Akhir Hindun binti Utbah, Si Pemakan Hati Hamzah Bin Abdul Muthalib
Senin, 04 Oktober 2021 - 17:55 WIB
loading...
A
A
A
Mendengar jawaban ini Abu Sufyan berkata kepada Umar, “Kemarilah padaku.”
Nabi menyuruhnya pergi dan melihat apa yang dia inginkan. Ketika dia datang Abu Sufyan berkata, “Demi Allah, Umar, apakah kami (Quraisy) sudah membunuh Muhammad?”
“Demi Allah, tidak, beliau mendengarkan apa yang engkau katakan sekarang,” jawabnya.
Dia berkata, “Aku menganggap engkau lebih jujur dan dapat dipercaya ketimbang Ibnu Qamiah, mengacu pada klaim terakhirnya bahwa dia telah membunuh Muhammad.”
Kemudian Abu Sufyan berkata, “Ada beberapa mayat yang dimutilasi di antara yang mati di sisimu. Demi Allah, hal itu tidak memberiku kepuasan, dan tidak ada kemarahan (diriku kepada para jenazah). Aku tidak melarang mau pun memerintahkan untuk memutilasi.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq)
Di kemudian hari karena perbuatannya ini, Hindun terkenal di kalangan kaum Muslim sebagai “Hindun si pemakan hati”, dan anak-anaknya kemudian terkenal sebagai “anak wanita pemakan hati”.
Baca juga: Kaki Jasad Hamzah bin Abdul Muthalib Berdarah Saat Terkena Cangkul
Dialog Hindun dan Rasulullah SAW
Dendam Hindun membara kepada kaum muslimin menyusul tewasnya saudara Hindun seperti Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah dan Walid bin Utbah dalam Perang Badar.
Pada saat Perang Uhud itu, Abu Sufyan (suami Hindun) menjadi salah seorang panglima pasukan kafir Quraisy Makkah. Dia berperang bersama Hindun yang tergabung dalam 15 orang wanita lainnya.
Pada saat peristiwa Fathu Makkah (pembukaan kota Makkah) dengan masuknya pasukan kaum Muslimin secara damai di Kota Suci itu, Hindun menjadi salah seorang yang masuk Islam. Keislamannya ini dilakukan dengan baik.
Hal itu pernah dikatakannya pada Abu Sufyan, "Aku ingin menjadi pengikut Muhammad.
"Bukankah aku lihat kau kemarin begitu membencinya," kata Abu Sufyan.
"Sesungguhnya aku sebelumnya tidak pernah melihat orang yang beribadah pada Allah itu dengan benar hingga apa yang kusaksikan tadi malam. Demi Allah, mereka betah berdiri, ruku’ dan sujud."
"Jika kau tetap dengan keputusanmu maka laksanakanlah, pergilah membawa seorang dari kaummu untuk menemanimu," kata Abu Sufyan.
Kemudian Hindun berangkat menemui Rasulullah untuk berbaiat. Ia datang dengan menyamar menggunakan cadar, merasa takut bila kemudian Rasulullah menangkapnya setelah mengenal suaranya.
Saat itu banyak pula pria—termasuk Abu Sufyan—dan wanita yang datang berbaiat. Rasulullah didampingi oleh para sahabatnya.
Hindun berkata, "Wahai Rasulullah, segala puji bagi Allah yang telah menurunkan agama yang menjadi pilihan-Nya, agar dapat bermanfaat bagi diriku. Semoga Allah memberi rahmat-Nya padamu, wahai Muhammad. Sesungguhnya aku wanita yang telah beriman kepada Allah dan membenarkan apa yang disampaikan Rasul-Nya."
Rasulullah SAW berkata, "Selamat datang bagimu."
"Demi Allah," kata Hindun, "Tiada sesuatu pun di muka bumi ini penduduk yang berdiam di tenda-tenda lebih aku cintai dari mereka selalu bersama dengan tendamu. Dan sungguh aku telah menjadi bagian dari itu. Dan tidak ada di muka bumi ini penduduk yang berdiam di tenda-tenda lebih aku cintai dari mereka yang selalu ingin dekat denganmu."
"Dan sebagai tambahan, bacakanlah pada kaum wanita Al-Qur'an. Kau harus bersumpah setia bahwa selamanya kau tidak akan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun," pesan Rasulullah SAW.
"Demi Allah, sesungguhnya kau berhak menyuruh apa pun pada kami, apa yang diperintahkan pada kaum lak-laki dan kami akan menaatinya."
"Janganlah kau mencuri!"
"Demi Allah, jika aku memakai harta kepunyaan Abu Sufyan karena suatu keperluan, aku tidak tahu, apakah itu halal atau tidak?" tanya Hindun.
Nabi menyuruhnya pergi dan melihat apa yang dia inginkan. Ketika dia datang Abu Sufyan berkata, “Demi Allah, Umar, apakah kami (Quraisy) sudah membunuh Muhammad?”
“Demi Allah, tidak, beliau mendengarkan apa yang engkau katakan sekarang,” jawabnya.
Dia berkata, “Aku menganggap engkau lebih jujur dan dapat dipercaya ketimbang Ibnu Qamiah, mengacu pada klaim terakhirnya bahwa dia telah membunuh Muhammad.”
Kemudian Abu Sufyan berkata, “Ada beberapa mayat yang dimutilasi di antara yang mati di sisimu. Demi Allah, hal itu tidak memberiku kepuasan, dan tidak ada kemarahan (diriku kepada para jenazah). Aku tidak melarang mau pun memerintahkan untuk memutilasi.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq)
Di kemudian hari karena perbuatannya ini, Hindun terkenal di kalangan kaum Muslim sebagai “Hindun si pemakan hati”, dan anak-anaknya kemudian terkenal sebagai “anak wanita pemakan hati”.
Baca juga: Kaki Jasad Hamzah bin Abdul Muthalib Berdarah Saat Terkena Cangkul
Dialog Hindun dan Rasulullah SAW
Dendam Hindun membara kepada kaum muslimin menyusul tewasnya saudara Hindun seperti Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah dan Walid bin Utbah dalam Perang Badar.
Pada saat Perang Uhud itu, Abu Sufyan (suami Hindun) menjadi salah seorang panglima pasukan kafir Quraisy Makkah. Dia berperang bersama Hindun yang tergabung dalam 15 orang wanita lainnya.
Pada saat peristiwa Fathu Makkah (pembukaan kota Makkah) dengan masuknya pasukan kaum Muslimin secara damai di Kota Suci itu, Hindun menjadi salah seorang yang masuk Islam. Keislamannya ini dilakukan dengan baik.
Hal itu pernah dikatakannya pada Abu Sufyan, "Aku ingin menjadi pengikut Muhammad.
"Bukankah aku lihat kau kemarin begitu membencinya," kata Abu Sufyan.
"Sesungguhnya aku sebelumnya tidak pernah melihat orang yang beribadah pada Allah itu dengan benar hingga apa yang kusaksikan tadi malam. Demi Allah, mereka betah berdiri, ruku’ dan sujud."
"Jika kau tetap dengan keputusanmu maka laksanakanlah, pergilah membawa seorang dari kaummu untuk menemanimu," kata Abu Sufyan.
Kemudian Hindun berangkat menemui Rasulullah untuk berbaiat. Ia datang dengan menyamar menggunakan cadar, merasa takut bila kemudian Rasulullah menangkapnya setelah mengenal suaranya.
Saat itu banyak pula pria—termasuk Abu Sufyan—dan wanita yang datang berbaiat. Rasulullah didampingi oleh para sahabatnya.
Hindun berkata, "Wahai Rasulullah, segala puji bagi Allah yang telah menurunkan agama yang menjadi pilihan-Nya, agar dapat bermanfaat bagi diriku. Semoga Allah memberi rahmat-Nya padamu, wahai Muhammad. Sesungguhnya aku wanita yang telah beriman kepada Allah dan membenarkan apa yang disampaikan Rasul-Nya."
Rasulullah SAW berkata, "Selamat datang bagimu."
"Demi Allah," kata Hindun, "Tiada sesuatu pun di muka bumi ini penduduk yang berdiam di tenda-tenda lebih aku cintai dari mereka selalu bersama dengan tendamu. Dan sungguh aku telah menjadi bagian dari itu. Dan tidak ada di muka bumi ini penduduk yang berdiam di tenda-tenda lebih aku cintai dari mereka yang selalu ingin dekat denganmu."
"Dan sebagai tambahan, bacakanlah pada kaum wanita Al-Qur'an. Kau harus bersumpah setia bahwa selamanya kau tidak akan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun," pesan Rasulullah SAW.
"Demi Allah, sesungguhnya kau berhak menyuruh apa pun pada kami, apa yang diperintahkan pada kaum lak-laki dan kami akan menaatinya."
"Janganlah kau mencuri!"
"Demi Allah, jika aku memakai harta kepunyaan Abu Sufyan karena suatu keperluan, aku tidak tahu, apakah itu halal atau tidak?" tanya Hindun.
Lihat Juga :