Kisah Penaklukan Islam ke Prancis, Andalusia, dan Spanyol Islam
Minggu, 01 Januari 2023 - 08:09 WIB
loading...
A
A
A
Penulis Kristen abad sembilan menuduh bahwa semua pemuda Kristen telah dilanda oleh syair Arab dan lebih tertarik kepada bahasa Arab ketimbang bahasa Latin.
Pada saat yang sama ada pijakan-pijakan pemikiran hingga terjadi pengaruh Iberia yang membawa adopsi bentuk-bentuk strofik syair Arab.
Walaupun para ilmuwan tidak setuju, agaknya juga syair Andalus kadangkala berkenaan dengan seni troubadour Eropa. Contoh mengesankan fusi kultur-kultur ini nampak nyata di Sicilia, yang keseluruhannya berada di bawah kekuasaan Islam setelah tahun 902 Masehi, lalu diambil alih kembali oleh bangsawan-bangsawan Norman antara tahun 1060 dan 1091 Masehi.
Sekalipun demikian, penguasa-penguasa baru Kristen mengadopsi sebagian adat-istiadat para penguasa Islam sebelumnya, yang dua kali dikuasai dari tahun 1130- 1154 Masehi dan 1215- 1250 Masehi berturut-turut, yang dikenal sebagai "dua kali sultan-sultan Sicilia dibaptis."
Baca juga: Kisah Tumbangnya Dinasti Umayyah, 300 Anggota Keluarganya Dieksekusi Mati
Sejarawan berkewarga-negaraan Spanyol mencoba membedakan interpretasi Reconquista dan kebesaran Spanyol terkemudian. Banyak yang melihat ini sebagai berasal dari berkesinambungannya tradisi Katolik yang dipertahankan semenjak Spanyol Visiqothic.
Kesulitannya di sini adalah karena Reconquista ini dimulai semenjak kerajaan kecil bangsa Austurias yang tidak menjadi bagian integral Spanyol Visiqothic melainkan malah menyerangnya, yang lebih mungkin hadir menjadi pandangan Americo-Castro dalam bukunya yang berjudul Structure of Spanish History.
Dalam buku ini dia mengatakan: "Spanyol Kristen itu -- muncul bereksistensi -- sebagaimana ia digabungkan dan dicangkokkan ke dalam proses kehidupan yang dipaksa oleh interaksinya dengan dunia Islam."
Reconquista dimulai bukan karena ide-ide keagamaan melainkan karena memuncaknya semangat dan hasrat rakyat untuk merdeka. Walaupun demikian, semenjak paruh abad ke sepuluh kepergian ke Santiago Compostela mulailah tumbuhnya peranan yang penting dan agaknya hal ini menyadarkan rakyat akan dimensi agama, terutama setelah dihancurkannya tempat suci itu oleh tentara Islam di tahun 997 Masehi.
Kaum lelaki dari Leon, Navare dan Castile, melihat bahwa mereka bukan saja berjuang untuk kerajaan-kerajaan kecil mereka, melainkan berjuang melawan musuh dengan seluruh umat Kristen. Sebagaimana kesadaran ini tumbuh di tengah umat Kristen, demikian pula umat Islam menjadi sadar akan aspek-aspek perjuangan agamanya.
Baca juga: Ibrahim bin Walid, 70 Malam Menjadi Khalifah Dinasti Umayyah
Pada saat yang sama ada pijakan-pijakan pemikiran hingga terjadi pengaruh Iberia yang membawa adopsi bentuk-bentuk strofik syair Arab.
Walaupun para ilmuwan tidak setuju, agaknya juga syair Andalus kadangkala berkenaan dengan seni troubadour Eropa. Contoh mengesankan fusi kultur-kultur ini nampak nyata di Sicilia, yang keseluruhannya berada di bawah kekuasaan Islam setelah tahun 902 Masehi, lalu diambil alih kembali oleh bangsawan-bangsawan Norman antara tahun 1060 dan 1091 Masehi.
Sekalipun demikian, penguasa-penguasa baru Kristen mengadopsi sebagian adat-istiadat para penguasa Islam sebelumnya, yang dua kali dikuasai dari tahun 1130- 1154 Masehi dan 1215- 1250 Masehi berturut-turut, yang dikenal sebagai "dua kali sultan-sultan Sicilia dibaptis."
Baca juga: Kisah Tumbangnya Dinasti Umayyah, 300 Anggota Keluarganya Dieksekusi Mati
Sejarawan berkewarga-negaraan Spanyol mencoba membedakan interpretasi Reconquista dan kebesaran Spanyol terkemudian. Banyak yang melihat ini sebagai berasal dari berkesinambungannya tradisi Katolik yang dipertahankan semenjak Spanyol Visiqothic.
Kesulitannya di sini adalah karena Reconquista ini dimulai semenjak kerajaan kecil bangsa Austurias yang tidak menjadi bagian integral Spanyol Visiqothic melainkan malah menyerangnya, yang lebih mungkin hadir menjadi pandangan Americo-Castro dalam bukunya yang berjudul Structure of Spanish History.
Dalam buku ini dia mengatakan: "Spanyol Kristen itu -- muncul bereksistensi -- sebagaimana ia digabungkan dan dicangkokkan ke dalam proses kehidupan yang dipaksa oleh interaksinya dengan dunia Islam."
Reconquista dimulai bukan karena ide-ide keagamaan melainkan karena memuncaknya semangat dan hasrat rakyat untuk merdeka. Walaupun demikian, semenjak paruh abad ke sepuluh kepergian ke Santiago Compostela mulailah tumbuhnya peranan yang penting dan agaknya hal ini menyadarkan rakyat akan dimensi agama, terutama setelah dihancurkannya tempat suci itu oleh tentara Islam di tahun 997 Masehi.
Kaum lelaki dari Leon, Navare dan Castile, melihat bahwa mereka bukan saja berjuang untuk kerajaan-kerajaan kecil mereka, melainkan berjuang melawan musuh dengan seluruh umat Kristen. Sebagaimana kesadaran ini tumbuh di tengah umat Kristen, demikian pula umat Islam menjadi sadar akan aspek-aspek perjuangan agamanya.
Baca juga: Ibrahim bin Walid, 70 Malam Menjadi Khalifah Dinasti Umayyah
(mhy)
Lihat Juga :