Renungan: Kebahagiaan Dunia Materi Bak Sungai yang Tercemar
Jum'at, 09 April 2021 - 20:24 WIB
loading...
A
A
A
Akhirnya ia frustasi. Celana dan tangannya telah belepotan kotoran tapi gagal mengambil barang berharga itu. Ia akhirnya kembali menyusuri sungai itu dengan langkah gontai. Anehnya, ia masih memikirkan kalung itu. Ia merasa tertekan.
Maka ia memutuskan kembali lagi ke lokasi kalung itu. Kali ini ia bertekad untuk mendapatkannya, apa pun akan dilakukan. Dia memutuskan untuk terjun ke dalam sungai lagi. Dia jatuh, dan mencari kalung itu, namun ia gagal. Kali ini ia benar-benar bingung dan keluar dari sungai dengan frustasi. Bayangan 10 miliar hilang sudah.
Pada saat itu, seorang lelaki tua bertongkat, melihat dirinya yang belepotan air kotor. Pak tua bertanya, apa yang terjadi. Satpam ini enggan mengakui karena ia khawatir harus membagi jika dapat hadiah nanti. Satpam ini diam saja. Tapi Pak Tua tahu bahwa pria ini tengah menghadapi masalah.
Sekali lagi orang tua ini mendesak agar satpam bercerita apa yang terjadi. Ia berjanji tidak akan memberitahu siapa pun. Akhirnya satpam ini bercerita tentang kalung itu. “Saya mencoba mengambil tapi gagal,” katanya.
Baca juga: Renungan: Ingin Mendekati Tuhan? Berkhidmatlah kepada Sesama Manusia Dulu
Pak Tua mengatakan, “cobalah kamu melihat ke atas, ke arah cabang-cabang pohon, bukan ke sungai yang kotor itu.”
Satpam itu mendongak dan terkejut ketika melihat kalung itu tergantung pada cabang pohon. Ia menyadari bahwa yang dilakukan tadi hanyalah pantulan berlian yang menggantung di dahan pohon.
"Kebahagiaan dunia materi bak sungai tercemar, sungai kotor; karena merupakan cerminan dari kebahagiaan kebenaran dunia spiritual," ujar sang guru.
"Kita tidak pernah bisa mencapai kebahagiaan yang kita cari, tidak peduli seberapa keras kita berusaha dalam kehidupan material. Sebaliknya, kita harus melihat ke atas, ke arah Allah, sumber kebahagiaan sejati. Berhentilah mengejar kebahagiaan di dunia materi, karena kebahagiaan rohani adalah satu-satunya yang dapat memuaskan kita sepenuhnya," sang guru menutup kisahnya.
Baca juga: Renungan: Mengejar Wadah, Tak Sempat Menikmati Isi
Maka ia memutuskan kembali lagi ke lokasi kalung itu. Kali ini ia bertekad untuk mendapatkannya, apa pun akan dilakukan. Dia memutuskan untuk terjun ke dalam sungai lagi. Dia jatuh, dan mencari kalung itu, namun ia gagal. Kali ini ia benar-benar bingung dan keluar dari sungai dengan frustasi. Bayangan 10 miliar hilang sudah.
Pada saat itu, seorang lelaki tua bertongkat, melihat dirinya yang belepotan air kotor. Pak tua bertanya, apa yang terjadi. Satpam ini enggan mengakui karena ia khawatir harus membagi jika dapat hadiah nanti. Satpam ini diam saja. Tapi Pak Tua tahu bahwa pria ini tengah menghadapi masalah.
Sekali lagi orang tua ini mendesak agar satpam bercerita apa yang terjadi. Ia berjanji tidak akan memberitahu siapa pun. Akhirnya satpam ini bercerita tentang kalung itu. “Saya mencoba mengambil tapi gagal,” katanya.
Baca juga: Renungan: Ingin Mendekati Tuhan? Berkhidmatlah kepada Sesama Manusia Dulu
Pak Tua mengatakan, “cobalah kamu melihat ke atas, ke arah cabang-cabang pohon, bukan ke sungai yang kotor itu.”
Satpam itu mendongak dan terkejut ketika melihat kalung itu tergantung pada cabang pohon. Ia menyadari bahwa yang dilakukan tadi hanyalah pantulan berlian yang menggantung di dahan pohon.
"Kebahagiaan dunia materi bak sungai tercemar, sungai kotor; karena merupakan cerminan dari kebahagiaan kebenaran dunia spiritual," ujar sang guru.
"Kita tidak pernah bisa mencapai kebahagiaan yang kita cari, tidak peduli seberapa keras kita berusaha dalam kehidupan material. Sebaliknya, kita harus melihat ke atas, ke arah Allah, sumber kebahagiaan sejati. Berhentilah mengejar kebahagiaan di dunia materi, karena kebahagiaan rohani adalah satu-satunya yang dapat memuaskan kita sepenuhnya," sang guru menutup kisahnya.
Baca juga: Renungan: Mengejar Wadah, Tak Sempat Menikmati Isi
(mhy)
Lihat Juga :