Hakim Jami', si Jenius yang Bikin Pujangga Tidak Nyaman
Sabtu, 08 Oktober 2022 - 14:25 WIB
loading...
A
A
A
Ia tidak pernah berhenti menunjukkan, bahwa banyak orang yang berusaha mengalahkan rasa harga diri, melakukan demikian, karena dengan cara tersebut mereka dapat mengangkat diri mereka sendiri dengan kemenangan.
Baca juga: Jalaluddin Rumi, Raksasa Afghanistan yang Mempengaruhi Barat
Kemunafikan
Idries Shah menyebut bahwa tercatat dalam "Tradisi dari Guru" bahwa suatu ketika Jami' berkata, ketika ditanya tentang kemunafikan dan kejujuran:
"Apa hebatnya kejujuran dan apa anehnya kemunafikan!"
"Aku berkelana ke Mekkah dan ke Baghdad, dan aku membuat percobaan tentang perilaku manusia. Ketika aku meminta mereka untuk jujur, mereka selalu memperlakukanku dengan hormat, karena mereka berpikir bahwa orang baik selalu berkata demikian, dan mereka telah belajar bahwa mereka harus bermimik sedih pada saat orang berbicara kejujuran. Ketika aku meminta mereka menghindari kemunafikan, mereka semua setuju.
Tetapi mereka tidak tahu ketika aku berkata 'kebenaran', aku tahu kalau mereka tidak tahu apa kebenaran itu, dan kemudian mereka atau aku menjadi munafik.
Mereka pun tidak tahu bahwa ketika aku mengatakan agar tidak munafik, mereka menjadi munafik karena tidak menanyakan caranya. Mereka tidak tahu pula kalau aku menjadi munafik, ketika mengatakan 'jangan munafik', sebab kata-kata tidak menyampaikan pesan dengan sendirinya.
Mereka menghargaiku, ketika aku berlagak munafik. Mereka sudah diajari untuk bertingkah demikian. Mereka menghormati diri sendiri sementara mereka berpikir secara munafik; karena merupakan kemunafikan berpikir, bahwa seseorang secara sederhana bertambah baik dengan berpikir bahwa menjadi munafik itu jelek.
Intinya, Jalan yang membawa ke (derajat) atas adalah: mempraktekkan dan memahami untuk tidak dapat (menjadi) munafik, di mana terdapat kejujuran dan tidak ada sesuatu yang menjadi tujuan manusia."
Baca juga: Imam Al-Ghazali, Sang Pemintal Dirinya Sendiri
Baca juga: Jalaluddin Rumi, Raksasa Afghanistan yang Mempengaruhi Barat
Kemunafikan
Idries Shah menyebut bahwa tercatat dalam "Tradisi dari Guru" bahwa suatu ketika Jami' berkata, ketika ditanya tentang kemunafikan dan kejujuran:
"Apa hebatnya kejujuran dan apa anehnya kemunafikan!"
"Aku berkelana ke Mekkah dan ke Baghdad, dan aku membuat percobaan tentang perilaku manusia. Ketika aku meminta mereka untuk jujur, mereka selalu memperlakukanku dengan hormat, karena mereka berpikir bahwa orang baik selalu berkata demikian, dan mereka telah belajar bahwa mereka harus bermimik sedih pada saat orang berbicara kejujuran. Ketika aku meminta mereka menghindari kemunafikan, mereka semua setuju.
Tetapi mereka tidak tahu ketika aku berkata 'kebenaran', aku tahu kalau mereka tidak tahu apa kebenaran itu, dan kemudian mereka atau aku menjadi munafik.
Mereka pun tidak tahu bahwa ketika aku mengatakan agar tidak munafik, mereka menjadi munafik karena tidak menanyakan caranya. Mereka tidak tahu pula kalau aku menjadi munafik, ketika mengatakan 'jangan munafik', sebab kata-kata tidak menyampaikan pesan dengan sendirinya.
Mereka menghargaiku, ketika aku berlagak munafik. Mereka sudah diajari untuk bertingkah demikian. Mereka menghormati diri sendiri sementara mereka berpikir secara munafik; karena merupakan kemunafikan berpikir, bahwa seseorang secara sederhana bertambah baik dengan berpikir bahwa menjadi munafik itu jelek.
Intinya, Jalan yang membawa ke (derajat) atas adalah: mempraktekkan dan memahami untuk tidak dapat (menjadi) munafik, di mana terdapat kejujuran dan tidak ada sesuatu yang menjadi tujuan manusia."
Baca juga: Imam Al-Ghazali, Sang Pemintal Dirinya Sendiri
(mhy)
Lihat Juga :