Perbuatan Orang Kafir Tertulis di Lauh Mahfudz, Begini Penjelasannya
Minggu, 13 November 2022 - 10:33 WIB
loading...
A
A
A
"Maka kewajiban mereka adalah menempuh jalan yang menghantarkannya kepada keselamatan dan kebahagiaan, bukan menempuh jalan yang menyerempet mereka pada kebinasaan dan kesengsaraan," ujar Syaikh Al-Utsaimin.
Baca juga: Begini Asal Mula Polemik Mukmin dan Kafir
Ketika si kafir memilih kekafiran sama sekali tidak merasa ada orang yang memaksanya. Bahkan perasaannya mengatakan bahwa ia melakukan hal itu dengan kehendak dan ikhtiarnya. Maka apakah ketika memilih kekufuran ia tahu apa yang telah ditetapkan Allah untuk dirinya?
"Jawabannya, tentu tidak," ujar Syaikh Al-Utsaimin. "Karena kita tidak mengetahui bahwa sesuatu telah ditetapkan terjadi pada kita kecuali sesudah terjadi. Adapun sebelum terjadi, kita tidak mengetahui apa yang telah ditetapkan untuk kita karena hal ini termasuk perkara gaib."
Selanjutnya, sekarang kami katakan kepada orang itu, "Sebelum terjerumus kepada kekafiran, di depan anda ada dua perkara: hidayah dan kesesatan. Lalu mengapa anda tidak menempuh jalan hidayah dengan anggapan bahwa Allah telah menetapkannya untukmu?"
"Mengapa anda menempuh jalan sesat lalu setelah menempuhnya anda beralasan bahwa Allah telah menetapkannya? Kami tegaskan kepada anda sebelum memasuki jalan ini, apakah anda mempunyai pengetahuan bahwa hal ini telah ditetapkan kepadamu? ia pasti menjawab: “Tidak”.
Dan mustahil jawabannya: “Ya”. Jadi apabila ia mengatakan: “Tidak”. Kami tegaskan lagi, kalau begitu mengapa anda tidak menempuh jalan hidayah seraya menganggap bahwa Allah telah menetapkan hal itu kepadamu. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman.
فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ
“Maka tatkala mereka berpaling dari kebenaran, Allah memalingkan hati mereka” ( QS Ash-Shaf : 5)
Allah SWT juga berfirman.
Baca juga: Begini Asal Mula Polemik Mukmin dan Kafir
Ketika si kafir memilih kekafiran sama sekali tidak merasa ada orang yang memaksanya. Bahkan perasaannya mengatakan bahwa ia melakukan hal itu dengan kehendak dan ikhtiarnya. Maka apakah ketika memilih kekufuran ia tahu apa yang telah ditetapkan Allah untuk dirinya?
"Jawabannya, tentu tidak," ujar Syaikh Al-Utsaimin. "Karena kita tidak mengetahui bahwa sesuatu telah ditetapkan terjadi pada kita kecuali sesudah terjadi. Adapun sebelum terjadi, kita tidak mengetahui apa yang telah ditetapkan untuk kita karena hal ini termasuk perkara gaib."
Selanjutnya, sekarang kami katakan kepada orang itu, "Sebelum terjerumus kepada kekafiran, di depan anda ada dua perkara: hidayah dan kesesatan. Lalu mengapa anda tidak menempuh jalan hidayah dengan anggapan bahwa Allah telah menetapkannya untukmu?"
"Mengapa anda menempuh jalan sesat lalu setelah menempuhnya anda beralasan bahwa Allah telah menetapkannya? Kami tegaskan kepada anda sebelum memasuki jalan ini, apakah anda mempunyai pengetahuan bahwa hal ini telah ditetapkan kepadamu? ia pasti menjawab: “Tidak”.
Dan mustahil jawabannya: “Ya”. Jadi apabila ia mengatakan: “Tidak”. Kami tegaskan lagi, kalau begitu mengapa anda tidak menempuh jalan hidayah seraya menganggap bahwa Allah telah menetapkan hal itu kepadamu. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman.
فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ
“Maka tatkala mereka berpaling dari kebenaran, Allah memalingkan hati mereka” ( QS Ash-Shaf : 5)
Allah SWT juga berfirman.
Lihat Juga :