Ahlul Kitab Pada Masa Turunnya Al-Qur'an, Basis Yahudi di Madinah
Sabtu, 22 Mei 2021 - 15:29 WIB
loading...
A
A
A
"Mereka bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah, 'Ruh itu termasuk urusan Tuhanku.' Kamu tidak diberi pengetahuan kecuali sedikit" ( QS Al-Isra' [17]: 85 ).
Baca juga: Apakah Ahlul Kitab Semua Sama? Ini Penjelasan Quraish Shihab
Kehadiran Nabi Muhammad SAW ke Madinah, disambut baik oleh Aus dan Khazraj bukan saja sebagai pemersatu mereka yang selama ini telah lelah bertempur dan mendambakan perdamaian, tetapi juga karena mereka yakin bahwa beliau adalah utusan Allah, yang sebelumnya telah mereka ketahui kehadirannya melalui orang-orang Yahudi.
Adapun orang-orang Nasrani lebih banyak bertempat tinggal di Yaman, bukan di Madinah. Kalaupun ada yang di sana, mereka tidak mempunyai pengaruh politik atau ekonomi, namun mereka juga disebut oleh Al-Qur'an sebagai Ahl Al-Kitab.
Kembali kepada persoalan di atas, ditemukan bahwa ulama-ulama tafsir bila menemukan istilah Ahl Al-Kitab dalam sebuah ayat, seringkali menjelaskan siapa yang dimaksud dengan istilah tersebut. Hal ini wajar karena Al-Qur'an secara tegas menyatakan bahwa Ahl Al-Kitab tidak sama dalam sifat dan sikapnya terhadap Islam dan kaum Muslim ( QS Ali 'Imran [3]: 113 ).
Itu pula sebabnya, ujar Quraish Shihab, dalam hal-hal yang dapat menimbulkan kerancuan pemahaman istilah itu, Al-Qur'an tidak jarang memberi penjelasan tambahan yang berkaitan dengan sifat atau ciri khusus Ahl Al-Kitab yang dimaksudnya.
Perhatikan misalnya ayat yang berbicara tentang kebolehan kawin dengan wanita Ahl Al-Kitab, di sana ditambahkan kata wal muhshanat (wanita-wanita yang memelihara kehormatannya), sedang ketika berbicara tentang kebolehan memakan sembelihan mereka, Al-Qur'an mengemukakannya tanpa penjelasan atau syarat.
Baca juga: Sifat dan Sikap Ahlul Kitab kepada Muslim Menurut Al-Qur'an
Baca juga: Apakah Ahlul Kitab Semua Sama? Ini Penjelasan Quraish Shihab
Kehadiran Nabi Muhammad SAW ke Madinah, disambut baik oleh Aus dan Khazraj bukan saja sebagai pemersatu mereka yang selama ini telah lelah bertempur dan mendambakan perdamaian, tetapi juga karena mereka yakin bahwa beliau adalah utusan Allah, yang sebelumnya telah mereka ketahui kehadirannya melalui orang-orang Yahudi.
Adapun orang-orang Nasrani lebih banyak bertempat tinggal di Yaman, bukan di Madinah. Kalaupun ada yang di sana, mereka tidak mempunyai pengaruh politik atau ekonomi, namun mereka juga disebut oleh Al-Qur'an sebagai Ahl Al-Kitab.
Kembali kepada persoalan di atas, ditemukan bahwa ulama-ulama tafsir bila menemukan istilah Ahl Al-Kitab dalam sebuah ayat, seringkali menjelaskan siapa yang dimaksud dengan istilah tersebut. Hal ini wajar karena Al-Qur'an secara tegas menyatakan bahwa Ahl Al-Kitab tidak sama dalam sifat dan sikapnya terhadap Islam dan kaum Muslim ( QS Ali 'Imran [3]: 113 ).
Itu pula sebabnya, ujar Quraish Shihab, dalam hal-hal yang dapat menimbulkan kerancuan pemahaman istilah itu, Al-Qur'an tidak jarang memberi penjelasan tambahan yang berkaitan dengan sifat atau ciri khusus Ahl Al-Kitab yang dimaksudnya.
Perhatikan misalnya ayat yang berbicara tentang kebolehan kawin dengan wanita Ahl Al-Kitab, di sana ditambahkan kata wal muhshanat (wanita-wanita yang memelihara kehormatannya), sedang ketika berbicara tentang kebolehan memakan sembelihan mereka, Al-Qur'an mengemukakannya tanpa penjelasan atau syarat.
Baca juga: Sifat dan Sikap Ahlul Kitab kepada Muslim Menurut Al-Qur'an
(mhy)
Lihat Juga :