab sebagai berikut:
1. Kitab Nur al-Abshar fi Manaqib an-Nabi al-Mukhtar karya Imam Mu'min As-Syalanjie.
2. Kitab Uyun al-Atsar karya Abi Hafidz Muhammad al-Ya'mary.
3. Kitab Al-Manhal al-Adzab al-Maurud Syarh Abi Daud karya Mahmud Muhammad Khitab.
4. Kitab As-Sirah Al-Halabiyyah Sirah al-Amin karya Al-Ma'mun dan masih banyak referensi lainnya.
(rhs)
cover top ayah
وَاِذَا تُتۡلٰى عَلَيۡهِ اٰيٰتُنَا وَلّٰى مُسۡتَكۡبِرًا كَاَنۡ لَّمۡ يَسۡمَعۡهَا كَاَنَّ فِىۡۤ اُذُنَيۡهِ وَقۡرًا‌ۚ فَبَشِّرۡهُ بِعَذَابٍ اَلِيۡمٍ
Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbatan di kedua telinganya, maka gembirakanlah dia dengan azab yang pedih.

(QS. Luqman:7)
cover bottom ayah
preload video
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak