Tuntutlah Ilmu Walau ke Negeri China, Hadis atau Bukan?
Minggu, 19 Juni 2022 - 17:50 WIB
loading...
A
A
A
Abu Ubaidah menyimpulkan hadis ini adalah hadis batil, dan tidak ada jalan lain yang menguatkannya.
Baca juga: Kisah Penebar Hadis Palsu di Zaman Imam Ahmad bin Hanbal
Matan Hadis
Syaikh Abdul Aziz bin Baz, setelah menjelaskan lemahnya hadis ini, mengatakan: “Seandainya hadis ini shahih, maka tidaklah menunjukkan tentang keutamaan negeri China dan penduduknya, karena maksud hadis ini –kalaulah memang shahih– adalah anjuran untuk menuntut ilmu sekalipun harus menempuh perjalanan yang sangat jauh. Sebab menuntut ilmu merupakan perkara yang sangat penting. Ilmu merupakan sebab kebaikan dunia dan akhirat bagi orang yang mengamalkannya.
Jadi, bukanlah maksud hadits ini adalah negeri Cina itu sendiri, tetapi karena Cina adalah negeri yang jauh dari tanah Arab, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikannya sebagai permisalan. Hal ini sangat jelas sekali bagi orang yang mau memperhatikan hadits ini”. (Lihat At-Tuhfatul Karimah fi Bayani Ba’dhi Ahadits Maudhu’ah wa Saqimah hal. 60)
Adapun tambahan dalam hadis ini dengan lafadz:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.
Syaikh Al-Albani dalam kitabnya "Silsilah Ahadits Adh-Dha’ifah" mengatakan lafadz ini diriwayatkan dari banyak jalur sekali dari Anas sehingga bisa terangkat ke derajat hasan sebagaimana dikatakan oleh Al-Hafizh al-Mizzi.
Ia mengaku telah mengumpulkan hingga sekarang sampai delapan jalur. Selain dari Anas, hadis juga diriwayatkan dari sejumlah sahabat lainnya seperti Ibnu Umar, Abu Sa’id, Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Ali.
"Saya sekarang sedang mengumpulkan jalur-jalur lainnya dan menelitinya sehingga bisa menghukumi statusnya secara benar baik shahih, hasan, atau lemah. Setelah itu, saya mempelajarinya dan mampu mencapai kurang lebih dua puluh jalur dalam kitab Takhrij Musykilah Al-Faqr (48-62) dan saya menyimpulkan bahwa hadits ini derajatnya hasan,” katanya.
Baca juga: Amalan di Bulan Syawal Berdasar Hadis Sahih, Dhaif, dan Palsu
Sementara itu, Al-Hafizh As-Suyuthi juga telah mengumpulkan jalur-jalur hadis ini dalam sebuah risalah khusus “Juz Thuruqi Hadits Tholabil Ilmi Faridhotun Ala Kulli Muslimin”, telah dicetak dengan editor Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi, cet Dar “Ammar, Yordania.
Baca juga: Kisah Penebar Hadis Palsu di Zaman Imam Ahmad bin Hanbal
Matan Hadis
Syaikh Abdul Aziz bin Baz, setelah menjelaskan lemahnya hadis ini, mengatakan: “Seandainya hadis ini shahih, maka tidaklah menunjukkan tentang keutamaan negeri China dan penduduknya, karena maksud hadis ini –kalaulah memang shahih– adalah anjuran untuk menuntut ilmu sekalipun harus menempuh perjalanan yang sangat jauh. Sebab menuntut ilmu merupakan perkara yang sangat penting. Ilmu merupakan sebab kebaikan dunia dan akhirat bagi orang yang mengamalkannya.
Jadi, bukanlah maksud hadits ini adalah negeri Cina itu sendiri, tetapi karena Cina adalah negeri yang jauh dari tanah Arab, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikannya sebagai permisalan. Hal ini sangat jelas sekali bagi orang yang mau memperhatikan hadits ini”. (Lihat At-Tuhfatul Karimah fi Bayani Ba’dhi Ahadits Maudhu’ah wa Saqimah hal. 60)
Adapun tambahan dalam hadis ini dengan lafadz:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.
Syaikh Al-Albani dalam kitabnya "Silsilah Ahadits Adh-Dha’ifah" mengatakan lafadz ini diriwayatkan dari banyak jalur sekali dari Anas sehingga bisa terangkat ke derajat hasan sebagaimana dikatakan oleh Al-Hafizh al-Mizzi.
Ia mengaku telah mengumpulkan hingga sekarang sampai delapan jalur. Selain dari Anas, hadis juga diriwayatkan dari sejumlah sahabat lainnya seperti Ibnu Umar, Abu Sa’id, Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Ali.
"Saya sekarang sedang mengumpulkan jalur-jalur lainnya dan menelitinya sehingga bisa menghukumi statusnya secara benar baik shahih, hasan, atau lemah. Setelah itu, saya mempelajarinya dan mampu mencapai kurang lebih dua puluh jalur dalam kitab Takhrij Musykilah Al-Faqr (48-62) dan saya menyimpulkan bahwa hadits ini derajatnya hasan,” katanya.
Baca juga: Amalan di Bulan Syawal Berdasar Hadis Sahih, Dhaif, dan Palsu
Sementara itu, Al-Hafizh As-Suyuthi juga telah mengumpulkan jalur-jalur hadis ini dalam sebuah risalah khusus “Juz Thuruqi Hadits Tholabil Ilmi Faridhotun Ala Kulli Muslimin”, telah dicetak dengan editor Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi, cet Dar “Ammar, Yordania.
Lihat Juga :