Tekanan Israel tak mampu bendung kegembiraan Ramadan
Rabu, 25 Juli 2012 - 11:17 WIB
Tekanan Israel tak mampu bendung kegembiraan Ramadan
A
A
A
TEKANAN Israel sudah menjadi keseharian warga Palestina di Yerusalem. Namun, semua kesulitan dan tekanan itu tidak dapat menutupi kegembiraan warga Palestina pada Ramadan ini.
Kegembiraan warga Palestina di Yerusalem diwujudkan dalam bentuk berbagai lampu hias yang mereka pasang di depan rumah atau toko mereka. Jalanan di wilayah muslim pun marak dengan warna-warni lampu hias. "Saya memasang lampu hias ini untuk menyambut Ramadan,” ungkap seorang warga Palestina kepada AFP.
Semaraknya Ramadan di Yerusalem semakin terasa saat matahari mulai terbenam. Saat azan magrib berkumandang, sejumlah warga menikmati buka puasa di rumah, warung, ataupun di Masjid Al-Aqsa. Masjid yang pernah menjadi kiblat pertama umat Islam itu semakin padat dengan jamaah yang mengerjakan salat magrib, isya, dan disusul salat tarawih berjamaah. Puluhan ribu jamaah bahkan tercatat mengikuti salat Jumat pertama pada pekan lalu di Masjid Al-Aqsa. Saat itu ribuan polisi Israel dikerahkan di penjuru Yerusalem Timur untuk berjaga di sekitar masjid tersebut.
Menteri Keamanan Publik Israel Yitzhak Aharonovich, Komisioner Distrik Yerusalem Niso Shaham, dan Kepala Komisioner Yohanan Danino berkeliling kota tersebut untuk memantau situasi. Sejumlah pembatasan terhadap warga Palestina yang ingin masuk Kota Yerusalem memang telah dilonggarkan untuk pertama kali pada Ramadan ini. Padahal beberapa tahun sebelumnya, jumlah warga Palestina yang hendak ke Kota Yerusalem sangat dibatasi, dan dilakukan berdasarkan usia peziarah.
Saat ini pria Palestina berusia 40 tahun ke atas dan pria berusia 12 tahun ke bawah, serta semua perempuan Palestina dapat masuk Yerusalem dari Tepi Barat tanpa harus memiliki izin. Dahulu mereka yang hendak masuk ke Yerusalem harus memiliki izin dan diperiksa dengan ketat. Selain itu, umat Islam yang masuk ke Masjid Al-Aqsa juga tidak dibatasi. Kota Yerusalem memang menyajikan keanekaragaman budaya dan agama.
Penganut kristiani, muslim, dan Yahudi tinggal di kota itu dengan segala dinamikanya. Pada Ramadan ini, kedai-kedai kopi di Yerusalem selalu ramai dengan warga yang menikmati malam yang kian semarak. Sejumlah festival juga digelar oleh warga muslim di Yerusalem saat bulan ini. Seperti di Indonesia, di sana ada juga budaya untuk menjamu tamu dalam buka puasa bersama di rumah atau di restoran-restoran muslim. Karena itu, pengalaman merasakan Ramadan di Yerusalem adalah pengalaman seumur hidup.
Kota Yerusalem merupakan kota suci bagi tiga agama langit, yakni Islam, Kristen, dan Yahudi. Kota ini diklaim sebagai ibu kota Israel, namun klaim ini tidak mendapat pengakuan internasional. Secara de facto, Israel menguasai kota ini, termasuk mengontrol seluruh manajemen, pengamanan, dan pemerintahannya. Meski warga muslim masih ada yang tinggal di Yerusalem, jumlahnya setiap hari semakin berkurang karena rumah mereka digusur oleh aparat Israel. Rezim zionis juga menggencarkan pembangunan perumahan Yahudi di Yerusalem.
Tujuannya tentu saja untuk mengubah demografi Yerusalem, dengan menambah jumlah penduduk Yahudi di kota itu. Dengan semakin banyaknya warga Yahudi di Yerusalem, Israel tampaknya ingin kota itu mayoritas penduduknya adalah Yahudi. Langkah ini sesuai klaim mereka yang menganggap Yerusalem sebagai ibu kota negaranya di masa depan yang tidak dapat dipecah-pecah.
Sementara di sisi lain, Palestina juga menganggap Yerusalem sebagai ibu kota masa depan. Isu Yerusalem merupakan salah satu ganjalan utama dalam perundingan damai antara Israel dan Palestina. Kedua pihak tidak ingin Yerusalem dibagi menjadi dua dan ingin menguasai kota itu sepenuhnya. Israel sebagai pihak yang memiliki dukungan Amerika Serikat (AS) masih mengontrol penuh kota Yerusalem hingga saat ini.
Otoritas Palestina yang berada di Tepi Barat juga tidak bisa berbuat banyak untuk mengontrol Yerusalem. Adapun Hamas di Jalur Gaza hingga saat ini masih menghadapi blokade Israel sehingga tetap terisolir dan tak bisa melakukan pembangunan.
Tidak ada yang tahu, sampai kapan perebutan kota Yerusalem antara Israel dan Palestina itu terus terjadi. Di tengah konflik dan kekerasan yang terus terjadi itulah, warga Palestina tetap merasakan kegembiraan Ramadan.
Kegembiraan warga Palestina di Yerusalem diwujudkan dalam bentuk berbagai lampu hias yang mereka pasang di depan rumah atau toko mereka. Jalanan di wilayah muslim pun marak dengan warna-warni lampu hias. "Saya memasang lampu hias ini untuk menyambut Ramadan,” ungkap seorang warga Palestina kepada AFP.
Semaraknya Ramadan di Yerusalem semakin terasa saat matahari mulai terbenam. Saat azan magrib berkumandang, sejumlah warga menikmati buka puasa di rumah, warung, ataupun di Masjid Al-Aqsa. Masjid yang pernah menjadi kiblat pertama umat Islam itu semakin padat dengan jamaah yang mengerjakan salat magrib, isya, dan disusul salat tarawih berjamaah. Puluhan ribu jamaah bahkan tercatat mengikuti salat Jumat pertama pada pekan lalu di Masjid Al-Aqsa. Saat itu ribuan polisi Israel dikerahkan di penjuru Yerusalem Timur untuk berjaga di sekitar masjid tersebut.
Menteri Keamanan Publik Israel Yitzhak Aharonovich, Komisioner Distrik Yerusalem Niso Shaham, dan Kepala Komisioner Yohanan Danino berkeliling kota tersebut untuk memantau situasi. Sejumlah pembatasan terhadap warga Palestina yang ingin masuk Kota Yerusalem memang telah dilonggarkan untuk pertama kali pada Ramadan ini. Padahal beberapa tahun sebelumnya, jumlah warga Palestina yang hendak ke Kota Yerusalem sangat dibatasi, dan dilakukan berdasarkan usia peziarah.
Saat ini pria Palestina berusia 40 tahun ke atas dan pria berusia 12 tahun ke bawah, serta semua perempuan Palestina dapat masuk Yerusalem dari Tepi Barat tanpa harus memiliki izin. Dahulu mereka yang hendak masuk ke Yerusalem harus memiliki izin dan diperiksa dengan ketat. Selain itu, umat Islam yang masuk ke Masjid Al-Aqsa juga tidak dibatasi. Kota Yerusalem memang menyajikan keanekaragaman budaya dan agama.
Penganut kristiani, muslim, dan Yahudi tinggal di kota itu dengan segala dinamikanya. Pada Ramadan ini, kedai-kedai kopi di Yerusalem selalu ramai dengan warga yang menikmati malam yang kian semarak. Sejumlah festival juga digelar oleh warga muslim di Yerusalem saat bulan ini. Seperti di Indonesia, di sana ada juga budaya untuk menjamu tamu dalam buka puasa bersama di rumah atau di restoran-restoran muslim. Karena itu, pengalaman merasakan Ramadan di Yerusalem adalah pengalaman seumur hidup.
Kota Yerusalem merupakan kota suci bagi tiga agama langit, yakni Islam, Kristen, dan Yahudi. Kota ini diklaim sebagai ibu kota Israel, namun klaim ini tidak mendapat pengakuan internasional. Secara de facto, Israel menguasai kota ini, termasuk mengontrol seluruh manajemen, pengamanan, dan pemerintahannya. Meski warga muslim masih ada yang tinggal di Yerusalem, jumlahnya setiap hari semakin berkurang karena rumah mereka digusur oleh aparat Israel. Rezim zionis juga menggencarkan pembangunan perumahan Yahudi di Yerusalem.
Tujuannya tentu saja untuk mengubah demografi Yerusalem, dengan menambah jumlah penduduk Yahudi di kota itu. Dengan semakin banyaknya warga Yahudi di Yerusalem, Israel tampaknya ingin kota itu mayoritas penduduknya adalah Yahudi. Langkah ini sesuai klaim mereka yang menganggap Yerusalem sebagai ibu kota negaranya di masa depan yang tidak dapat dipecah-pecah.
Sementara di sisi lain, Palestina juga menganggap Yerusalem sebagai ibu kota masa depan. Isu Yerusalem merupakan salah satu ganjalan utama dalam perundingan damai antara Israel dan Palestina. Kedua pihak tidak ingin Yerusalem dibagi menjadi dua dan ingin menguasai kota itu sepenuhnya. Israel sebagai pihak yang memiliki dukungan Amerika Serikat (AS) masih mengontrol penuh kota Yerusalem hingga saat ini.
Otoritas Palestina yang berada di Tepi Barat juga tidak bisa berbuat banyak untuk mengontrol Yerusalem. Adapun Hamas di Jalur Gaza hingga saat ini masih menghadapi blokade Israel sehingga tetap terisolir dan tak bisa melakukan pembangunan.
Tidak ada yang tahu, sampai kapan perebutan kota Yerusalem antara Israel dan Palestina itu terus terjadi. Di tengah konflik dan kekerasan yang terus terjadi itulah, warga Palestina tetap merasakan kegembiraan Ramadan.
(hyk)
Lihat Juga :