Hemat dalam Hidup, Ternyata Sifat Istri Berkarakter Surgawi

loading...
Islam menganjurkan umatnya untuk bekerja dan berusaha dengan baik, pun menganjurkan agar hasil usaha dikeluarkan untuk tujuan yang baik dan bermanfaat.

Karena itu, keluarga muslim dalam mengelola pembelanjaan harus berprinsip pada pola konsumsi islami yaitu berorientasi kepada kebutuhan (need) dan manfaat (utility), sehingga hanya akan belanja apa yang dibutuhkan dan hanya akan membutuhkan apa yang bermanfaat.

Berkaitan dengan prinsip pengelolaan tersebut, maka sebagai seorang istri harus memiliki skala prioritas pengeluaran. Harus tahu mana yang dibutuhkan atau sekadar ingin. Islam mengajarkan agar pengeluaran rumah tangga Muslim lebih mengutamakan pembelian kebutuhan-kebutuhan pokok sehingga sesuai dengan tujuan syariat.

(Baca juga :Pentingnya Muslimah Terus Meng-Upgrade Ilmu)

Hemat dalam Hidup

Soal hidup hemat ini, dikutip dari kitab 'Shifat Az-Zauj wa Az-Zaujah Ash-Shalihah' yang ditulis SyaikMuhammad Mutawalli Asy-Sya'rawi,Imam Asy-Sy'rawi rahimahullah setelah membacakan surah Al-A'raf : 31 ( yang artinya : Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan), kemudian ia berkata ,

"Makanan dan minuman adalah hal-hal mubah, karena di dalamnya terdapat unsur-unsur penunjang kehidupan. Karena itu, makan dan minumlah sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup Anda dan jangan berlebihan. Allah ta'ala telah menghalalkan bagi Anda makanan dan mengharamkan sedikit darinya. Jangan mengabaikan yang banyak yang telah dihalalkan bagi Anda dan memilih apa yang telah diharamkan-Nya, karena hal tersebut merupakan tindakan berlebihan dari diri Anda."

(Baca juga :Ekonom: Jangan Paksa Kredit Naik, Nanti Bisa Jadi Kanibalisme)

Dalilnya, jika kita tidak menemukan makanan kecuali bangkai, maka bangkai itu menjadi halal bagikita dengan syarat kita tidak berlebihan dalam memakannya. Kita juga tidak boleh menghalalkan apa yang telah Allah haramkan, karena sesungguhnya Allah telah menyediakan apa yang kita perlukan pada makanan yang dihalalkan-Nya sehingga kita tidak memerlukan lagi makanan haram. Jika tidak ada makanan yang mencukupi kebutuhan kita, sesungguhnya Allah telah menghalalkan bagi kita untuk mengambil makanan sekedar dapat mempertahankan hidup kita.

Orang-orang yang berlebihan adalah mereka yang telah melampaui batas. Tidak ada kata berlebihan dalam makanan halal, akan tetapi yang disebut berlebihan ada pada makanan yang haram. Dalam sebuah atsar disebutkan,
halaman ke-2 dari 3
cover top ayah
اَمۡ حَسِبَ الَّذِيۡنَ يَعۡمَلُوۡنَ السَّيِّاٰتِ اَنۡ يَّسۡبِقُوۡنَا‌ ؕ سَآءَ مَا يَحۡكُمُوۡنَ
Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput dari azab Kami? Sangatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu!

(QS. Al-'Ankabut:4)
cover bottom ayah
preload video