Kisah Abu Dzar Al-Ghifari, Rela Menempuh Perjalanan Jauh Demi Bertemu Rasulullah

loading...
Di suatu pagi hari, ia pergi ke tempat itu didapatinya Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم sedang duduk seorang diri. Didekatinya Rasulullah, lalu berkata: "Selamat pagi, wahai kawan sebangsa!" "Alaikas salam, wahai shahabat", ujar Rasulullah.

Kata Abu Dzar: "Bacakanlah kepadaku hasil gubahan anda!" Nabi berkata: "Ia bukan sya'ir hingga dapat digubah, tetapi adalah Qur'an yang mulia!"

"Bacakanlah kalau begitu!" kata Abu Dzar pula. Maka dibacakanlah oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم, sedang Abu Dzar mendengarkan dengan penuh perhatian. Hingga tidak berselang lama ia punberseru: "Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluh".

"Anda dari mana, saudara sebangsa?" tanya Rasulullah. "Dari Ghifar," ujarnya.

Maka terbukalah senyum lebar di kedua bibir Rasulullah صلى الله عليه سلم, sementara wajahnya diliputi rasa kagum dan takjub. Abu Dzar tersenyum pula, karena ia mengetahui rasa terpendam di balik rasa kagum Rasulullah صلى الله عليه وسلم demi mendengar bahwa orang yang telah mengaku Islam di hadapannya secara terus terang itu, seorang laki-laki dari Ghifar.

Abu Dzar pun menceritakan kisahnya di hadapan Rasulullah. Maka pandangan Rasulullah pun turun naik, tak putus takjub memikirkan tabi'at orang-orang Ghifar, lalu bersabda: "Sesungguhnya Allah Ta'ala memberi petunjuk kepada siapa yang disukai-Nya. Benar, Allah menunjuki siapa yang Dia kehendaki! Abu Dzar Al-Ghifari, salah seorang yang dikehendaki Allah beroleh petunjuk, orang yang dipilih-Nya mendapat hidayah dan kebaikan." [Baca Juga: Mush'ab Bin Umair, Sahabat Nabi Paling Ganteng dan Duta Islam Pertama (1)]

Syahadat Pertama yang Diteriakkan dengan Suara Lantang
Abu Dzar telah masuk Islam tanpa ditunda-tunda lagi. Beliau adalah orang yang kelima atau keenam memeluk Islam di kalangan Muslimin. Jadi ia telah memeluk Agama itu pada hari-hari pertama dan termasuk dalam barisan terdepan. Ketika ia masuk Islam, Rasulullah masih menyampaikan dakwahnya secara diam-diam. Dibisikkannya kepada Abu Dzar begitu pun kepada lima orang lainnya yang telah beriman kepadanya.

Bagi Abu Dzar, tak ada yang dapat dilakukannya sekarangselain memendam keimanan itu dalam dada, lalu meninggalkan kota Makkah. Baru saja masuk Islam, ia telah menghadapkan pertanyaan kepada Rasulullah: "Wahai Rasulullah, apa yang harus sayakerjakan menurut anda?" Kembalilah ke kaummu sampai ada perintahku nanti!" ujar Rasulullah.

"Demi Tuhan yang menguasai nyawaku, saya takkan kembali sebelum meneriakkan Islam dalam masjid!" kata Abu Dzar pula.

Abu Dzar benar-benar seorang revolusioner dan radikal dalam arti positif. Saat terbukanya alam baru dan keimanan yang mantap kepada Rasulullah, ia pun tidak kembali kepada keluarganya dalam keadaan membisu.
halaman ke-2 dari 3
cover top ayah
فَاِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ يُسۡرًا
Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan,

(QS. Al-Insyirah:5)
cover bottom ayah
preload video