Makna Simbolik Kata Ramadhan Menurut Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani
Rabu, 13 April 2022 - 12:57 WIB
loading...
A
A
A
Demikian pula, Al-Quran menjadi penjelas terhadap penyaksian dan tanda-tanda “petunjuk” yang begitu nyata. Petunjuk ini akan menyampaikan mereka yang telah tersingkap dari rahasia-rahasia keesaan (tauhid) menuju ke tingkatan kasat mata (ainul yaqin).
Sementara itu, fungsi Al-Quran sebagai pembeda (al-Furqan), atau yang menjadi pembeda antara al-Haqq (kebenaran sejati) yaitu Allah Yang Mahawujud dan al-bathil (kenisbian; ketiadaan) dari seluruh wujud alam semesta selain Allah itu sendiri. Pembeda (al-Furqan) ini akan mengantarkan mereka ke tingkatan pengetahuan hakiki (haqq al-yaqin).
Baca juga: Ketika Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani Menginginkan Kematian
Makna Simbolik
Syaikh Abdul Qadir al-Jilani menyematkan makna simbolik dari kata Ramadhan. Huruf ra sama dengan ridhwanullah (keridaan Allah); mim berarti muhabatullah (cinta kasih Allah terhadap para pelaku dosa); huruf dhadh diartikan dengan dhimmanullah (tanggung jawab atau garansi dari Allah); huruf alif bermakna alfatullah (keramahan Allah); huruf nun sama dengan nurullah (cahaya Allah).
Menurut Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, karena itulah, bulan Ramadhan menjadi bulan keridhaan, bulan kecintaan Allah, bulannya Allah yang penuh tanggung jawab, bulan keramahan Allah, bulan limpahan dan karamah bagi para wali dan pelaku kebajikan.
Demikianlah, segala sesuatu memiliki pusat orbitnya masing-masing. Dari pusat orbit itulah semua hal bermula. Dia menjadi semacam pijakan awal dalam keberlangsungan alam semesta. Dia menjadi yang terbaik di antara yang lain.
Syaikh Abdul Qadir al-Jilani menandai Ramadhan sebagai punggawa di antara bulan-bulan lainnya (sayyidusy syuhur). Seperti Adam sebagai Tuan bagi sekalian manusia, Muhammad sebagai Tuannya bangsa Arab dan non Arab, Salman Al-Farisi sebagai punggawanya orang-orang Persia; Al-Baqarah sebagai sayyid Al-Quran, dan ayat kursi menjadi tuannya surat Al-Baqarah.
Baca juga: Hakikat Mimpi Menurut Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani
Ramadhan, kata Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani, ibarat hati di dalam dada; seperti kehadiran para nabi di antara sekian makhluk. Layaknya Mekkah bagi Arab, di mana Dajjal tak diizinkan menginjakkan kakinya di sana. Setan terbelenggu, dan para Nabi memberikan syafaat bagi para pelaku kemaksiatan.
Bulan Ramadhan menjadi syafaat bagi mereka yang berpuasa, sementara hati-hati dihiasi dengan cahaya makrifat dan keimanan. Bulan itu, dilimpahi kilauan bacaan Al-Quran.
Sementara itu, fungsi Al-Quran sebagai pembeda (al-Furqan), atau yang menjadi pembeda antara al-Haqq (kebenaran sejati) yaitu Allah Yang Mahawujud dan al-bathil (kenisbian; ketiadaan) dari seluruh wujud alam semesta selain Allah itu sendiri. Pembeda (al-Furqan) ini akan mengantarkan mereka ke tingkatan pengetahuan hakiki (haqq al-yaqin).
Baca juga: Ketika Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani Menginginkan Kematian
Makna Simbolik
Syaikh Abdul Qadir al-Jilani menyematkan makna simbolik dari kata Ramadhan. Huruf ra sama dengan ridhwanullah (keridaan Allah); mim berarti muhabatullah (cinta kasih Allah terhadap para pelaku dosa); huruf dhadh diartikan dengan dhimmanullah (tanggung jawab atau garansi dari Allah); huruf alif bermakna alfatullah (keramahan Allah); huruf nun sama dengan nurullah (cahaya Allah).
Menurut Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, karena itulah, bulan Ramadhan menjadi bulan keridhaan, bulan kecintaan Allah, bulannya Allah yang penuh tanggung jawab, bulan keramahan Allah, bulan limpahan dan karamah bagi para wali dan pelaku kebajikan.
Demikianlah, segala sesuatu memiliki pusat orbitnya masing-masing. Dari pusat orbit itulah semua hal bermula. Dia menjadi semacam pijakan awal dalam keberlangsungan alam semesta. Dia menjadi yang terbaik di antara yang lain.
Syaikh Abdul Qadir al-Jilani menandai Ramadhan sebagai punggawa di antara bulan-bulan lainnya (sayyidusy syuhur). Seperti Adam sebagai Tuan bagi sekalian manusia, Muhammad sebagai Tuannya bangsa Arab dan non Arab, Salman Al-Farisi sebagai punggawanya orang-orang Persia; Al-Baqarah sebagai sayyid Al-Quran, dan ayat kursi menjadi tuannya surat Al-Baqarah.
Baca juga: Hakikat Mimpi Menurut Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani
Ramadhan, kata Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani, ibarat hati di dalam dada; seperti kehadiran para nabi di antara sekian makhluk. Layaknya Mekkah bagi Arab, di mana Dajjal tak diizinkan menginjakkan kakinya di sana. Setan terbelenggu, dan para Nabi memberikan syafaat bagi para pelaku kemaksiatan.
Bulan Ramadhan menjadi syafaat bagi mereka yang berpuasa, sementara hati-hati dihiasi dengan cahaya makrifat dan keimanan. Bulan itu, dilimpahi kilauan bacaan Al-Quran.
(mhy)
Lihat Juga :