Masih Percaya Mitos Larangan Menikah Pada Bulan Syawal?
Senin, 25 Mei 2020 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
Al-Imam An-Nawawi menerangkan hadis di atas di dalam syarah Shahih Muslim (9/209), “Di dalam hadis ini terdapat anjuran untuk menikahkan, menikah, dan membangun rumah tangga pada bulan Syawal. Para ulama kami (ulama Syafi’iyyah) telah menegaskan anjuran tersebut dan berdalil dengan hadis ini."
Dan Aisyah Radiyallahu ‘anhaa ketika menceritakan hal ini bermaksud membantah apa yang diyakini masyarakat jahiliyyah dahulu dan anggapan takhayul sebagian orang awam pada masa kini yang menyatakan kemakruhan menikah, menikahkan, dan membangun rumah tangga di bulan Syawal. Dan ini adalah batil, tidak ada dasarnya. Ini termasuk peninggalan jahiliyyah yang bertathayyur (menganggap sial). Hal itu, dikarenakan penamaan syawal dari kata al-isyalah dan ar-raf’u (menghilangkan/mengangkat).” (yang bermakna ketidakberuntungan menurut mereka).
Selanjutnya, menurut sebagaian riwayat, setelah Khadijah wafat, ada dua wanita yang dinikahi Nabi: Aisyah dan Saudah. Keduanya dinikahi Nabi pada bulan yang sama, yaitu Syawal. Hanya saja, karena Aisyah waktu itu masih berusia enam tahun, Nabi memilih untuk tinggal bersama Saudah selama tiga tahun terlebih dahulu. Setelah itu, baru Nabi membangun jalinan rumah tangga bersama Aisyah, setelah ia tumbuh dewasa. Itupun bukan kemauan Nabi sendiri, tapi atas pertimbangan matang dari Saudah. Berkumpul dengan Aisyah, juga Nabi lakukan di bulan yang sama, Syawal.
Namun, Al-Waqidi berpendapat bahwa Sayyidah Saudahlah orang yang pertama kali dinikahi Nabi setelah Sayyidah Khadijah wafat, kemudian Sayyidah Aisyah. Sayyidah Saudah dinikahi pada bulan Ramadan, sedangkan Sayyidah Aisyah dinikahi bulan Syawal, dua tahun sebelum hijrah Nabi ke Madinah. (Baca juga: Saudah Binti Zam'ah, Istri Nabi yang Paling Panjang Tangannya )
Ada satu lagi yang dinikahi pada bulan Syawal, yaitu Umu Salamah. (Baca juga: Sayyidah Ummu Salamah, Istri Nabi Nan Rupawan dan Berumur Panjang )
Nabi menikah pada bulan Syawal bukan tanpa alasan. Tapi untuk menghilangkan tradisi buruk. Sebab pada masa Jahiliyah, Allah menurunkan wabah penyakit yang menyebabkan kematian, termasuk pada pengantin yang sedang melangsungkan pernikahan. Sehingga mereka beranggapan bahwa menikah di bulan Syawal menimbulkan malapetaka.
Menikah pada bulan Syawal untuk saat ini tentu bagus. Bulan tersebut sangat strategis untuk dijadikan momen spesial calon pengantin, karena umumnya keluarga berkumpul saat silaturahim halal-bihalal setelah lebaran. Sehingga, resepsi pernikahan diharapkan menjadi wadah kumpulnya seluruh keluarga. (Baca juga: Sayyidah Hafshah, Istri Rasulullah yang Sempat Dapat Talak Satu )
Dan Aisyah Radiyallahu ‘anhaa ketika menceritakan hal ini bermaksud membantah apa yang diyakini masyarakat jahiliyyah dahulu dan anggapan takhayul sebagian orang awam pada masa kini yang menyatakan kemakruhan menikah, menikahkan, dan membangun rumah tangga di bulan Syawal. Dan ini adalah batil, tidak ada dasarnya. Ini termasuk peninggalan jahiliyyah yang bertathayyur (menganggap sial). Hal itu, dikarenakan penamaan syawal dari kata al-isyalah dan ar-raf’u (menghilangkan/mengangkat).” (yang bermakna ketidakberuntungan menurut mereka).
Selanjutnya, menurut sebagaian riwayat, setelah Khadijah wafat, ada dua wanita yang dinikahi Nabi: Aisyah dan Saudah. Keduanya dinikahi Nabi pada bulan yang sama, yaitu Syawal. Hanya saja, karena Aisyah waktu itu masih berusia enam tahun, Nabi memilih untuk tinggal bersama Saudah selama tiga tahun terlebih dahulu. Setelah itu, baru Nabi membangun jalinan rumah tangga bersama Aisyah, setelah ia tumbuh dewasa. Itupun bukan kemauan Nabi sendiri, tapi atas pertimbangan matang dari Saudah. Berkumpul dengan Aisyah, juga Nabi lakukan di bulan yang sama, Syawal.
Namun, Al-Waqidi berpendapat bahwa Sayyidah Saudahlah orang yang pertama kali dinikahi Nabi setelah Sayyidah Khadijah wafat, kemudian Sayyidah Aisyah. Sayyidah Saudah dinikahi pada bulan Ramadan, sedangkan Sayyidah Aisyah dinikahi bulan Syawal, dua tahun sebelum hijrah Nabi ke Madinah. (Baca juga: Saudah Binti Zam'ah, Istri Nabi yang Paling Panjang Tangannya )
Ada satu lagi yang dinikahi pada bulan Syawal, yaitu Umu Salamah. (Baca juga: Sayyidah Ummu Salamah, Istri Nabi Nan Rupawan dan Berumur Panjang )
Nabi menikah pada bulan Syawal bukan tanpa alasan. Tapi untuk menghilangkan tradisi buruk. Sebab pada masa Jahiliyah, Allah menurunkan wabah penyakit yang menyebabkan kematian, termasuk pada pengantin yang sedang melangsungkan pernikahan. Sehingga mereka beranggapan bahwa menikah di bulan Syawal menimbulkan malapetaka.
Menikah pada bulan Syawal untuk saat ini tentu bagus. Bulan tersebut sangat strategis untuk dijadikan momen spesial calon pengantin, karena umumnya keluarga berkumpul saat silaturahim halal-bihalal setelah lebaran. Sehingga, resepsi pernikahan diharapkan menjadi wadah kumpulnya seluruh keluarga. (Baca juga: Sayyidah Hafshah, Istri Rasulullah yang Sempat Dapat Talak Satu )
(mhy)
Lihat Juga :