Bagaimana Mempraktikkan Keyakinan Asyhadu Alla Ilaha Ilallah?
Selasa, 08 Juni 2021 - 13:49 WIB
loading...
A
A
A
Akan tetapi kalau tidak memiliki cahaya mata hati, ketika ada kejadian seseorang akan menyalahkan sebabnya karena sesuatu atau karena orang lain.
"Gagal-sukses, enak-enggak enak, Allah dulu yang dipandang, karena Dia lebih dekat dibanding dirimu sendiri. Peristiwa yang dekat denganmu, apa yang dipandang dekat, Allah harus lebih dulu dipandang sebagai 'sang penyebab'. Kesadaran untuk itu sulit tanpa cahaya mata hati," ujar Kiai Luqman.
Bukti bahwa seseorang menyadari hakikat yang sesungguhnya adalah mempersaksikan apa yang tampak nyata betul ada, adalah dengan menyadari ketiadaan diri. "Ya, Allah sesungguhnya aku ini enggak ada, tiba-tiba begitu. Karena kita tenggelam dalam kedekatan ilahiah. (Orang akan berkata) enggak ada diriku. Kenapa? Karena yang ada adalah Engkau," imbuhnya.
Seorang hamba akan betul-betul menyadari, bagaimana Allah tidak ada, sedangkan Allah berada di balik sebab akibat apa pun. "Kemarin, dahulu, sekarang, Engkau adalah di balik itu semua. Bagaimana Engkau enggak ada?" kata Kiai Luqman.
Apabila seseorang sudah menyadari bahwa yang tampil adalah Mahaada-nya Allah pasti aku pun tiada, segalanya tiada. "Inilah suasana fana," kata Kiai Luqman.
Baca juga: Tasawuf dan Para Sufi Menurut Ibnu Taimiyah
"Gagal-sukses, enak-enggak enak, Allah dulu yang dipandang, karena Dia lebih dekat dibanding dirimu sendiri. Peristiwa yang dekat denganmu, apa yang dipandang dekat, Allah harus lebih dulu dipandang sebagai 'sang penyebab'. Kesadaran untuk itu sulit tanpa cahaya mata hati," ujar Kiai Luqman.
Bukti bahwa seseorang menyadari hakikat yang sesungguhnya adalah mempersaksikan apa yang tampak nyata betul ada, adalah dengan menyadari ketiadaan diri. "Ya, Allah sesungguhnya aku ini enggak ada, tiba-tiba begitu. Karena kita tenggelam dalam kedekatan ilahiah. (Orang akan berkata) enggak ada diriku. Kenapa? Karena yang ada adalah Engkau," imbuhnya.
Seorang hamba akan betul-betul menyadari, bagaimana Allah tidak ada, sedangkan Allah berada di balik sebab akibat apa pun. "Kemarin, dahulu, sekarang, Engkau adalah di balik itu semua. Bagaimana Engkau enggak ada?" kata Kiai Luqman.
Apabila seseorang sudah menyadari bahwa yang tampil adalah Mahaada-nya Allah pasti aku pun tiada, segalanya tiada. "Inilah suasana fana," kata Kiai Luqman.
Baca juga: Tasawuf dan Para Sufi Menurut Ibnu Taimiyah
(mhy)
Lihat Juga :