Kisah Bijak Para Sufi: Teh dan Angan-Angan Minuman Surgawi
Senin, 22 Juni 2020 - 06:27 WIB
loading...
A
A
A
Teh tersebut dibawa sepanjang Jalur Sutra, dan pedagang yang membawa permata, mutiara, atau sutra, yang beristirahat sejenak, akan membuat teh untuk diminum. Pedagang itu memberikan teh itu kepada orang-orang yang berbagi tenda istirahat dengannya, entah mereka tahu tentang teh atau tidak. Inilah awal mula Chaikhanas, kedai-kedai teh sepanjang Peking hingga Bokhara dan Samarkand. Dan mereka yang meminumnya, tahu.
Pada awalnya, ingatlah bahwa hanya orang yang berlagak bijaksana dan agung yang mencari-cari minuman surgawi tetapi juga berseru, "Tetapi teh ini tak lebih dari sekadar daun kering!", atau "Hoi, orang asing, mengapa kau rebus air ketika yang kuminta adalah minuman surgawi?", atau lagi "Bagaimana saya tahu apa ini?" Katakan padaku, "Di samping warna cairan ini bukan emas, tetapi kuning tua!"
Ketika kebenaran itu nyata, dan saat orang-orang telah mengecap teh tersebut, situasinya berbalik; orang yang mengatakan hal-hal layaknya orang agung dan berpengetahuan ternyata tolol. Dan, kenyataan serupa berlangsung pula pada masa kini.
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Saudagar dan Darwis Kristen
===
Berbagai macam minuman sering digunakan oleh para bijaksana sebagai alegori untuk pencarian atas pengetahuan yang lebih agung.
Kopi , minuman yang belum lama memasyarakat, ditemukan oleh darwis Syeh Abu Al-Hasan Shadhili, di Mocha, Arab.
Meskipun para Sufi kerap menyatakan dengan jelas bahwa 'minuman ajaib' (anggur, air hidup) merupakan analogi dari suatu pengalaman tertentu, para peneliti yang berpikiran harafiah cenderung meyakini bahwa asal muasal mitos tersebut bersumber dari penemuan pengaruh halusinatif dan memabukkan dalam beberapa jenis minuman.
Menurut para darwis, pemikiran semacam itu merupakan cermin ketidakmampuan para peneliti untuk memahami bahwa mereka berbicara mengenai hal yang sama. (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Kandil Besi)
Kisah ini berasal dari ajaran-ajaran Guru Hamadani (wafat tahun 1140), guru dari Yasawi yang Agung dari Turkistan.
Dinukil dari Idries Shah "Tales of The Dervishes" diterjemahkan Ahmad Bahar menjadi Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi.
Pada awalnya, ingatlah bahwa hanya orang yang berlagak bijaksana dan agung yang mencari-cari minuman surgawi tetapi juga berseru, "Tetapi teh ini tak lebih dari sekadar daun kering!", atau "Hoi, orang asing, mengapa kau rebus air ketika yang kuminta adalah minuman surgawi?", atau lagi "Bagaimana saya tahu apa ini?" Katakan padaku, "Di samping warna cairan ini bukan emas, tetapi kuning tua!"
Ketika kebenaran itu nyata, dan saat orang-orang telah mengecap teh tersebut, situasinya berbalik; orang yang mengatakan hal-hal layaknya orang agung dan berpengetahuan ternyata tolol. Dan, kenyataan serupa berlangsung pula pada masa kini.
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Saudagar dan Darwis Kristen
===
Berbagai macam minuman sering digunakan oleh para bijaksana sebagai alegori untuk pencarian atas pengetahuan yang lebih agung.
Kopi , minuman yang belum lama memasyarakat, ditemukan oleh darwis Syeh Abu Al-Hasan Shadhili, di Mocha, Arab.
Meskipun para Sufi kerap menyatakan dengan jelas bahwa 'minuman ajaib' (anggur, air hidup) merupakan analogi dari suatu pengalaman tertentu, para peneliti yang berpikiran harafiah cenderung meyakini bahwa asal muasal mitos tersebut bersumber dari penemuan pengaruh halusinatif dan memabukkan dalam beberapa jenis minuman.
Menurut para darwis, pemikiran semacam itu merupakan cermin ketidakmampuan para peneliti untuk memahami bahwa mereka berbicara mengenai hal yang sama. (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Kandil Besi)
Kisah ini berasal dari ajaran-ajaran Guru Hamadani (wafat tahun 1140), guru dari Yasawi yang Agung dari Turkistan.
Dinukil dari Idries Shah "Tales of The Dervishes" diterjemahkan Ahmad Bahar menjadi Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi.
(mhy)
Lihat Juga :