Orang Mati Disiksa karena Tangisan Orang yang Hidup

Rabu, 03 Maret 2021 - 07:31 WIB
loading...
A A A
Sebagian orang memahami hadis ini dengan mengira bahwa ini termasuk menyiksa manusia karena dosa orang lain, dan sesungguhnya Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya dan memutuskan apa yang diinginkan-Nya. Mereka meyakini bahwa manusia dapat disiksa karena dosa orang lain, sehingga mereka berpendapat bahwa anak-anak orang kafir dapat masuk neraka karena dosa bapak-bapak mereka.

Baca juga: Kuburan Abu Jahal Angker: Begini Jahatnya Musuh Rasulullah SAW Ini Semasa Hidup

Ia menjelaskan panjang lebar masalah ini, yaitu masalah anak-anak orang kafir masuk neraka karena dosa orang tua mereka. Menurut beliau, ini tidak benar. Yang benar adalah bahwa Allah tidak mengazab kecuali orang yang mendurhakai-Nya dan bahwa orang-orang yang tidak mengalami bencana akan diuji di padang-padang kiamat. Setelah itu, ia mengatakan:

Mengenai penyiksaan orang mati, Nabi SAW tidak mengatakan bahwa orang mati disiksa (dengan kata 'iqab) karena keluarganya menangisinya, tetapi beliau mengatakan diazab (dengan kata adzab). Kata 'adzab lebih umum daripada 'iqab. Azab itu adalah sakit, dan tidak semua orang yang sakit karena suatu sebab berarti mendapat siksa (iqab). Nabi SAW bersabda, “Bepergian itu sebagian dari azab, sebab kalian terhalang dari makanan dan minuman.” Jadi, bepergian (safar) dinamakan 'adzab, bukan 'iqab.

Manusia diazab (merasa sakit) karena hal-hal yang dibenci yang ia rasakan, seperti suara-suara yang menakutkan, roh-roh jahat, dan bentuk-bentuk atau gambar-gambar yang jelek. Ia merasa sakit karena mendengar ini, mencium anu, melihat itu, padahal itu bukan pekerjaannya yang menyebabkannya pantas disiksa ('iqab). Lalu, apa alasan untuk menolak bahwa mayit merasa sakit (diazab) karena ratapan, meskipun ratapan itu bukan amalnya yang menyebabkannya pantas disiksa (terkena 'iqab)?

Di dalam kubur, manusia diazab karena ucapan sebagian manusia, clan merasa sakit karena melihat atau mendengar ucapan mereka. Karena itu, al-Qadhi Abu Ya'la berfatwa bahwa jika di dekat mereka dikerjakan maksiat, mereka akan merasakan sakit, sebagaimana dijelaskan dalam hadis-hadis. Jadi, mereka diazab karena perbuatan maksiat yang dilakukan di dekat kubur mereka, seperti halnya mereka diazab karena ratapan orang-orang atas kematian mereka, Jadi, ratapan adalah sebab azab.

Pemahaman semacam inilah yang diambil oleh Ibn Taimiyah. Pemahaman ini didukung oleh beberapa hadis. An-Nu'man ibn Basyir berkata, “Abdullah Ibn Rawahah pingsan. Istrinya, “Amiah, menangisinya, “Aduh suamiku! berulang-ulang. Lalu Abdullah berkata setelah ia sadar, “Aku dengar apa yang kau ucapkan tadi. Kenapa engkau berbuat seperti itu? Karena itu, tatkala Abdullah wafat, istrinya tidak menangisi kepergiannya.

Makna yang lebih jelas terdapat dalam hadis dari Abu Musa alAsy'ari bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Bila seseorang mati, lalu orang menangisi kepergiannya dan berkata, “Aduh, aku ditinggal! Wahai Tuanku!' atau perkataan semacam itu, maka dua malaikat menyertainya dan memukulnya, "Apakah dulu kamu juga begitu!?” (HR Tirmidzi dan ia berkata, “Ini hadis hasan gharib) Al-Hafizh berkata setelah menutukan hadis ini dalam al-Talkhis, “Hadis ini diriwayatkan dan disahihkan oleh Hakim serta dikuatkan oleh hadis sahih dari an-Nu'man ibn Basyir.”

Baca juga: Angkernya Kuburan Abu Jahal: Di Sini Rasulullah SAW Bicara dengan Mayatnya

Perlu ditekankan pula di sini bahwa tidak semua orang mati diazab karena ratapan. Karena, terkadang penyebabnya tertolak oleh hal yang bertentangan dengannya—sebagaimana pendapat Ibn Taimiyah—seperti terjadi pada sebagian manusia yang karena kekuatannya dapat menolak bahaya dari suara-suara menakutkan, roh dan bentuk-bentuk yang buruk.

Ibn Taimiyah menyebutkan bahwa dalam hadis-hadis ancaman itu disebutkan sebabnya, dan terkadang sebab itu terkalahkan oleh penghalang-penghalang yang menolaknya, seperti tobat yang diterima, kebaikan yang dapat menghapus dosa, musibah-musibah yang menghapus dosa, syafaat orang-orang yang dapat memberikan syafaat dan atau karena karunia, rahmat, dan ampunan Allah.
Terakhir, Ibn Taimiyah menjelaskan bahwa azab yang menimpa orang mati yang mukmin di dalam kubur karena ia diratapi, oleh Allah akan dijadikan penghapus dosa orang itu.
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Selain Al Quran, Inilah...
Selain Al Quran, Inilah 5 Hadis Tentang Perintah Haji
Inilah Dalil Naqli Ibadah...
Inilah Dalil Naqli Ibadah Haji dalam Beberapa Surat Al Quran dan Hadis Nabi SAW
Dalil Perintah Kurban...
Dalil Perintah Kurban dan Aqiqah dalam Al Quran serta Hadis
Kumpulan Hadis Nabi...
Kumpulan Hadis Nabi SAW Tentang Huruhara Akhir Zaman
Huru-hara di Ambang...
Huru-hara di Ambang Kiamat : Nubuat Nabi SAW Mulai Terbukti?
Konflik Global & Nubuwat:...
Konflik Global & Nubuwat: Benarkah Perang AS-Israel vs Iran Adalah Al-Malhamah Al-Kubra?
Rekomendasi
Google Maps Temukan...
Google Maps Temukan Pulau yang Dipercaya Sarang Gozilla
3,5 Abad Diburu, Harta...
3,5 Abad Diburu, Harta Karun di Laut Bahama Masih Banyak Tersisa, Ini Penampakannya
Berbentuk Aneh, Fosil...
Berbentuk Aneh, Fosil Pohon Seuss Berusia 350 Juta Tahun Ditemukan
Artikel Terkini
7 Kisah Para Nabi di...
7 Kisah Para Nabi di Bulan Muharram yang Diabadikan Al Quran
3 Puasa Sunnah Muharram...
3 Puasa Sunnah Muharram yang Pahala Tidak Main-main!
Sebaik-baikya Puasa...
Sebaik-baikya Puasa Setelah Ramadan, Ternyata Puasa Muharram!
Wamenhaj Ungkap Dugaan...
Wamenhaj Ungkap Dugaan Penipuan Rp1,4 M Modus Dam dan Badal Haji
Larangan Menikah di...
Larangan Menikah di Bulan Suro: Bagaimana Pandangan Islam?
Doa Memasuki Tahun Baru...
Doa Memasuki Tahun Baru Islam, Jangan Lupa Diamalkan!
Infografis
Penemuan-penemuan Ilmuwan...
Penemuan-penemuan Ilmuwan Muslim yang Mengubah Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved