Kisah Khutbah Ali bin Abu Thalib yang Membuat Seorang Jamaah Pingsan
Selasa, 18 Oktober 2022 - 18:59 WIB
loading...
A
A
A
Abu Hurairah bertanya lagi, “Apa yang engkau lakukan?”. Orang tersebut menjawab, “Jika melihat duri aku akan menghindar, melewati atau aku berhati-hati darinya.” Lalu, Abu Hurairah menjelaskan, “Itulah makna takwa.”
Raghib Al-Isfahani dalam kitabnya "Al-Mufradat li Alfadz Al-Quran" mengatakan, “Kata wiqayah berarti menjaga sesuatu dari hal-hal yang menyakitkan. Adapun takwa berarti menempatkan diri di dalam penjagaan dari sesuatu yang menakutkan. Kata takwa dalam pandangan syariat berarti menjaga diri dari hal-hal yang akan menyeret manusia kepada perbuatan dosa dan meninggalkan hal-hal yang dilarang dan diharamkan olehnya.”
Bahkan, secara gamblang Raghib mengatakan bahwa arti “takwa” ialah menjaga dan memelihara diri, sementara penggunaan kata “takwa” dalam arti “takut” adalah penggunaan majazi atau metaforis.
Berkenaan dengan rasa takut kepada Allah SWT, maksudnya ialah takut kepada hukum keadilan Allah. Di dalam suatu doa disebutkan: “Wahai Dzat yang tidak diharapkan dari-Nya kecuali karunia-Nya, dan juga tidak ditakuti dari-Nya kecuali keadilan-Nya.”
Demikian juga dalam doa lain disebutkan: “Mahasuci Engkau yang tidak perlu ditakuti kecuali keadilan-Mu, dan tidak diharapkan kecuali karunai dan kebaikan-Mu.”
Baca juga: Ini Mengapa Ali Bin Abu Thalib Ditinggalkan Banyak Pengikutnya
Keadilan itu sendiri pada hakikatnya bukanlah sesuatu yang menakutkan. Manusia merasa takut kepada hukum keadilan karena ia sadar telah berbuat kesalahan atau melanggar hak-hak orang lain. Oleh karena itu, para sufi mengajarkan bahwa seorang pelancong spiritual harus mempunyai keseimbangan dalam merasa cemas dan berharap (khawf dan raja’).
Ia mesti senantiasa berharap dan cemas, berpikir positif sekaligus negatif secara seimbang. Maksudnya, seorang Muslim harus senantiasa takut dan khawatir terhadap pembangkangan hawa nafsu dan kecenderungan jahat dalam dirinya, supaya kendali urusan tidak terlepas dari genggaman akal dan keimanan. Tetapi, pada saat yang bersamaan, dia harus tetap merasa yakin dan berharap akan kebaikan dan ampunan Allah SWT dengan memohon perlindungan dari-Nya.
Imam Ali Zainal Abidin dalam doa yang diriwayatkan oleh Abu Hamzah Ats-Tsumali mengatakan:
“Tuhanku, aku berdoa pada-Mu dengan penuh rasa gentar, cinta, harapan dan kecemasan. Tuhanku, aku takut bila melihat dosa-dosaku, Namun, jika aku melihat kedermawanan-Mu, aku menjadi penuh harapan.”
Hasballah Thabib menuturkan, dalam Al-Qur'an banyak sekali ayat yang membahas tentang sifat-sifat orang yang bertakwa. Di antara sifat-sifat mereka dinukilkan dari Surat Al Baqarah ayat 1-4 yang menerangkan sifat-sifat orang yang bertakwa.
Dalam ayat tersebut, menurutnya, Allah SWT mengumpulkan sifat-sifat muttaqin, yaitu beriman kepada yang ghaib, mendirikan sholat, menafkahkan yang wajib atau yang sunnah, beriman kepada Al-Qur'an dan Kitab-kitab sebelumnya dan beriman kepada hari akhir.
Baca juga: Ujian Buat Umar bin Khattab, Ali bin Abu Thalib yang Menjawab
Raghib Al-Isfahani dalam kitabnya "Al-Mufradat li Alfadz Al-Quran" mengatakan, “Kata wiqayah berarti menjaga sesuatu dari hal-hal yang menyakitkan. Adapun takwa berarti menempatkan diri di dalam penjagaan dari sesuatu yang menakutkan. Kata takwa dalam pandangan syariat berarti menjaga diri dari hal-hal yang akan menyeret manusia kepada perbuatan dosa dan meninggalkan hal-hal yang dilarang dan diharamkan olehnya.”
Bahkan, secara gamblang Raghib mengatakan bahwa arti “takwa” ialah menjaga dan memelihara diri, sementara penggunaan kata “takwa” dalam arti “takut” adalah penggunaan majazi atau metaforis.
Berkenaan dengan rasa takut kepada Allah SWT, maksudnya ialah takut kepada hukum keadilan Allah. Di dalam suatu doa disebutkan: “Wahai Dzat yang tidak diharapkan dari-Nya kecuali karunia-Nya, dan juga tidak ditakuti dari-Nya kecuali keadilan-Nya.”
Demikian juga dalam doa lain disebutkan: “Mahasuci Engkau yang tidak perlu ditakuti kecuali keadilan-Mu, dan tidak diharapkan kecuali karunai dan kebaikan-Mu.”
Baca juga: Ini Mengapa Ali Bin Abu Thalib Ditinggalkan Banyak Pengikutnya
Keadilan itu sendiri pada hakikatnya bukanlah sesuatu yang menakutkan. Manusia merasa takut kepada hukum keadilan karena ia sadar telah berbuat kesalahan atau melanggar hak-hak orang lain. Oleh karena itu, para sufi mengajarkan bahwa seorang pelancong spiritual harus mempunyai keseimbangan dalam merasa cemas dan berharap (khawf dan raja’).
Ia mesti senantiasa berharap dan cemas, berpikir positif sekaligus negatif secara seimbang. Maksudnya, seorang Muslim harus senantiasa takut dan khawatir terhadap pembangkangan hawa nafsu dan kecenderungan jahat dalam dirinya, supaya kendali urusan tidak terlepas dari genggaman akal dan keimanan. Tetapi, pada saat yang bersamaan, dia harus tetap merasa yakin dan berharap akan kebaikan dan ampunan Allah SWT dengan memohon perlindungan dari-Nya.
Imam Ali Zainal Abidin dalam doa yang diriwayatkan oleh Abu Hamzah Ats-Tsumali mengatakan:
“Tuhanku, aku berdoa pada-Mu dengan penuh rasa gentar, cinta, harapan dan kecemasan. Tuhanku, aku takut bila melihat dosa-dosaku, Namun, jika aku melihat kedermawanan-Mu, aku menjadi penuh harapan.”
Hasballah Thabib menuturkan, dalam Al-Qur'an banyak sekali ayat yang membahas tentang sifat-sifat orang yang bertakwa. Di antara sifat-sifat mereka dinukilkan dari Surat Al Baqarah ayat 1-4 yang menerangkan sifat-sifat orang yang bertakwa.
Dalam ayat tersebut, menurutnya, Allah SWT mengumpulkan sifat-sifat muttaqin, yaitu beriman kepada yang ghaib, mendirikan sholat, menafkahkan yang wajib atau yang sunnah, beriman kepada Al-Qur'an dan Kitab-kitab sebelumnya dan beriman kepada hari akhir.
Baca juga: Ujian Buat Umar bin Khattab, Ali bin Abu Thalib yang Menjawab
Lihat Juga :