Fanous, Konafa, dan Qatayef meriahkan Ramadan
Selasa, 24 Juli 2012 - 14:17 WIB
Fanous, Konafa, dan Qatayef meriahkan Ramadan
A
A
A
AURA Ramadan terasa begitu kental di Kairo, Mesir. Selama satu bulan penuh, semua masjid dan jalan-jalan dihiasi dengan lampu warna-warni. Warga Kairo membeli lentera berwarna-warni yang disebut fanous untuk mainan anak-anak setelah berbuka puasa.
“Kami berpuasa dan beribadah, lalu bangun di malam hari untuk salat tarawih. Kami juga membelikan mainan lentera untuk anak-anak,” ungkap Abdel Hakim. Anak-anak tampak asyik bernyanyi sambil menyantap hidangan yang hanya ada saat Ramadan. Pada masa lalu, anak-anak bermain di jalan-jalan dengan fanous, sambil menyanyikan ‘wahawy ya wahawy’.
Sekarang tradisi ini masih dipraktikkan, meskipun jarang ditemui di jalan-jalan besar. Tradisi ini banyak dijumpai di perumahan kelas menengah atau perkampungan dan pedesaan. Ramadan ternyata bukan hanya sebagai bulan pembaruan rohani. Warga di sana juga menghabiskan lebih banyak uang untuk membeli makanan, pakaian, dan berbagai pernak-pernik untuk orang yang mereka cintai.
Seperti dilakukan Fawzia. “Saya melakukan sesuatu seperti yang dilakukan muslim lainnya. Kami memiliki hari yang baik, kita beribadah, dan berpuasa. Kami memasak makanan yang enak dan mengundang teman-teman, keluarga untuk buka puasa bersama. Kami juga diundang oleh teman dan kerabat,” terangnya, dikutip VOA.
Bulan puasa ini juga memberi keuntungan bagi para pedagang seperti Ahmed. Di pasar yang ramai di distrik Al Sayeda Zeinab, Kairo, Ahmed berharap dapat menarik banyak pembeli dengan trik yang unik. Dia menyebut barang dagangannya dengan nama yang terdengar familier di telinga masyarakat di sana. Dia menyebut barang dagangannya dengan nama penari perut, bintang film, dan baru-baru ini tokoh politik dan tokoh masyarakat lainnya.
“Tahun lalu kami memberi nama dagangan kami, Hosni Mubarak, Habib al Adli, Alaa Mubarak, Suzanne Mubarak. Tahun ini kami beri nama dagangan kami Presiden Mohamed Mursi, Tanggal 25 Januari, Revolusi, Lapangan Tahrir, Demonstran, dan nama lain sesuai peristiwa yang dialami warga,” ungkapnya.
Kendati demikian, Ahmed mengaku nama-nama terkenal ini tidak begitu saja mendongkrak penjualan. "Tidak, ini hanya nama. Pembeli memilih sesuai selera mereka,” katanya. Lalu, bagaimana dengan hidangan buka puasanya? Di sana buka puasa disebut ”iftar”. Hampir semua makanan bisa disajikan sebagai iftar. Tapi khusus makanan tradisional, sebagai makanan pembuka harus menyajikan konafa atau qatayef.
Menurut laman www.touregypt.net,konafa ialah kue yang terbuat dari gandum dengan gula yang cukup banyak, dicampur madu, kismis, dan berbagai jenis kacang. Adapun qatayef tak jauh beda dengan konafa. Hanya, qatayef bentuknya seperti bulan kecil, yang berisi kacang-kacangan dan kismis. Awal Ramadan, kebanyakan warga Mesir memilih menghabiskan waktu puasa dan berbuka di acara reuni keluarga besar, atau berkumpul di rumah nenek serta kakek mereka.
Setelah itu, barulah orang-orang mulai berbuka di luar rumah atau teman-teman mereka. Hal ini untuk semakin meningkatkan silaturahmi antara teman, atau rekan, dan keluarga jauh. Biasanya tempat yang dipilih adalah kafe kuno yang klasik. Dengan semakin banyaknya warga yang memilih menggelar buka puasa bersama di kafe atau restoran di hotel, sejumlah kafe dan hotel lebih aktif memasarkan fasilitas mereka untuk buka puasa. Tak heran, saat ini sudah menjadi tradisi bahwa hampir semua hotel bintang lima mendirikan tenda besar, yang dihias dengan dekorasi bergaya Arab kuno.
Di sana orang-orang menikmati waktu mereka dengan mendengarkan lagu dan musik tradisional. Ini semua mengembalikan mereka pada kenangan lama. Sesekali, mereka menghirup Sheesha, yakni semacam pipa yang digunakan untuk merokok.
“Kami berpuasa dan beribadah, lalu bangun di malam hari untuk salat tarawih. Kami juga membelikan mainan lentera untuk anak-anak,” ungkap Abdel Hakim. Anak-anak tampak asyik bernyanyi sambil menyantap hidangan yang hanya ada saat Ramadan. Pada masa lalu, anak-anak bermain di jalan-jalan dengan fanous, sambil menyanyikan ‘wahawy ya wahawy’.
Sekarang tradisi ini masih dipraktikkan, meskipun jarang ditemui di jalan-jalan besar. Tradisi ini banyak dijumpai di perumahan kelas menengah atau perkampungan dan pedesaan. Ramadan ternyata bukan hanya sebagai bulan pembaruan rohani. Warga di sana juga menghabiskan lebih banyak uang untuk membeli makanan, pakaian, dan berbagai pernak-pernik untuk orang yang mereka cintai.
Seperti dilakukan Fawzia. “Saya melakukan sesuatu seperti yang dilakukan muslim lainnya. Kami memiliki hari yang baik, kita beribadah, dan berpuasa. Kami memasak makanan yang enak dan mengundang teman-teman, keluarga untuk buka puasa bersama. Kami juga diundang oleh teman dan kerabat,” terangnya, dikutip VOA.
Bulan puasa ini juga memberi keuntungan bagi para pedagang seperti Ahmed. Di pasar yang ramai di distrik Al Sayeda Zeinab, Kairo, Ahmed berharap dapat menarik banyak pembeli dengan trik yang unik. Dia menyebut barang dagangannya dengan nama yang terdengar familier di telinga masyarakat di sana. Dia menyebut barang dagangannya dengan nama penari perut, bintang film, dan baru-baru ini tokoh politik dan tokoh masyarakat lainnya.
“Tahun lalu kami memberi nama dagangan kami, Hosni Mubarak, Habib al Adli, Alaa Mubarak, Suzanne Mubarak. Tahun ini kami beri nama dagangan kami Presiden Mohamed Mursi, Tanggal 25 Januari, Revolusi, Lapangan Tahrir, Demonstran, dan nama lain sesuai peristiwa yang dialami warga,” ungkapnya.
Kendati demikian, Ahmed mengaku nama-nama terkenal ini tidak begitu saja mendongkrak penjualan. "Tidak, ini hanya nama. Pembeli memilih sesuai selera mereka,” katanya. Lalu, bagaimana dengan hidangan buka puasanya? Di sana buka puasa disebut ”iftar”. Hampir semua makanan bisa disajikan sebagai iftar. Tapi khusus makanan tradisional, sebagai makanan pembuka harus menyajikan konafa atau qatayef.
Menurut laman www.touregypt.net,konafa ialah kue yang terbuat dari gandum dengan gula yang cukup banyak, dicampur madu, kismis, dan berbagai jenis kacang. Adapun qatayef tak jauh beda dengan konafa. Hanya, qatayef bentuknya seperti bulan kecil, yang berisi kacang-kacangan dan kismis. Awal Ramadan, kebanyakan warga Mesir memilih menghabiskan waktu puasa dan berbuka di acara reuni keluarga besar, atau berkumpul di rumah nenek serta kakek mereka.
Setelah itu, barulah orang-orang mulai berbuka di luar rumah atau teman-teman mereka. Hal ini untuk semakin meningkatkan silaturahmi antara teman, atau rekan, dan keluarga jauh. Biasanya tempat yang dipilih adalah kafe kuno yang klasik. Dengan semakin banyaknya warga yang memilih menggelar buka puasa bersama di kafe atau restoran di hotel, sejumlah kafe dan hotel lebih aktif memasarkan fasilitas mereka untuk buka puasa. Tak heran, saat ini sudah menjadi tradisi bahwa hampir semua hotel bintang lima mendirikan tenda besar, yang dihias dengan dekorasi bergaya Arab kuno.
Di sana orang-orang menikmati waktu mereka dengan mendengarkan lagu dan musik tradisional. Ini semua mengembalikan mereka pada kenangan lama. Sesekali, mereka menghirup Sheesha, yakni semacam pipa yang digunakan untuk merokok.
(hyk)
Lihat Juga :