Begini Sidang Majelis Syuro Saat Menetapkan Utsman bin Affan Menjadi Khalifah
Jum'at, 18 Desember 2020 - 20:12 WIB
loading...
A
A
A
Pernyataan Abdurrahman ini pun tidak ditanggapi, baik oleh kedua orang calon, maupun orang lainnya. Abdurrahman bin Auf kembali mengambil prakarsa untuk melancarkan jalannya pemilihan. Kepada Ali bin Abu Thalib r.a. ia bertanya: "Bagaimana kalau aku membai'at anda untuk bekerja berdasarkan Kitab Allah, Sunnah Rasul s.a.w. dan mengikuti jejak dua orang Khalifah yang lalu?"
Menghadapi pertanyaan yang agak mendadak itu, dengan cepat Ali menjawab: "Tidak! Aku menerima (pembai'atan itu) jika didasarkan kepada Kitab Allah, Sunnah Rasul SAW dan ijtihadku sendiri." (Baca juga: Alasan Utsman bin Affan Tolak Letakkan Jabatan dan Membiarkan Demonstran )
Tanpa mengajukan pertanyaan lebih lanjut kepada Ali, Abdurrahman bin Auf mengajukan pertanyaan yang sama kepada Utsman bin Affan r.a. Dengan singkat dan tegas Utsman bin Affan r.a. menjawab: "ya!"
Mendengar jawaban Utsman bin Affan r.a. itu, Abdurrahman masih tiga kali lagi mengajukan pertanyaan yang sama kepada Ali bin Abu Thalib r.a. Ali bin Abu Thakib tetap pada jawaban semula.
Akhirnya Abdurrahman bin Auf mendekati Utsman bin Affan r.a. dan memegang tangannya. Ini sebagai tanda pembai'atan yang diberikannya kepada Utsman bin Affan r.a.
Prakarsa Abdurrahman bin Auf ternyata berhasil menyelesaikan pembai'atan Khalifah baru, untuk menggantikan Khalifah Umar bin Khattab r.a. yang telah wafat. (Baca juga: Prestasi Utsman Selama Menjadi Khalifah )
Versi Kedua
Di samping versi Abu Utsman Al Jahidz ini, ada pula versi lain tentang pemilihan Khalifah Utsman r.a. Di dalam versi lain itu dikatakan, bahwa setelah beberapa hari melakukan penjajagan, akhirnya pada suatu hari Abdurrahman bin Auf, meminta kepada kaum muslimin supaya berkumpul di masjid RasulullahSAW.
Dengan menggunakan sorban yang dahulu pernah dipakai oleh Rasulullah SAW, dan dengan berdiri di atas mimbar pada jenjang tempat Rasulullah dulu selalu berdiri, Abdurrahman bin Auf mengucapkan do'a dengan suara lirih.
Sebenarnya perbuatan Abdurrahman seperti di atas menimbulkan keheranan di kalangan hadirin. Sebab, baik Khalifah Abu Bakar r.a. maupun Khalifah Umar r.a. sendiri, belum pernah berbuat demikian.
Sambil memandang ke tempat Ali bin Abu Thalib r.a. duduk, Abdurrahman berseru dengan gaya penuh wibawa: "Hai Ali, majulah engkau!"
Menghadapi pertanyaan yang agak mendadak itu, dengan cepat Ali menjawab: "Tidak! Aku menerima (pembai'atan itu) jika didasarkan kepada Kitab Allah, Sunnah Rasul SAW dan ijtihadku sendiri." (Baca juga: Alasan Utsman bin Affan Tolak Letakkan Jabatan dan Membiarkan Demonstran )
Tanpa mengajukan pertanyaan lebih lanjut kepada Ali, Abdurrahman bin Auf mengajukan pertanyaan yang sama kepada Utsman bin Affan r.a. Dengan singkat dan tegas Utsman bin Affan r.a. menjawab: "ya!"
Mendengar jawaban Utsman bin Affan r.a. itu, Abdurrahman masih tiga kali lagi mengajukan pertanyaan yang sama kepada Ali bin Abu Thalib r.a. Ali bin Abu Thakib tetap pada jawaban semula.
Akhirnya Abdurrahman bin Auf mendekati Utsman bin Affan r.a. dan memegang tangannya. Ini sebagai tanda pembai'atan yang diberikannya kepada Utsman bin Affan r.a.
Prakarsa Abdurrahman bin Auf ternyata berhasil menyelesaikan pembai'atan Khalifah baru, untuk menggantikan Khalifah Umar bin Khattab r.a. yang telah wafat. (Baca juga: Prestasi Utsman Selama Menjadi Khalifah )
Versi Kedua
Di samping versi Abu Utsman Al Jahidz ini, ada pula versi lain tentang pemilihan Khalifah Utsman r.a. Di dalam versi lain itu dikatakan, bahwa setelah beberapa hari melakukan penjajagan, akhirnya pada suatu hari Abdurrahman bin Auf, meminta kepada kaum muslimin supaya berkumpul di masjid RasulullahSAW.
Dengan menggunakan sorban yang dahulu pernah dipakai oleh Rasulullah SAW, dan dengan berdiri di atas mimbar pada jenjang tempat Rasulullah dulu selalu berdiri, Abdurrahman bin Auf mengucapkan do'a dengan suara lirih.
Sebenarnya perbuatan Abdurrahman seperti di atas menimbulkan keheranan di kalangan hadirin. Sebab, baik Khalifah Abu Bakar r.a. maupun Khalifah Umar r.a. sendiri, belum pernah berbuat demikian.
Sambil memandang ke tempat Ali bin Abu Thalib r.a. duduk, Abdurrahman berseru dengan gaya penuh wibawa: "Hai Ali, majulah engkau!"
Lihat Juga :