alexametrics

Keutamaan Memberi Maaf

loading...
Keutamaan Memberi Maaf
Al-Habib Quraisy Baharun (kiri) ketika menerima kunjungan KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) di Ponpes Asshidqu, Kuningan Jawa Barat, beberapa waktu lalu. Foto/Istimewa
Sejarah menunjukkan penerimaan masyarakat terhadap Islam bukan karena paksaan ataupun perperangan. Kebanyakan orang simpati dan tertarik dengan Islam dikarenakan keelokan prilaku pendakwahnya.

Menurut Pimpinan Ponpes As-Shidqu Kuningan Al-Habib Quraisy Baharun, keindahan akhlak sejak dulu sudah dicontohkan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW). Beliau dikenal sebagai orang yang paling baik akhlak dan perangainya.

Sebab kebaikannya itu, Nabi SAW tidak hanya disegani oleh kawan, tetapi lawan pun menghormati dan menyanjung etika beliau. Tak jarang orang yang membencinya beralih menghormati dan menjadi pengikut setianya. Ini menunjukkan betapa mulianya akhlak Nabi Muhammad SAW. Kebencian tidak pernah ia balas dengan amarah dan dendam.



Justru beliau menyambut murka orang kafir Quraisy dengan kasih sayang dan penuh maaf. Aisyah RA pernah ditanya mengenai watak pribadi Rasulullah, ia pun menjelaskan:
كان أحسن الناس خلقا، لم يكن فاحشا ولا متفحشا، ولا سخابا في الأسواق، ولا يجزي بالسيئة السيئة، ولكن يعفو ويصفح
"Adalah Rasulullah SAW orang yang paling bagus akhlaknya. Beliau tidak pernah kasar, berbuat keji, berteriak-teriak di pasar, dan membalas kejahatan dengan kejahatan. Malahan beliau pemaaf dan mendamaikan," (HR Ibnu Hibban).

Di antara sifat Rasulullah SAW ialah suka memberi maaf. Beliau acapkali memaafkan orang yang membenci dan menyakiti perasaannya. Memaafkan kesalahan orang bukanlah perkara mudah. Pada saat itulah keimanan seorang diuji.

Apakah ia akan memperturutkan egonya atau mengalahkan amarahnya dengan memberi maaf. Sebagaiman firman Allah Ta'ala: "Barangsiapa yang memaafkan dan mendamaikan maka pahalanya dari Allah Ta'ala". (QS Asy-Syura: 40).

Dalam hadis Nabi disebutkan: "Tidaklah Allah menambahkan sesuatu kepada orang yang memaafkan kecuali kemuliaan". (Al-Muwatta’ karya Imam Malik).

"Memberi maaf bukan berati pengecut, sebab Allah memuliakan orang yang bersedia memaafkan kesalahan orang lain. Bahkan Allah sudah menyiapkan segudang pahala untuk orang tersebut," kata ulama yang pernah belajar di Hadhramaut Yaman itu.

Pastinya, tidak ada kerugiaan bila kita berbuat baik. Memang pada saat memberi maaf, amarah kita tidak terlampiaskan. Tetapi sesungguhnya pada saat itulah keislaman kita tampak. Andaikan Nabi SAW seorang pemarah dan pendendam, mungkin pemeluk agama Islam tidak sebanyak sekarang ini.

Dengan memberi maaf, paling tidak kita sudah mencoba untuk mengikuti perilaku Rasulullah. Mengikuti etika dan kesopanan yang beliau ajarkan tentu lebih utama daripada mengikuti model pakaian Nabi saja.

Saking sopan dan lembutnya Nabi SAW, sahabat Al-Bara bin 'Azib, seperti dikutip dari Syamailul Muhammadiyah, menggambarkan wajah Rasulullah SAW layaknya bulan purnama, bukan seperti pedang.

Wallahu A'lam Bisshowab
(rhs)
cover top ayah
وَاِنۡ تُطِعۡ اَكۡثَرَ مَنۡ فِى الۡاَرۡضِ يُضِلُّوۡكَ عَنۡ سَبِيۡلِ اللّٰهِ‌ؕ اِنۡ يَّتَّبِعُوۡنَ اِلَّا الظَّنَّ وَاِنۡ هُمۡ اِلَّا يَخۡرُصُوۡنَ‏
Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan.

(QS. Al-An’am:116)
cover bottom ayah
preload video
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak