Waktu Paling Utama Mengerjakan Shalat Isya

loading...
Waktu Paling Utama Mengerjakan Shalat Isya
Salah satu amalan yang paling dicintai Allah adalah shalat berjamaah di masjid. Foto/Ilustrasi
Keutamaan shalat berjamaah di awal-waktu tidak perlu diragukan lagi karena banyak Hadis yang menjelaskannya. Salah satunya mendapat ganjaran 27 derajat dan merupakan salah-satu amal yang paling dicintai Allah Ta'ala.

Seorang jamaah Rumah Fiqih asuhan Ustaz Ahmad Sarwat bertanya tentang waktu Shalat Isya yang paling utama. Di beberapa hadis shahih disebutkan bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم lebih mengutamakan pelaksanaan Shalat Isya di akhir waktu (1/3 malam terakhir). Bahkan beliau ingin sekali menyarankan umatnya untuk melaksanakannya. Sementara tuntunan lain menekankan pentingnya shalat berjamaah di awal waktu. Mana yang lebih baik untuk dikerjakan?

(Baca Juga: Utsman Bin Affan: 9 Kemuliaan Bagi yang Shalat Tepat Waktu)

Berikut penjelasan pengasuh Rumah Fiqih Indonesia Ustaz Ahmad Sarwat sebagaimana dilansir dari web rumahfiqih. Waktu Isya' secara fiqih dimulai sejak berakhirnya waktu Maghrib sepanjang malam hingga dini hari tatkala fajar shadiq terbit. Dasarnya adalah ketetapan dari nash yang menyebutkan bahwa setiap waktu shalat itu memanjang dari berakhirnya waktu shalat sebelumnya hingga masuknya waktu shalat berikutnya, kecuali shalat shubuh.

Dari Abi Qatadah bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: "Tidaklah tidur itu menjadi tafrith, namun tafrith itu bagi orang yang belum shalat hingga datang waktu shalat berikutnya." (HR Muslim)

Sedangkan waktu mukhtar (pilihan) untuk shalat Isya adalah sejak masuk waktu hingga 1/3 malam atau tengah malam. Atas dasar hadis berikut ini: Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: "Seandainya aku tidak memberatkan umatku, aku perintahkan mereka untuk mengakhirkan/menunda shalat Isya hingga 1/3 malam atau setengahnya." (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmizy).

Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم menunda shalat Isya hingga tengah malam, kemudian barulah beliau shalat". (Muttafaqun Alaihi)

Dari Sayyidah Aisyah: "Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengakhirkan shalat Isya pada suatu malam hingga melewati malam dan penduduk Madinah terlelap. Kemudian keluar dan beliau bersabda, "Inilah waktunya (Isya), bila tidak memberatkan ummatku." (HR Muslim dan an-Nasai)

Juga hadis lainnya: Dari Jabir berkata: "...Dan Rasulullah صلى الله عليه وسلم melakukan shalat isya terkadang diakhirkan dan terkadang di awalnya. Bila beliau melihat jamaah telah berkumpul, maka Isya dipercepat dan bila mereka datang lebih lambat, maka shalat Isya diakhirkan." (HR Al-Bukhari, Muslim)

Namun sebaiknya bila melakukan shalat Isya tengah malam tidak dengan tidur terlebih dahulu. Dari Abi Barzah al-aslami bahwa Rasulullah suka mengakhirkan Isya yang disebutnya atmah, namun beliau tidak suka tidur sebelumnya atau bercakap-cakap sesudahnya. (HR Jamaah)

Dengan adanya dalil-dalil di atas, para ulama menyimpulkan bahwa khusus untuk shalat Isya memang tidak selalu dikerjakan di awal waktu. Namun seringkali Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan para sahabat mengerjakannya agak sedikit lebih malam. Namun, tetap dilakukan di masjid secara berjamaah. Bukan shalat sendiri-sendiri di rumah. Dan tentu saja dengan tetap melantunkan Adzan yang berfungsi sebagai panggilan kepada umat Islam untuk berkumpul, meski tidak dilantunkan di awal waktu.

Penundaan pelaksanaan shalat terutama untuk shalat Isya berjamaah ini tidak menyalahi keutamaan. Sebab keutamaan itu sendiri datangnya dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga. Sebab syariat Islami itu sumbernya dari beliau juga dan beliau tentu dari Allah Ta'ala. Maka kalau kita sekarang ini menjalankan hal yang sebagaimana beliau lakukan, tentu saja punya nilai tersendiri. Dan memang demikianlah Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengajarkan agama kepada kita.

(Baca Juga: Bacaan Zikir Lengkap dan Doa Setelah Shalat)

Wallahu A'lam
(rhs)
preload video