Bila Ada Uzur Syar'i, Ibadah Haji Bisa Ditiadakan Tahun Ini

loading...
Bila Ada Uzur Syari, Ibadah Haji Bisa Ditiadakan Tahun Ini
Bila Ada Uzur Syar'i, Ibadah Haji Bisa Ditiadakan Tahun Ini
Warga di Arab Saudi dilaporkan dilarang memasuki atau keluar dari Riyadh, Mekah, dan Madinah. Hal itu adalah langkah-langkah baru pencegahan penyebaran virus Corona baru, Covid-19 yang disetujui oleh Raja Salman bin Abdulaziz.

Al Arabiya pada Rabu (25/3/2020) melansir Raja Salman juga menyetujui tindakan yang melarang penduduk di 13 wilayah Saudi untuk melakukan perjalanan di antara berbagai wilayah. Larangan ini dilaporkan akan mulai berlaku hari ini.

Sementara itu, Kementerian Dalam Negeri Saudi menuturkan, jam malam, yang baru-baru ini diperkenalkan di seluruh negeri, akan dimulai sejak jam tiga sore dan bukan jam tujuh di tiga kota, yakni di Riyadh, Mekah dan Madinah. "Pengecualian jam malam masih berlaku untuk mereka yang berada di sektor publik dan swasta vital, seperti keamanan, militer dan media. Mereka yang bekerja di layanan kesehatan juga dikecualikan dari jam malam," kata Kementerian Dalam Negeri Saudi.

Langkah ini diambil setelah Saudi mengkonnfirmasi kematian pertama akibat Covid-19. Total infeksi Covid-19 di Saudi sejauh ini dilaporkan berjumlah 767 kasus, termasuk di dalamnya empat orang Indonesia.

Sebelumnya pemerintah setempat telah menutup ritual umrah. Bila kondisi tidak membaik, bukan mustahil ibadah haji tahun ini ditiadakan. Dan jika itu terjadi, maka bakal menjadi penutupan yang ke-41 kali. Otoritas di Mekkah dan Madinah sudah pernah meniadakan ibadah haji sebanyak 40 kali.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Ketum PBNU) Said Aqil Siradj, menganggap tidak masalah jika pelaksanaan ibadah haji tahun ini ditiadakan sebagai antisipasi meluasnya wabah virus corona. Dalam ajaran agama Islam menurut dia, hal itu disebut uzur syar'i atau halangan yang dimaklumi dalam ajaran syariat Islam.

"Wabah penyakit itu kehendak Allah, bukan kehendak kita. Selama kita punya niat baik, insyaallah sudah dicatat kebaikan," kata Said Aqil baru-baru ini.

Aturan Fiqih

Menurut kamus Lisan al-Arab, juz 3, halaman 202, al-Fairuz Zabadi menyatakan sebuah istilah qaumun mahshurun idza hushiru fi hishnin (kaum yang terkepung saat mereka berada di dalam suatu benteng). Di dalam rangkaian teks tentang haji, juga disebutkan istilah mahshuruna fi al-hajji (tertahan dalam haji). Allah Subhanahu wata’ala berfirman: wa in uhshirtum, maksudnya adalah jika kalian tertahan/terkepung. Masing-masing dari istilah ini bermuara pada pendekatan ihshar dalam praktik bahasa keseharian dan teks.

Ustadz Muhammad Syamsudin, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah – Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, dalam tulisannya berjudul Aturan Fiqih saat Haji dan Umrah Terhalang karena Wabah menjelaskan ihshar dalam perspektif yang kita bahas saat ini adalah kondisi di mana kaum muslimin sedang terhalang dari menunaikan ibadah haji atau umrah secara sempurna disebabkan oleh suatu hal yang tidak terduga sebelumnya.

Asal kata dari ihshar ini adalah Firman Allah subhanahu wata’ala QS al-Baqarah [2] ayat 196:

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلهِ ۚ فَإِنْ أُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ ۖ وَلَا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ ۚ فَمَن كَانَ مِنكُم
مَّرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِّن رَّأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِّن صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ ۚ فَإِذَا أَمِنتُمْ فَمَن تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ
إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ ۚ

Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. Tetapi jika kamu terkepung (oleh musuh), maka (sembelihlah) hadyu yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum hadyu sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antara kamu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu dia bercukur), maka dia wajib ber-fidyah, yaitu berpuasa, bersedekah atau berkurban. Apabila kamu dalam keadaan aman, maka barangsiapa mengerjakan umrah sebelum haji, dia (wajib menyembelih) hadyu yang mudah didapat” (QS AL-Baqarah [2]: 196).

Menurut Syamsudin, terdapat banyak perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam menafsirkan ayat di atas. Perbedaan itu akhirnya berimbas pada perbedaan hukum fiqihnya. Titik masalah yang diperdebatkan oleh para ulama adalah, apakah ihshar itu disebabkan karena musuh, ataukah karena sakit? Sebagian ulama menjawab, bahwa ihshar itu disebabkan musuh, sebagian lagi berpendapat bahwa ihshar itu disebabkan karena sakit.

Ulama yang berpendapat bahwa ihshar yang dimaksud di sini adalah disebabkan karena musuh, mereka berlandas pada dalil penggalan ayat: فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِّن رَّأْسِهِ. Mereka juga berpedoman pada penggalan ayat berikutnya: فَإِذَا أَمِنتُمْ فَمَن تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ.

Penggalan ayat pertama, mengkabarkan adanya “faedah” berupa kebolehan mencukur rambut setelah disebutkan adanya sakit. Disebutkannya “faedah” setelah lafadh “sakit”, menggiring pada keharusan mengalihkan makna sakit kepada makna tersirat (isti’arah). Alhasil, sakit itu bukanlah sakit yang bersifat fisik, melainkan psikis. Contoh dari sakit psikis ini adalah ketakutan, dan sejenisnya. Hal itu didukung dengan penggalan ayat berikutnya yang secara tegas menyatakan “jika kondisi aman (fa idza amintum)”. Kondisi aman hanya bisa dijumpai bila ada musuh. Pendapat ini diikuti oleh Imam Syafii.

Pendapat kedua berargumen bahwa yang dimaksud dengan muhshar adalah orang yang ditawan/dikepung sehingga kemudian ia sakit (maradl). Sebagaimana pendapat ini disampaikan oleh Ibnu Rusyd:

إن الآية إنما وردت في المحصر بالمرض فإنه زعم أن المحصر هو من أحصر، ولا يقال أحصر في العدو، وإنما يقال حصره العدو وأحصره المرض

“Sesungguhnya ayat itu diturunkan untuk orang yang tertahan hajinya sebab sakit. Mereka berhipotesa bahwa muhshar adalah orang yang tercegah. Ayat itu tidak boleh diterjemahkan tercegah akibat musuh, melainkan harus diterjemahkan terkepung oleh musuh, sehingga terhalang oleh sakit.” (Abu al-Faidl Ahmad bin Muhammad bin Shiddiq al-Ghumary al-Hasany, al-Hidayah fi Takhriji Ahadits al-Bidayah, Beirut: ‘Alamu al-Kutub, 1987, Juz 5, halaman 431)

Lantas, bagaimana dengan makna fa idza amintum? Menurut kalangan terakhir ini, maksud dari amintum di dalam ayat tersebut adalah bagian dari maradl (sakit). Mereka berargumen bahwa sakit pada penggalan ayat pertama tidak boleh dialihkan pengertiannya dari makna dhahir ke makna isti’arah dengan alasan ketiadaan qarinah (bukti penunjuk) keharusan pengalihan itu. Ulama yang berpendapat bahwa ihshar adalah bukan disebabkan karena musuh, melainkan karena sakit adalah Imam Malik dan Imam Abu Hanifah.
halaman ke-1
preload video