Malam-malam jadi lebih hidup saat Ramadan
Minggu, 29 Juli 2012 - 13:06 WIB
Malam-malam jadi lebih hidup saat Ramadan
A
A
A
SALAH satu kesalahpahaman terbesar bagi wisatawan asing di Tunisia, yakni bulan Ramadan dianggap tidak nyaman. Ada juga yang beranggapan sebaiknya jangan berlibur saat Ramadan. Padahal sebaliknya.
Di Tunisia, Ramadan menjadi bulan terbaik yang mirip dengan negara-negara Barat saat menjelang Natal. Mengapa? Karena Ramadan merupakan waktu paling dinantikan banyak warga Tunisia. Tak heran, saat Ramadan, negara tujuan wisata ini berubah menjadi begitu hidup dan seolah tak pernah terhenti beraktivitas. Di Tunisia, Ramadan lebih dari sekadar bulan suci. Ramadan adalah seperangkat tradisi, kebiasaan dan perayaan yang terus diulang setiap tahun di keluarga-keluarga Tunisia.
Menurut laporan www.nomarmiteintunisia.co.uk, pesta yang meriah, kumpul dengan keluarga pada malam hari, dan malam tak berujung bersama teman-teman, menjadi salah satu tradisi sepanjang Ramadan. Singkatnya, malam-malam Ramadan seakan mengandung suasana magis yang mampu mengumpulkan kebersamaan keluarga atau persahabatan. Bulan puasa ini, keluarga-keluarga di Tunisia melakukan banyak aktivitas baru yang tidak dilakukan di bulan biasa. Dalam soal belanja, keluarga Tunisia tidak pilih-pilih.
Mereka bisa makan salad, pasta, beragam makanan penutup, dan pastinya tidak ada satu pun jenis makanan yang tak disajikan. Kue, biskuit, Turkish Delight, dan makanan buatan rumah yang terkenal di Tunisia, serta jus lemon segar, dapat ditemukan di antara makanan-makanan yang banyak dijual di pasar saat Ramadan. Saat sahur, keluarga-keluarga di Tunisia memiliki makanan favorit, yakni Al Masfouf. Ini adalah jenis makanan yang lezat. Apa yang membuatnya begitu lezat?
Makanan ini terbuat dari daging yang segar, buncis dan paprika, susu panas, mentega, gula, ditambah kismis dan kacang atau kurma. Al Masfouf dianggap makanan penting bagi kesehatan, karena mengandung bahan makanan yang menghasilkan pembakaran gula yang lambat dan membantu tubuh tetap fit sepanjang hari. Kemudian saat berbuka puasa, warga Tunisia mengumpulkan makanan di satu meja penuh.
Menurut www.tunisia-live.net, salah satu tradisi yang paling penting selama Ramadan, yakni orang-orang berkumpul di jalan-jalan sebelum berbuka puasa untuk membeli tabouna, roti tradisional yang paling banyak diminati selama bulan suci. Tabouna melengkapi sajian kurma yang banyak dikonsumsi sebagai menu buka puasa. Untuk hidangan utamanya, ada semacam pasta, lalu briks dan chorba.
Sementara itu, kafe-kafe dan restoran yang tutup di siang hari, kembali buka pada malam hari dengan suasana yang penuh kesibukan, hidup dan menyenangkan. Satu hal yang unik di sana. Bagi warga Tunisia, bulan puasa tidak berarti tanpa menonton acara televisi spesial Ramadan yang kalau di Indonesia seperti sinetron bersambung.
Acara sinetron itu ditonton sebagian besar warga. Yang terbaru berjudul TUNIS 2050. Sinetron bersambung ini dibuat dengan format 3D. Sinetron humor ini mengisahkan kehidupan warga Tunisia pada 2050 dengan segala pernak-perniknya.
Di Tunisia, Ramadan menjadi bulan terbaik yang mirip dengan negara-negara Barat saat menjelang Natal. Mengapa? Karena Ramadan merupakan waktu paling dinantikan banyak warga Tunisia. Tak heran, saat Ramadan, negara tujuan wisata ini berubah menjadi begitu hidup dan seolah tak pernah terhenti beraktivitas. Di Tunisia, Ramadan lebih dari sekadar bulan suci. Ramadan adalah seperangkat tradisi, kebiasaan dan perayaan yang terus diulang setiap tahun di keluarga-keluarga Tunisia.
Menurut laporan www.nomarmiteintunisia.co.uk, pesta yang meriah, kumpul dengan keluarga pada malam hari, dan malam tak berujung bersama teman-teman, menjadi salah satu tradisi sepanjang Ramadan. Singkatnya, malam-malam Ramadan seakan mengandung suasana magis yang mampu mengumpulkan kebersamaan keluarga atau persahabatan. Bulan puasa ini, keluarga-keluarga di Tunisia melakukan banyak aktivitas baru yang tidak dilakukan di bulan biasa. Dalam soal belanja, keluarga Tunisia tidak pilih-pilih.
Mereka bisa makan salad, pasta, beragam makanan penutup, dan pastinya tidak ada satu pun jenis makanan yang tak disajikan. Kue, biskuit, Turkish Delight, dan makanan buatan rumah yang terkenal di Tunisia, serta jus lemon segar, dapat ditemukan di antara makanan-makanan yang banyak dijual di pasar saat Ramadan. Saat sahur, keluarga-keluarga di Tunisia memiliki makanan favorit, yakni Al Masfouf. Ini adalah jenis makanan yang lezat. Apa yang membuatnya begitu lezat?
Makanan ini terbuat dari daging yang segar, buncis dan paprika, susu panas, mentega, gula, ditambah kismis dan kacang atau kurma. Al Masfouf dianggap makanan penting bagi kesehatan, karena mengandung bahan makanan yang menghasilkan pembakaran gula yang lambat dan membantu tubuh tetap fit sepanjang hari. Kemudian saat berbuka puasa, warga Tunisia mengumpulkan makanan di satu meja penuh.
Menurut www.tunisia-live.net, salah satu tradisi yang paling penting selama Ramadan, yakni orang-orang berkumpul di jalan-jalan sebelum berbuka puasa untuk membeli tabouna, roti tradisional yang paling banyak diminati selama bulan suci. Tabouna melengkapi sajian kurma yang banyak dikonsumsi sebagai menu buka puasa. Untuk hidangan utamanya, ada semacam pasta, lalu briks dan chorba.
Sementara itu, kafe-kafe dan restoran yang tutup di siang hari, kembali buka pada malam hari dengan suasana yang penuh kesibukan, hidup dan menyenangkan. Satu hal yang unik di sana. Bagi warga Tunisia, bulan puasa tidak berarti tanpa menonton acara televisi spesial Ramadan yang kalau di Indonesia seperti sinetron bersambung.
Acara sinetron itu ditonton sebagian besar warga. Yang terbaru berjudul TUNIS 2050. Sinetron bersambung ini dibuat dengan format 3D. Sinetron humor ini mengisahkan kehidupan warga Tunisia pada 2050 dengan segala pernak-perniknya.
(hyk)
Lihat Juga :