Kisah Prof Leon, Ilmuwan yang Jadi Mualaf karena Keagungan Islam
Kamis, 15 Desember 2022 - 13:46 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Ini Agama Suami Maudy Ayunda sebelum Mualaf
Dalam Al-Qur'an Surah Jum'at, "Allah yang memberi segala kebaikan dan nikmat telah memberikan perumpamaan tentang orang-orang yang tidak menggunakan akal dan pikirannya dan bertaklid buta, bahwa mereka itu 'seperti himar membawa buku'.
Perumpamaan mereka yang diberi Taurat, kemudian tidak mengamalkannya itu seumpama himar membawa buku. Alangkah buruknya perumpamaan orang-orang yang tidak mempercayai ayat-ayat Allah, dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS Al-Jumu'ah : 5).
Diriwayatkan pula bahwa Khalifah Ali yang bangsawan dan terpelajar telah bersabda: "Dunia ini gelap, dan ilmu merupakan cahaya. Akan tetapi ilmu tanpa kepercayaan hanyalah bayangan belaka."
Kaum Muslimin mempunyai keyakinan bahwa kata "Islam" itu synonym (sama artinya) dengan kata "kebenaran/kepercayaan", dan di bawah sinar Islamlah cahaya ilmu dan akal orang dapat menemukan kebenaran. Akan tetapi untuk mengemukakan ilmu yang mengandung kebenaran itu, orang harus mempergunakan kurnia Allah kepada dirinya yang berupa kemampuan berpikir logis.
Rasul kita yang mulia telah menunjukkan keindahan kata-katanya yang menerobos masuk ke dalam jiwa para pendengarnya beberapa hari sebelum beliau wafat.
Pada waktu Rasul diutus untuk memberi petunjuk kepada umat manusia ke jalan yang benar dan lurus, sewaktu beliau menelentang di atas pangkuan Siti Aisyah ra dikelilingi oleh kaum Muslimin Madinah dalam jumlah yang amat besar, di mana setiap wajah menunjukkan kecintaannya yang ikhlas kepada Nabi dan Rasul pilihan, dengan air mata bercucuran. Termasuk air mata para pahlawan yang tidak pernah gentar menghadapi musuh dalam perjuangan menegakkan Islam. Mereka berkerumun melihat Pemimpin, sahabat, guru yang kekasih, bahkan seorang Rasul Allah untuk mereka, yang telah mengeluarkan mereka dari kegelapan khurafat menuju cahaya kebenaran yang terang benderang.
Baca juga: Mualaf, Begini Respon Marcell Siahaan Dipanggil Antum
Beliau sedang berangsur-angsur mendekati batas perjalanan hidupnya yang telah ditentukan Allah SWT dan akan meninggalkan mereka untuk tidak kembali lagi.
Tidak heran jika terjadi hujan air mata, semua hati tertimpa kesedihan yang amat berat. Dalam suasana kesedihan yang sedang mencekam berat itulah, salah seorang yang hadir bertanya: "Ya Rasulullah! Tuan sekarang sedang sakit yang sebentar lagi akan mengantar Tuan ke Hadirat Tuhan. Apakah yang harus kami lakukan?"
Dalam Al-Qur'an Surah Jum'at, "Allah yang memberi segala kebaikan dan nikmat telah memberikan perumpamaan tentang orang-orang yang tidak menggunakan akal dan pikirannya dan bertaklid buta, bahwa mereka itu 'seperti himar membawa buku'.
Perumpamaan mereka yang diberi Taurat, kemudian tidak mengamalkannya itu seumpama himar membawa buku. Alangkah buruknya perumpamaan orang-orang yang tidak mempercayai ayat-ayat Allah, dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS Al-Jumu'ah : 5).
Diriwayatkan pula bahwa Khalifah Ali yang bangsawan dan terpelajar telah bersabda: "Dunia ini gelap, dan ilmu merupakan cahaya. Akan tetapi ilmu tanpa kepercayaan hanyalah bayangan belaka."
Kaum Muslimin mempunyai keyakinan bahwa kata "Islam" itu synonym (sama artinya) dengan kata "kebenaran/kepercayaan", dan di bawah sinar Islamlah cahaya ilmu dan akal orang dapat menemukan kebenaran. Akan tetapi untuk mengemukakan ilmu yang mengandung kebenaran itu, orang harus mempergunakan kurnia Allah kepada dirinya yang berupa kemampuan berpikir logis.
Rasul kita yang mulia telah menunjukkan keindahan kata-katanya yang menerobos masuk ke dalam jiwa para pendengarnya beberapa hari sebelum beliau wafat.
Pada waktu Rasul diutus untuk memberi petunjuk kepada umat manusia ke jalan yang benar dan lurus, sewaktu beliau menelentang di atas pangkuan Siti Aisyah ra dikelilingi oleh kaum Muslimin Madinah dalam jumlah yang amat besar, di mana setiap wajah menunjukkan kecintaannya yang ikhlas kepada Nabi dan Rasul pilihan, dengan air mata bercucuran. Termasuk air mata para pahlawan yang tidak pernah gentar menghadapi musuh dalam perjuangan menegakkan Islam. Mereka berkerumun melihat Pemimpin, sahabat, guru yang kekasih, bahkan seorang Rasul Allah untuk mereka, yang telah mengeluarkan mereka dari kegelapan khurafat menuju cahaya kebenaran yang terang benderang.
Baca juga: Mualaf, Begini Respon Marcell Siahaan Dipanggil Antum
Beliau sedang berangsur-angsur mendekati batas perjalanan hidupnya yang telah ditentukan Allah SWT dan akan meninggalkan mereka untuk tidak kembali lagi.
Tidak heran jika terjadi hujan air mata, semua hati tertimpa kesedihan yang amat berat. Dalam suasana kesedihan yang sedang mencekam berat itulah, salah seorang yang hadir bertanya: "Ya Rasulullah! Tuan sekarang sedang sakit yang sebentar lagi akan mengantar Tuan ke Hadirat Tuhan. Apakah yang harus kami lakukan?"
Lihat Juga :