Bahaya Virus Corona, Silaturahim Saat Lebaran Tak Harus Mudik

Selasa, 24 Maret 2020 - 23:25 WIB
Bahaya Virus Corona, Silaturahim Saat Lebaran Tak Harus Mudik
Bahaya Virus Corona, Silaturahim Saat Lebaran Tak Harus Mudik
A A A
Masyarakat yang merencanakan mudik lebaran tahun ini diimbau menunggu perkembangan kondisi wabah virus corona (Covid-19). Pemerintah, terus memberikan informasi terbaru mengenai perkembangan virus corona.

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu'ti mengatakan, mudik lebaran tidak masalah jika wabah virus corona sudah teratasi dengan baik. "Sebelum memutuskan untuk mudik, masyarakat hendaknya memantau perkembangan Covid-19 yang disampaikan resmi oleh pemerintah," ujar Mu'ti di Jakarta, Selasa (24/3/2020).

Menurutnya, masyarakat tidak perlu memaksakan mudik jika kondisi wabah virus corona tidak menunjukkan perbaikan. Menurutnya, keselamatan dan kesehatan harus diutamakan.

Sejatinya, mudik saat lebaran adalah tradisi khas milik orang Indonesia. Meskipun silaturrahim tidak ada kaitannya secara langsung dengan rangkaian ibadah Ramadhan dan ‘Idul Fitri, tapi tradisi ini dipandang sangat baik untuk dilestarikan dan dikembangkan. Pada saat mudik kita saling mengunjungi sanak saudara bahkan tetangga atau teman sejawat, atasan dan bawahan.

Menurut Wakil Ketua Umum MUI Jateng, Prof Dr H Ahmad Rofiq MA, silaturrahim, bertemu, dan bersalaman (bermushafahah) adalah mekanisme hubungan sosial kasat mata, yang menjadi kebutuhan batin manusia, untuk penghapusan dosa-dosa yang terjadi dengan sesama. Rasulullah saw bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا

“Tidaklah dua muslim itu bertemu lantas berjabat tangan melainkan akan diampuni dosa di antara keduanya sebelum berpisah.” (HR. Abu Daud no. 5212, Ibnu Majah no. 3703, Tirmidzi no. 2727).

Dampak perkembangan information dan teknologi (IT), lanjut Ahmad, intensitas dan kualitas silaturrahim tampaknya banyak tergerus. Ucapan selamat Idul Fitri dan silaturrahim sudah digantikan oleh media sosial, FB, WA, Twitter, Instagram, dll. Tentu saja, kualitas dan makna silaturrahim secara fisik, akan berbeda dengan saling memaafkan jarak jauh melalui media sosial tersebut.

Hanya saja, cara demikian bisa dilakukan dalam situasi penyebaran virus corona yang membahayakan umat manusia.

Kendati, menurut Ahmad, "Secara psikologis dan ruhaniah, mudik, silaturrahim, dan pengelolaan kesucian atau kefitrian manusia, tak akan pernah tergantikan dengan kecanggihan teknologi”.

Dua orang yang bersalaman atau bermushafahah, menurutnya, bukanlah peristiwa dan jabat tangan fisik semata, tetapi perjumpaan dua hati, dua rasa, dan bahkan getaran potensi dan entitas dua anak manusia dengan segala perangkat fisik jasmani dan psikhis ruhaniahnya. “Ketulusan hati akan nampak dan terasa menjadi sesuatu yang luar biasa, bak dua gunung salju yang telah lama membeku, dan mencair mengaliri kesejukan dua hati, yang mempesonakan keindahan bangunan hubungan sosial," terangnya.

Perintah Silaturahim

Islam memerintahkan dan menempatkan silaturrahim, menjadi instrumen penyemaian kasih sayang, mengurai kebuntuan dan keruwetan antarmanusia, tergantikan dengan jalinan kasih sayang dan membuka untaian senyuman sebagai sedekah yang tak tergantikan. Rasulullah saw mengajarkan kala dua orang bersalaman dengan menatap wajah teman, sanak saudara, dan siapapun yang kita bersalaman.

Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan untuk menyambung tali silaturahim, dalam firman-Nya:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS. An Nisa: 36).

Selanjutnya Allah SWT juga berfirman:

وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros” (QS. Al Isra: 26).

Demikian juga Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, beliau memerintahkan umatnya untuk menyambung silaturahim, dalam sabda beliau:
Halaman :
Copyright © 2023 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.1518 seconds (11.252#12.26)