Kota Bandar Seri Begawan
Kepiting jadi sajian khas Ramadan
Rabu, 01 Agustus 2012 - 11:08 WIB
Kepiting jadi sajian khas Ramadan
A
A
A
RAMADAN selalu memberikan keistimewaan bagi setiap orang di setiap kota di penjuru dunia. Selain diisi dengan peningkatan ibadah, Ramadan di Kota Bandar Seri Begawan, Brunei, identik dengan menu makanan berbahan kepiting.
Berbagai kedai makanan di kota kesultanan itu menjual beragam menu. Mereka saling berebut konsumen dengan memberikan daya tarik yang berbeda. Makanan populer seperti ayam, daging, dan ikan dapat dibeli dengan nasi atau mi. Tidak hanya itu, makanan pencuci mulut, camilan, dan beragam minuman seperti jus kelapa, perasan tebu, kue dapat dijumpai di sepanjang jalan.
”Namun yang pasti, ada di pasar makanan ialah banyaknya kepiting yang dijajakan untuk umat Islam yang mempersiapkan makanan berbuka puasa. Memang, menu yang satu ini tergolong unik sebagai sajian berbuka puasa,” ungkap laporan The Borneo Post.
Jika bukan Ramadan, jarang sekali ditemui penjual kepiting yang membuka lapak pada malam hari. Bahkan, penjual kepiting juga masih terlihat menjelang salat magrib, saatnya berbuka puasa.
”Setiap tahun keluarga tertentu biasanya menjual kepiting rebus dan pada harihari awal Ramadan, banyak sekali pembeli yang berebut untuk membeli makanan lezat ini. Dalam upaya menarik pembeli, keluarga yang membuka satu warung makanan di dekat parkir Stadium Negara Hassanal Bolkiah menambahkan menu udang dan cumi-cumi,” papar laporan Borneo Bulletin. Warung makan ini sangat terkenal, terutama bagi para penggemar dan pelanggannya.
Para pelanggan rela antre untuk membeli tiga bungkus kepiting rebus untuk berbuka puasa bersama keluarganya. Menurut pelanggannya, warung itu merupakan yang terlezat dalam memasak kepiting. ”Saya mendengar ada warung yang menjual kepiting di pasar stadium. Warung ini katanya sangat terkenal dan saya datang dari Temburong hanya untuk membelinya,” ungkap Nur’ain Abdul Rahman, pembeli di warung kepiting itu.
Di Brunei, iftar biasanya disebut dengan kata ”sungkai”. Umumnya, sungkai dilakukan di masjid bagi mereka yang akan menunaikan salat magrib. Di masjid, sungkai disediakan oleh pemerintah Brunei dan penduduk setempat. Sebelum buka puasa, beduk akan dipukul beberapa kali sebagai tanda dimulainya sungkai. Di ibu kota Brunei Darussalam, Bandar Seri Begawan, meriam ditembakkan beberapa kali di distrik pusat bisnis sebagai tanda sungkai.
Buka puasa di negara itu merupakan saat yang paling dinanti-nanti seluruh umat Islam. Umat Islam di Brunei juga menggelar buka puasa bersama di berbagai restoran dengan membawa seluruh keluarga. Sering kali sungkai menjadi ajang mempererat hubungan bisnis di sebuah perusahaan atau antarpegawai perusahaan.
Selama bulan Ramadan pula, setiap distrik akan menggelar ”tamu” atau kedai Ramadan yang menjual berbagai hidangan khas daerah untuk berbuka puasa. Menu dan jenis makanan itu merupakan ciri khas yang dijual hanya saat Ramadan. Semua keunikan itu hanya hadir pada bulan suci Ramadan, membuat ibadah puasa umat Islam di Brunei kian berwarna.
Berbagai kedai makanan di kota kesultanan itu menjual beragam menu. Mereka saling berebut konsumen dengan memberikan daya tarik yang berbeda. Makanan populer seperti ayam, daging, dan ikan dapat dibeli dengan nasi atau mi. Tidak hanya itu, makanan pencuci mulut, camilan, dan beragam minuman seperti jus kelapa, perasan tebu, kue dapat dijumpai di sepanjang jalan.
”Namun yang pasti, ada di pasar makanan ialah banyaknya kepiting yang dijajakan untuk umat Islam yang mempersiapkan makanan berbuka puasa. Memang, menu yang satu ini tergolong unik sebagai sajian berbuka puasa,” ungkap laporan The Borneo Post.
Jika bukan Ramadan, jarang sekali ditemui penjual kepiting yang membuka lapak pada malam hari. Bahkan, penjual kepiting juga masih terlihat menjelang salat magrib, saatnya berbuka puasa.
”Setiap tahun keluarga tertentu biasanya menjual kepiting rebus dan pada harihari awal Ramadan, banyak sekali pembeli yang berebut untuk membeli makanan lezat ini. Dalam upaya menarik pembeli, keluarga yang membuka satu warung makanan di dekat parkir Stadium Negara Hassanal Bolkiah menambahkan menu udang dan cumi-cumi,” papar laporan Borneo Bulletin. Warung makan ini sangat terkenal, terutama bagi para penggemar dan pelanggannya.
Para pelanggan rela antre untuk membeli tiga bungkus kepiting rebus untuk berbuka puasa bersama keluarganya. Menurut pelanggannya, warung itu merupakan yang terlezat dalam memasak kepiting. ”Saya mendengar ada warung yang menjual kepiting di pasar stadium. Warung ini katanya sangat terkenal dan saya datang dari Temburong hanya untuk membelinya,” ungkap Nur’ain Abdul Rahman, pembeli di warung kepiting itu.
Di Brunei, iftar biasanya disebut dengan kata ”sungkai”. Umumnya, sungkai dilakukan di masjid bagi mereka yang akan menunaikan salat magrib. Di masjid, sungkai disediakan oleh pemerintah Brunei dan penduduk setempat. Sebelum buka puasa, beduk akan dipukul beberapa kali sebagai tanda dimulainya sungkai. Di ibu kota Brunei Darussalam, Bandar Seri Begawan, meriam ditembakkan beberapa kali di distrik pusat bisnis sebagai tanda sungkai.
Buka puasa di negara itu merupakan saat yang paling dinanti-nanti seluruh umat Islam. Umat Islam di Brunei juga menggelar buka puasa bersama di berbagai restoran dengan membawa seluruh keluarga. Sering kali sungkai menjadi ajang mempererat hubungan bisnis di sebuah perusahaan atau antarpegawai perusahaan.
Selama bulan Ramadan pula, setiap distrik akan menggelar ”tamu” atau kedai Ramadan yang menjual berbagai hidangan khas daerah untuk berbuka puasa. Menu dan jenis makanan itu merupakan ciri khas yang dijual hanya saat Ramadan. Semua keunikan itu hanya hadir pada bulan suci Ramadan, membuat ibadah puasa umat Islam di Brunei kian berwarna.
(hyk)
Lihat Juga :