alexametrics

Cara Makan Rasulullah yang Patut Diteladani (3)

loading...
Cara Makan Rasulullah yang Patut Diteladani (3)
Rasulullah SAW akan merasa senang jika banyak orang yang ikut serta menikmati suatu makanan. Foto Ilustrasi/Dok Njajan.com
Salah satu rahasia kesehatan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW) adalah menjaga pola makan dan makanan yang dikonsumsinya. Berikut lanjutan cara makan Rasulullah yang bersumber dari Kitab Tha'amur-Rasul SAW wat-Tadawi bil-Ghidza (Inilah Makanan Rasulullah SAW) karya Prof Abdul Basith Muhammad as-Sayyid.

Sebelumnya telah dibahas adab makan Rasulullah yang tidak makan secara berlebihan dan juga tidak tergesa-gesa saat makan dan minum. [Baca Juga: Cara Makan Rasulullah yang Patut Diteladani (2)]

Aisyah RA meriwayatkan bahwa sejak kedatangan Rasulullah di Kota Madinah, keluarga Nabi Muhammad SAW tidak pernah merasa kenyang dengan makanan yang terbuat dari gandum selama tiga hari berturut-turut, hingga beliau wafat. Aisyah juga meriwayatkan bahwa keluarga Rasulullah tidak pernah makan dua kali dalam sehari kecuali salah satunya dengan kurma. (HR Bukhari-Muslim)



Adapun makanan yang paling sering dimakan Rasulullah dan keluarganya adalah roti gandum (HR Tirmidzi). Sejumlah penelitian yang dilakukan di Rusia membuktikan, bahwa puasa selama sebulan (puasa Ramadhan) dapat memberikan kekuatan pada alat pencernaan, sehingga ia dapat bekerja selama setahun tanpa harus menghadapi sejumlah penyakit.

Dari sini, dapat disimpulkan bahwa Rasulullah selalu bersikap zuhud dalam menjalani kehidupannya. Maksudnya, Rasulullah tidak berlebih-lebihan ketika makan dan minum. Menanamkan sikap zuhud juga bermanfaat bagi generasi setelah kita.

Adapun adab lain, Rasulullah akan merasa senang jika banyak orang yang ikut serta menikmati suatu makanan. Abu Hurairah RA meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda, "Makanan dua orang cukup untuk dimakan tiga orang, makanan tiga orang cukup dimakan empat orang." (HR Bukhari, Muslim).

Dari hadis ini dapat disimpulkan bahwa berkumpul untuk menikmati suatu makanan merupakan perbuatan yang disunnahkan. Sebaiknya seseorang tidak makan seorang diri seperti yang sering dilakukan orang bakhil.

Selain itu, semakin banyak orang yang berkumpul untuk menikmati makanan itu, keberkahan yang akan mereka peroleh semakin bertambah. Rasulullah telah memberikan dorongan kepada kita untuk melakukan hal itu.

Sebagian orang di zaman sekarang suka bermewah- mewahan, mengisi lemari es dengan berbagai macam makanan menggiurkan, paling lezat, dan paling mahal harganya, lalu berkata, "Kami memiliki ini dan itu."

Padahal Allah Ta'ala mengingatkan manusia dalam sebuah ayat: "Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan." (Surah Al-Isra: 27)

Selanjutnya, makan secara berlebihan dapat menyebabkan kegemukan (obesitas). Kegemukan terjadi akibat berkumpulnya lemak dalam tubuh manusia terutama di bawah kulit dan di sekitar anggota tubuh bagian dalam. Kegemukan dapat menyebabkan malas, bodoh, dan sulit bernafas. Islam menginginkan seorang muslim menjadi orang yang kuat dan penuh semangat.

Seorang bijak berkata, "Hikmah (ilmu) tidak akan masuk ke dalam perut yang terisi penuh makanan. Orang yang perutnya terisi penuh makanan, akan banyak minum. Siapa yang banyak minum, akan sering tidur. Siapa yang terlalu sering tidur, keberkahan akan dijauhkan dari umurnya."

Di antara hal yang tidak termasuk karakter Rasulullah adalah makan di suatu tempat yang lebih tinggi dari tanah. Rasulullah memberi petunjuk agar kita makan sambil duduk di atas tanah (lantai). Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah selalu duduk di atas tanah dan makan di atas tanah. (HR Thabrani)

Anas bin Malik meriwayatkan Rasulullah tidak pernah makan di atas Khawan, atau makan dengan menggunakan Sukkarjah, atau makan Khubz Muraqqaq. Aku (Anas) bertanya kepada Qatadah, 'Lalu dengan apa Rasulullah dan para sahabatnya makan?' Qatadah pun menjawab, "Dengan menggunakan Suffrah." (HR Bukhari)

Khawan adalah wadah yang tinggi yang biasa digunakan untuk makan. Pada zaman sekarang, tempat itu dinamakan tarabizah (meja panjang), sedangkan di desa-desa dikenal dengan nama thabliyah (meja pendek dan berbentuk bundar).

Sukkarjah adalah wadah kecil yang di dalamnya diletakkan sedikit makanan yang dapat menambah selera makan, seperti salad atau acar. Sedangkan yang dimaksud dengan Khubz Muraqqaq adalah roti yang lebar dan lembut. Ini berarti, Rasulullah selalu memakan roti kecil yang kasar.

Adapun Sufrah adalah sesuatu yang dibentangkan atau dihamparkan sebagai alas untuk makanan vang akan dimakan baik dalam bentuk kulit maupun kain. [Baca Juga: Cara Makan Rasulullah yang Patut Diteladani (1)]

(bersambung)
(rhs)
cover top ayah
فَلَمَّا نَسُوۡا مَا ذُكِّرُوۡا بِهٖ فَتَحۡنَا عَلَيۡهِمۡ اَبۡوَابَ كُلِّ شَىۡءٍ ؕ حَتّٰٓى اِذَا فَرِحُوۡا بِمَاۤ اُوۡتُوۡۤا اَخَذۡنٰهُمۡ بَغۡتَةً فَاِذَا هُمۡ مُّبۡلِسُوۡنَ
Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami membukakan semua pintu kesenangan duniawi untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan pemberian itu, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.

(QS. Al-An’am:44)
cover bottom ayah
preload video
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak