alexametrics

Penghormatan Ulama Terhadap Kitab Sahih Al-Bukhari

loading...
Penghormatan Ulama Terhadap Kitab Sahih Al-Bukhari
pemimpin Muhadditsin Imam Al-Bukhari bernama asli Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughiroh Al-Bukhory Al-Jufi. Foto Ilustrasi/Dok islamsantun.org
Banyak ulama menghabiskan waktunya untuk mengumpulkan hadis-hadis sahih Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW). Namun, semua ulama mengakui kehebatan Kitab Sahih Al-Bukhari yang disusun pemimpin Muhadditsin Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughiroh Al-Bukhory Al-Ju'fi.

Pengasuh Al-Hawthah Al-Jindaniyah Habib Ahmad bin Novel bin Jindan menceritakan, beberapa tahun lalau Syaikhuna Al-Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith dan Al-Habib Salim bin Abdullah bin Umar Asy-Syathiri datang ke Yayasan Al-Fachriyah Tangerang saat khotm Kitab Sahih Al-Bukhari pada bulan Rajab.

Beliau (Al-Habib Zain) menceritakan bahwa yang pertama mensunnahkan atau membuat tradisi pembacaan Kitab Sahih Al-Bukhari pada bulan suci Rajab adalah Al-Hafidz Al-Imam Abdurrahman Ad-Diba'i di Kota Zabid, sebuah kota bersejarah di Yaman. Inilah sunnah atau tradisi pertama yang dilakukan di dalam pembacaan kitab Shohih Al-Bukhari secara khusus pada bulan suci Rajab.



Mereka sangat mengagungkan hadis Nabi Muhammad SAW. Ketika pertama kali Kitab Fathul Baari masuk ke Negeri Yaman, Sulthan beserta seluruh penduduk Yaman dan para ulama yang ada di Zabid mengadakan acara besar-besaran menyambut kedatangan Kitab Fathul Baari yang menjelaskan tentang Kitab Sahih Al-Bukhari.

Seluruh kota dihias demi mengagungkan hadis Nabi Muhammad SAW. Begitulah bentuk pengagungan mereka terhadap hadis Rasulullah SAW.

Al-Imam Abu Zur'ah (seorang muhaddits besar), ketika datang ke kampung salah satu cucu dari Rasulullah SAW yaitu Al-Imam Ali Ridho bin Musa Al-Kazhim bin Ja’far As-Shodiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin ibn Husein ibn Ali ibn Abu Thalib. Sebagaimana diceritakan oleh Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi dalam Kitab Qunuz As-Sa’adah Al-Abadiyah, ketika itu diadakan sambutan secara besar-besaran.

Lebih dari 10.000 ahli hadis berkumpul demi menyambut Al-Imam Ali Ridho. Juru bicara saat itu adalah Al-Imam Abu Zur’ah. Beliau berkata kepada Al-Imam Ali Ridho, "Wahai Imam, engkau adalah cucu Rasulullah SAW. Kami mohon agar engkau membuka tiraimu (Al-Imam Ali Ridho mengendarai kendaraannya dan tertutup dengan tirai), kami ingin melihat wajahmu, wajah yang mengingatkan kepada wajah Rasulullah SAW".

Kemudian dibukalah tirai tersebut. Ketika mereka melihat wajah yang agung, wajah yang disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam Al-Qur'an: "Wajah yang bercahaya yang melambangkan rasa tawadhu, penghambaan kepada Allah, yang mengingatkan tentang Rasulullah SAW". Semua yang memandang, menangis menjerit teringat kepada Rasulullah SAW.

Al-Imam Abu Zur’ah berkata kepada Al-Imam Ali Ridho, "Tolong perdengarkan kepada kami hadis dari kakekmu Rasulullah SAW yang engkau dengar dari ayah dan kakek-kakekmu sampai kepada Rasulullah SAW. Maka saat itu juga Al-Imam Ali Ridho membawakan di hadapan mereka hadits beserta sanadnya, yang kemudian dicatat oleh lebih dari 10.000 tinta, mereka menulis apa yang dikatakan oleh Al-Imam Ali Ridho.

Beliau berkata:

حدثني أبي موسى الكاظم قال حدثني أبي جعفر الصادق قال حدثني أبي محمد الباقر قال حدثني أبي علي زين العابدين قال حدثني أبي الحسين السبط قال حدثني أبي عليابن أبي طالب قال حدثني حبيبي و قرة عيني رسول الله صلى الله عليه و سلم عن جبريل عن ميكائيل عن اسرافيل عن رب العزة قال:
لا إله إلا الله حصني و من قال لا إله إلا الله دخل حصني و من دخل حصني أمن من عذابي

"Telah memberitahukan kepada ayahku Musa Al Kadzim bahwasanya telah memberitahukan kepadaku ayahku Ja’far Ash Shodiq bahwasanya telah memberitahukan kepadaku ayahku Muhammad Al Baqir bahwasanya telah memberitahukan kepadaku ayahku Ali Zainal Abidin bahwasanya telah memberitahukan kepadaku ayahku Al Husain bahwasanya telah memberitahukan kepadaku ayahku Ali bin Abi Tholib bahwasanya telah memberitahukan kepadaku kekasihku dan kecintaan mataku Rasulullah SAW dari Jibril dari Mikail dari Israfil dari Allah Tuhan Alam semesta berfirman, "Kalimat 'Laa ilaaha illallah' adalah benteng-Ku, yang mengatakan 'Laa ilaaha illallah' maka ia masuk ke dalam benteng-Ku, dan yang masuk ke dalam benteng-Ku maka akan selamat dari siksa-Ku."

Pembacaan Kitab Sahih Al-Bukhari dibacakan oleh para ulama dengan berbagai macam niat. Salah satu niat yang terbesar adalah agar Allah Ta'ala mengangkat segala bala dan musibah yang menimpa kaum muslimin. Dahulu para mujahidin fii sabilillah berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad.

Shollahudin Al-Ayubi dan para mujahidin lainnya ketika membebaskan Baitul Maqdis dari tangan orang-orang kafir, mereka bertempur di medan perang demi menegakkan agama Allah Ta'ala. Di saat yang sama mereka memohon kepada para ulama di berbagai penjuru untuk membacakan Kitab Sahih Al-Bukhari, mengharap pertolongan dan kemenangan dari Allah Ta'ala. Hingga tidak selesai pembacaan Kitab Sahih Al-Bukhari, melainkan kemenangan diberikan oleh Allah Ta'ala.

Disebutkan nama-nama yang ada dalam Kitab Sahih Al-Bukhari dari periwayat hadits, setiap nama dapat membuka pintu langit. Salah seorang sahabat bernama Imran bin Hushoin, ketika namanya disebut maka doa diijabah oleh Allah Ta’ala sebagaimana dinyatakan oleh para ulama.

"Satu nama dari sahabat, bagaimana dengan puluhan, ratusan, dan ribuan sahabat disebutkan, para periwayat hadits, yang setiap orang dari mereka adalah manusia yang bertakwa kepada Allah Ta’ala dengan sebenar-benarnya takwa," kata Habib Ahmad.

Demikian keagungan Kitab Shahih Al-Bukhari yang diceritakan oleh para ulama. Semoga kita mendapatkan keberkahan dari kitab tersebut dan keberkahan ilmu dari Al-Imam Bukhari. (Baca Juga: Dahsyatnya Ilmu Imam Al-Bukhari, Usia 7-11 Tahun Hafal 10.000 Hadis)

Wallahu A'lam Bish-Showab
(rhs)
cover top ayah
شَهۡرُ رَمَضَانَ الَّذِىۡٓ اُنۡزِلَ فِيۡهِ الۡقُرۡاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَ بَيِّنٰتٍ مِّنَ الۡهُدٰى وَالۡفُرۡقَانِۚ فَمَنۡ شَهِدَ مِنۡكُمُ الشَّهۡرَ فَلۡيَـصُمۡهُ ؕ وَمَنۡ کَانَ مَرِيۡضًا اَوۡ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنۡ اَيَّامٍ اُخَرَؕ يُرِيۡدُ اللّٰهُ بِکُمُ الۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيۡدُ بِکُمُ الۡعُسۡرَ وَلِتُکۡمِلُوا الۡعِدَّةَ وَلِتُکَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰٮكُمۡ وَلَعَلَّکُمۡ تَشۡكُرُوۡنَ
Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.

(QS. Al-Baqarah:185)
cover bottom ayah
preload video
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak