Utusan Nabi ke Kisra dan Balasan Allah bagi Penyobek Surat Rasulullah
Rabu, 28 April 2021 - 17:27 WIB
loading...
A
A
A
Kisra bisa memahami. “Biarkan dia mendekat kepadaku!” kata Kisra kepada pengawal.
Abdullah pun menghampiri Kisra, kemudian menyerahkan surat dari Rasulullah itu. Selanjutnya Kaisar memanggil sekretaris berkebangsaan Arab, berasal dari Hirah. Kisra memerintahkan sekretaris itu membuka surat tersebut di hadapan baginda dan menyuruh membacakan isinya:
“Dari Muhammad Rasulullah, kepada Kisra, Maharaja Kisra. Berbahagialah siapa yang mengikut petunjuk....”
Baru sampai di situ sekretaris membaca surat, api kemarahan menyala di dada Kisra. Mukanya merah, dan urat lehernya membengkak. Ia tersinggung berat karena Rasulullah menyebut nama dirinya sendiri lebih dahulu sebelum menuliskan nama Kisra. Lalu Kisra merebut surat tersebut dari tangan sekretaris, dan menyobeknya tanpa mengetahui isi surat selanjutnya.
“Berani-berani dia menulis seperti itu kepadaku....! padahal dia budakku...!” teriak Kisra.
Lalu ia memerintahkan Abdullah bin Hudzafah diusir dari majlis. Abdullah pun keluar dan Majlis Kisra. Dia tidak mengetahui apa yang akan terjadi pada dirinya sesudah itu. Mungkin dia akan dibunuh dan mungkin pula akan tetap hidup di dunia bebas.
Tetapi tidak lama Abdullah berpikiran begitu, ia pun berkata kepada dirinya sendiri, “Demi Allah! Aku tidak peduli apa pun yang akan terjadi. Yang penting tugas yang dibebankan Rasulullah kepadaku telah kulaksanakan dengan baik. Surat Rasulullah telah kusampaikan ke tangan yang bersangkutan.”
Lalu dengan sigap dia melompat menaiki kendaraannya. Ia memacu kudanya secepat-cepatnya.
Baca juga: Dipepet Tiga Kapal Iran di Teluk Persia, Kapal Perang AS Lepaskan Tembakan Peringatan
Sementara itu, setelah kemarahan Kisra Abrawiz agak mereda, diperintahkannya pula para pengawal supaya menghadapkan Abdullah kembali. Tetapi Abdullah sudah tidak ada di tempat. Para pengawal mencari Abdullah ke mana mana. Jejaknya pun tidak dapat mereka temukan.
Mereka melacak Abdullah di jalan yang menuju ke Jazirah Arab. Tetapi Abdullah sudah jauh, sehingga tidak mungkin tersusul oleh mereka. Setibanya Abdullah di hadapan Rasulullah, dilaporkannya segala kejadian yang dilihat dan dialaminya, dan perbuatan Kisra menyobek surat beliau.
Mendengar laporan Abdullah, Rasulullah berkata “Semoga Allah menyobek-nyobek kerajaannya pula!”
Selanjutnya, Kisra menulis surat kepada Badzan, sekutunya di Yaman untuk menangkap Rasulullah, kemudian membawa beliau ke hadapan Kisra.
Badzan segera melaksanakan perintah Maharaja Persia. Badzan mengirim dua orang pilihan untuk menangkap Rasulullah, disertai sepucuk surat untuk beliau. Surat itu memerintahkan Rasulullah agar segera berangkat menghadap Kisra bersama-sama dengan kedua orang itu tanpa menunggu-nunggu. Badzan memerintahkan pula kepada kedua utusannya supaya menyelidiki dengan seksama di mana Rasulullah berada, agar teliti dalam segala urusan, dan supaya melapor kepadanya sewaktu-waktu.
Kedua utusan Badzan segera berangkat. Maka dalam tempo singkat keduanya telah sampai di Thaif. Di sana mereka bertemu dengan para pedagang suku Quraisy. Keduanya bertanya kepada mereka di mana Rasulullah berada. Para pedagang mengatakan, “Muhammad berada di Yatsrib.”
Abdullah pun menghampiri Kisra, kemudian menyerahkan surat dari Rasulullah itu. Selanjutnya Kaisar memanggil sekretaris berkebangsaan Arab, berasal dari Hirah. Kisra memerintahkan sekretaris itu membuka surat tersebut di hadapan baginda dan menyuruh membacakan isinya:
“Dari Muhammad Rasulullah, kepada Kisra, Maharaja Kisra. Berbahagialah siapa yang mengikut petunjuk....”
Baru sampai di situ sekretaris membaca surat, api kemarahan menyala di dada Kisra. Mukanya merah, dan urat lehernya membengkak. Ia tersinggung berat karena Rasulullah menyebut nama dirinya sendiri lebih dahulu sebelum menuliskan nama Kisra. Lalu Kisra merebut surat tersebut dari tangan sekretaris, dan menyobeknya tanpa mengetahui isi surat selanjutnya.
“Berani-berani dia menulis seperti itu kepadaku....! padahal dia budakku...!” teriak Kisra.
Lalu ia memerintahkan Abdullah bin Hudzafah diusir dari majlis. Abdullah pun keluar dan Majlis Kisra. Dia tidak mengetahui apa yang akan terjadi pada dirinya sesudah itu. Mungkin dia akan dibunuh dan mungkin pula akan tetap hidup di dunia bebas.
Tetapi tidak lama Abdullah berpikiran begitu, ia pun berkata kepada dirinya sendiri, “Demi Allah! Aku tidak peduli apa pun yang akan terjadi. Yang penting tugas yang dibebankan Rasulullah kepadaku telah kulaksanakan dengan baik. Surat Rasulullah telah kusampaikan ke tangan yang bersangkutan.”
Lalu dengan sigap dia melompat menaiki kendaraannya. Ia memacu kudanya secepat-cepatnya.
Baca juga: Dipepet Tiga Kapal Iran di Teluk Persia, Kapal Perang AS Lepaskan Tembakan Peringatan
Sementara itu, setelah kemarahan Kisra Abrawiz agak mereda, diperintahkannya pula para pengawal supaya menghadapkan Abdullah kembali. Tetapi Abdullah sudah tidak ada di tempat. Para pengawal mencari Abdullah ke mana mana. Jejaknya pun tidak dapat mereka temukan.
Mereka melacak Abdullah di jalan yang menuju ke Jazirah Arab. Tetapi Abdullah sudah jauh, sehingga tidak mungkin tersusul oleh mereka. Setibanya Abdullah di hadapan Rasulullah, dilaporkannya segala kejadian yang dilihat dan dialaminya, dan perbuatan Kisra menyobek surat beliau.
Mendengar laporan Abdullah, Rasulullah berkata “Semoga Allah menyobek-nyobek kerajaannya pula!”
Selanjutnya, Kisra menulis surat kepada Badzan, sekutunya di Yaman untuk menangkap Rasulullah, kemudian membawa beliau ke hadapan Kisra.
Badzan segera melaksanakan perintah Maharaja Persia. Badzan mengirim dua orang pilihan untuk menangkap Rasulullah, disertai sepucuk surat untuk beliau. Surat itu memerintahkan Rasulullah agar segera berangkat menghadap Kisra bersama-sama dengan kedua orang itu tanpa menunggu-nunggu. Badzan memerintahkan pula kepada kedua utusannya supaya menyelidiki dengan seksama di mana Rasulullah berada, agar teliti dalam segala urusan, dan supaya melapor kepadanya sewaktu-waktu.
Kedua utusan Badzan segera berangkat. Maka dalam tempo singkat keduanya telah sampai di Thaif. Di sana mereka bertemu dengan para pedagang suku Quraisy. Keduanya bertanya kepada mereka di mana Rasulullah berada. Para pedagang mengatakan, “Muhammad berada di Yatsrib.”
Lihat Juga :