Kisah Quraish Shihab dan Gus Mus Saat Kuliah di Mesir
Kamis, 12 Agustus 2021 - 15:20 WIB
loading...
A
A
A
Sedangkan bagi Quraish, sahabat adalah perwujudan atas diri sendiri kepada orang lain. “Kami bersahabat, tapi saling menjaga. Kalau saya gembira, Gus Mus ikut gembira. Kalau saya gundah, Gus Mus ikut gundah,” kata Quraish.
Hubungan persahabatan model beginilah yang membuat keduanya tetap akrab meski seringkali mempunyai perbedaan-perbedaan pandangan.
Quraish sangat mempertimbangkan pendapat Gus Mus tentang suatu hal, begitupun sebaliknya.
Hal yang mengesankan lainnya, keduanya sama-sama menggemari sepakbola. Keduanya pun penggemar Madridtista atau fans klub Spanyol, Real Madrid.
Terlebih tentang klub bola bernama Bu’uts yang dibentuk keduanya semasa mahasiswa di Al-Azhar. “Dia jago, tapi sering saya gagalkan mencetak gol,” kata Quraish yang lebih sering menjadi penjaga gawang, tidak seperti Gus Mus yang lebih sering menjadi penyerang.
Gus Mus menilai olahraga yang paling digemari sejagat itu ialah perwujudan kehidupan yang main-main atau laibun wa lahwun dalam bahasa Al-Quran. “Coba Anda lihat orang di sepakbola. Itu, kan, aneh. Kenapa bolanya hanya satu? Habis ditendang ke luar, lalu dimasukkan lagi. Di tendang ke luar lagi, dimasukkan lagi," kata Gus Mus.
"Itu sama halnya dengan hidup. Kita mengejar sesuatu, memperebutkan sesuatu dalam sebuah permainan. Jadi, jangan serius-serius dalam hidup,” katanya.
Baca juga: Gus Mus: Radhar Panca Dahana, Pejuang Kebudayaan yang Tulus
Sementara menurut Quraish, sepakbola adalah tuntunan dalam mencapai tujuan kehidupan. Menurutnya, antar satu manusia dan manusia lain mesti saling bekerjasama dan berusaha bersama-sama, seperti halnya sebelas pemain dalam satu klub bola yang berusaha mencetak gol ke gawang lawan. “Tidak selalu yang mencetak gol yang hebat, tapi yang mengoper bola,” kata Qurasih.
Sepakbola mengajarkan manusia untuk siap menerima kekalahan dalam kehidupan, bersabar, dan bersemangat, tambah Quraish. “Tidak ada yang dicurangi dalam sepakbola.”
Hubungan persahabatan model beginilah yang membuat keduanya tetap akrab meski seringkali mempunyai perbedaan-perbedaan pandangan.
Quraish sangat mempertimbangkan pendapat Gus Mus tentang suatu hal, begitupun sebaliknya.
Hal yang mengesankan lainnya, keduanya sama-sama menggemari sepakbola. Keduanya pun penggemar Madridtista atau fans klub Spanyol, Real Madrid.
Terlebih tentang klub bola bernama Bu’uts yang dibentuk keduanya semasa mahasiswa di Al-Azhar. “Dia jago, tapi sering saya gagalkan mencetak gol,” kata Quraish yang lebih sering menjadi penjaga gawang, tidak seperti Gus Mus yang lebih sering menjadi penyerang.
Gus Mus menilai olahraga yang paling digemari sejagat itu ialah perwujudan kehidupan yang main-main atau laibun wa lahwun dalam bahasa Al-Quran. “Coba Anda lihat orang di sepakbola. Itu, kan, aneh. Kenapa bolanya hanya satu? Habis ditendang ke luar, lalu dimasukkan lagi. Di tendang ke luar lagi, dimasukkan lagi," kata Gus Mus.
"Itu sama halnya dengan hidup. Kita mengejar sesuatu, memperebutkan sesuatu dalam sebuah permainan. Jadi, jangan serius-serius dalam hidup,” katanya.
Baca juga: Gus Mus: Radhar Panca Dahana, Pejuang Kebudayaan yang Tulus
Sementara menurut Quraish, sepakbola adalah tuntunan dalam mencapai tujuan kehidupan. Menurutnya, antar satu manusia dan manusia lain mesti saling bekerjasama dan berusaha bersama-sama, seperti halnya sebelas pemain dalam satu klub bola yang berusaha mencetak gol ke gawang lawan. “Tidak selalu yang mencetak gol yang hebat, tapi yang mengoper bola,” kata Qurasih.
Sepakbola mengajarkan manusia untuk siap menerima kekalahan dalam kehidupan, bersabar, dan bersemangat, tambah Quraish. “Tidak ada yang dicurangi dalam sepakbola.”
(mhy)
Lihat Juga :