Halalbihalal dalam Al-Qur'an: Begini Makna Minal 'Aidin Wal Faizin
Jum'at, 06 Mei 2022 - 05:02 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Halal Bihalal Menurut Al-Quran: Tak Ada Alasan untuk Bilang Tiada Maaf Bagimu
Pengampunan
Quraish juga menjelaskan terdapat beberapa istilah yang digunakan Al-Qur'an untuk menyebutkan pengampunan (pembebasan dosa), dan upaya menjalin hubungan serasi antara manusia dengan Tuhannya, antara lain taba (taubat), 'afa (memaafkan), ghafara (mengampuni), kaffara (menutupi), dan shafah.
Masing-masing istilah digunakan untuk tujuan tertentu dan memberikan maksud yang berbeda.
Taubat
Al-Qur'an mengisyaratkan adanya dua pelaku taubat, yakni Allah dan manusia. Di sini dapat ditambahkan bahwa ada dua macam taubat (kembalinya) Allah. Pertama, lahir sebelum lahirnya taubat manusia secara aktual. Ketika itu ia baru dalam bentuk keinginan dan kesadaran tentang dosa-dosanya. Taubat pertama Tuhan ini antara lain tercermin dari firman-Nya dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 186: “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat...”
Menurut Quraish, kata 'ibadi (hamba-hamba-Ku) baik yang ditulis dengan memakai huruf Ya' (sebanyak 17 kali) maupun tidak (4 kali), semuanya digunakan untuk menunjukkan hamba Allah yang taat atau yang bergelimang di dalam dosa tetapi berkeinginan kembali kepada-Nya.
Perhatikan firman-Nya:
Masuklah ke dalam kelompok hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku ( QS Al-Fajr [89] : 29-30 ).
Dan firman-Nya:
Wahai hamba-hamba-Ku yang bergelimang dalam dosa (dan telah menyadari dosanya sehingga ingin kembali), janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah ( QS Al-Zumar [39] : 53 )
Surat Al-Baqarah ayat 186 di atas menjelaskan bahwa Allah dekat dengan hamba-hamba-Nya, walaupun mereka masih bergelimang dalam dosa dan maksiat tetapi telah memiliki kesadaran untuk bertaubat.
Taubat Allah (kembalinya Allah) terhadap yang berkeinginan dekat kepada-Nya, lebih jelas terlihat pada ayat berikut:
Pengampunan
Quraish juga menjelaskan terdapat beberapa istilah yang digunakan Al-Qur'an untuk menyebutkan pengampunan (pembebasan dosa), dan upaya menjalin hubungan serasi antara manusia dengan Tuhannya, antara lain taba (taubat), 'afa (memaafkan), ghafara (mengampuni), kaffara (menutupi), dan shafah.
Masing-masing istilah digunakan untuk tujuan tertentu dan memberikan maksud yang berbeda.
Taubat
Al-Qur'an mengisyaratkan adanya dua pelaku taubat, yakni Allah dan manusia. Di sini dapat ditambahkan bahwa ada dua macam taubat (kembalinya) Allah. Pertama, lahir sebelum lahirnya taubat manusia secara aktual. Ketika itu ia baru dalam bentuk keinginan dan kesadaran tentang dosa-dosanya. Taubat pertama Tuhan ini antara lain tercermin dari firman-Nya dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 186: “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat...”
Menurut Quraish, kata 'ibadi (hamba-hamba-Ku) baik yang ditulis dengan memakai huruf Ya' (sebanyak 17 kali) maupun tidak (4 kali), semuanya digunakan untuk menunjukkan hamba Allah yang taat atau yang bergelimang di dalam dosa tetapi berkeinginan kembali kepada-Nya.
Perhatikan firman-Nya:
Masuklah ke dalam kelompok hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku ( QS Al-Fajr [89] : 29-30 ).
Dan firman-Nya:
Wahai hamba-hamba-Ku yang bergelimang dalam dosa (dan telah menyadari dosanya sehingga ingin kembali), janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah ( QS Al-Zumar [39] : 53 )
Surat Al-Baqarah ayat 186 di atas menjelaskan bahwa Allah dekat dengan hamba-hamba-Nya, walaupun mereka masih bergelimang dalam dosa dan maksiat tetapi telah memiliki kesadaran untuk bertaubat.
Taubat Allah (kembalinya Allah) terhadap yang berkeinginan dekat kepada-Nya, lebih jelas terlihat pada ayat berikut:
Lihat Juga :