Nuzulul Qur'an: Tafsir dan Kisah Turunnya Surat Al-Alaq
Jum'at, 15 April 2022 - 16:34 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Al-Qur'an: Ayat Pertama Turun Al-Alaq, yang Terakhir Ada 9 Pendapat
Tidak lama kemudian Waraqah meninggal dunia dan wahyu terhenti, sehingga Rasulullah SAW benar-benar bersedih hati. Berdasarkan berita yang sampai kepada kami, kesedihan beliau itu berlangsung terus-menerus, agar beliau turun dari puncak gunung.
Setiap kali beliau sampai di puncak gunung dengan tujuan menjatuhkan diri, maka Jibril muncul seraya berkata: “Wahai Muhammad sesungguhnya engkau benar-benar Rasul Allah.”
Dengan demikian, maka hati beliau pun menjadi tenang dan jiwanya menjadi stabil dan setelah itu beliau kembali pulang. Dan jika tenggang waktu tidak turunnya wahyu itu terlalu lama, maka beliau akan melakukan hal yang sama. Di mana jika beliau sampai di puncak gunung, maka malaikat Jibril tampak olehnya dan mengucapkan hal yang sama kepada beliau.
Tafsir Surat Al-Alaq
Surat pertama yang turun ini memiliki penamaan surat al-Alaq, surat iqro, surat bil-qolam karena Allah SWT mengawali surat ini dengan kata-kata tersebut. Sedangkan al-Alaq artinya yaitu darah yang menggumal dengan bentuk seperti ulat kecil.
“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan, dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah” ( QS Al-‘Alaq ; 1-2)
Kata Iqra’ dalam kamus memiliki beragam macam makna; menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, dan beberapa makna lainnya. Kata ini kemudian diikuti dengan bismi rabbika.
Para ulama berpendapat bahwa pada masa jahiliyah, para kaum Quraish sering kali sebelum melakukan pekerjaannya mengagungkan apa yang mereka sembah, seperti mengucapkan bismi Allata. Maka dalam ayat ini Allah tegaskan untuk senantiasa hanya menyertakan Allah dalam setiap tindakan.
Baca juga: Surat Al-Kafirun, Surat yang Sangat Ditakuti Iblis
Syaikh Abdul Halim Mahmud, mengatakan dalam kitabnya, “dengan kalimat iqra’ bismi Rabbika dalam kalimat dan semangatnya seakan mengatakan, bacalah demi Tuhanmu, bergeraklah demi Tuhanmu, bekerjalah demi Tuhanmu. Begitupun ketika hendak berhenti dari aktivitas. Sehingga, segala seluruh kehidupan, sujud, cara dan tujuan seseorang dilakukan karena Allah.”
Dalam kedua ayat tersebut, tidak disebutkan objek yang dituju. Sehingga ini mengindikasikan seruan bacaan itu bersifat umum. Artinya manusia diperintah untuk membaca apapun yang ada di sekitarnya, dengan menyebut nama Tuhannya, dan membaca apa saja yang telah diciptakan Tuhannya hingga ia mengenal-Nya.
Tidak lama kemudian Waraqah meninggal dunia dan wahyu terhenti, sehingga Rasulullah SAW benar-benar bersedih hati. Berdasarkan berita yang sampai kepada kami, kesedihan beliau itu berlangsung terus-menerus, agar beliau turun dari puncak gunung.
Setiap kali beliau sampai di puncak gunung dengan tujuan menjatuhkan diri, maka Jibril muncul seraya berkata: “Wahai Muhammad sesungguhnya engkau benar-benar Rasul Allah.”
Dengan demikian, maka hati beliau pun menjadi tenang dan jiwanya menjadi stabil dan setelah itu beliau kembali pulang. Dan jika tenggang waktu tidak turunnya wahyu itu terlalu lama, maka beliau akan melakukan hal yang sama. Di mana jika beliau sampai di puncak gunung, maka malaikat Jibril tampak olehnya dan mengucapkan hal yang sama kepada beliau.
Tafsir Surat Al-Alaq
Surat pertama yang turun ini memiliki penamaan surat al-Alaq, surat iqro, surat bil-qolam karena Allah SWT mengawali surat ini dengan kata-kata tersebut. Sedangkan al-Alaq artinya yaitu darah yang menggumal dengan bentuk seperti ulat kecil.
اقرأ باسم ربك الذي خلق . خلق الانسان من علق
“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan, dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah” ( QS Al-‘Alaq ; 1-2)
Kata Iqra’ dalam kamus memiliki beragam macam makna; menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, dan beberapa makna lainnya. Kata ini kemudian diikuti dengan bismi rabbika.
Para ulama berpendapat bahwa pada masa jahiliyah, para kaum Quraish sering kali sebelum melakukan pekerjaannya mengagungkan apa yang mereka sembah, seperti mengucapkan bismi Allata. Maka dalam ayat ini Allah tegaskan untuk senantiasa hanya menyertakan Allah dalam setiap tindakan.
Baca juga: Surat Al-Kafirun, Surat yang Sangat Ditakuti Iblis
Syaikh Abdul Halim Mahmud, mengatakan dalam kitabnya, “dengan kalimat iqra’ bismi Rabbika dalam kalimat dan semangatnya seakan mengatakan, bacalah demi Tuhanmu, bergeraklah demi Tuhanmu, bekerjalah demi Tuhanmu. Begitupun ketika hendak berhenti dari aktivitas. Sehingga, segala seluruh kehidupan, sujud, cara dan tujuan seseorang dilakukan karena Allah.”
Dalam kedua ayat tersebut, tidak disebutkan objek yang dituju. Sehingga ini mengindikasikan seruan bacaan itu bersifat umum. Artinya manusia diperintah untuk membaca apapun yang ada di sekitarnya, dengan menyebut nama Tuhannya, dan membaca apa saja yang telah diciptakan Tuhannya hingga ia mengenal-Nya.
Lihat Juga :